Muchtar Luthfi Mutty: Saya Tidak Mau Ada Pembisik!

oleh

OPINI –Pemimpin memang harus punya pembantu. Boleh disebut staf. Karena secerdas apapun dia, sekuat apapun dia, pasti tetap memilik banyak keterbatasan.

Namun demikian, seorang pemimpin harus memiliki prinsip dan rasa percaya diri bertindak untuk dan atas nama diri sendiri. Ini penting dipahami. Karena pemimpin itu adalah penanggung jawab dari sebuah organisasi. Dan teori organisasi mengajarkan bhw salah satu prinsip organisasi adalah, kewenangan dapat didelegasikan tapi tanggung jawab tidak.

Pemahaman dasar seperti itu yg selalu menjadi acuan saya jika diberi amanah memimpin sebuah organisasi.

Desember 2004 masa jabatan saya sebagai bupati Lutra akan berakhir.

Dua tahun sebelum berakhir, isu suksesi mulai dibicarakan. Terkait hal itu, satu dua orang menyampaikan kepada saya agar mewaspadai gerakan salah seorang kepala dinas.

Anak buah saya tentunya. Seiring berjalannya waktu, semakin bertambah orang yang mengingatkan saya. Bahkan tidak sedikit yang memberikan saran ektrim. “Ganti kadis itu”.

Apa yang dilakukan oleh Si Kadis itu? Dia membentuk berbagai organisasi dan dia yang jadi ketuanya.

Mulai organisasi olah raga hingga organisasi kedaerahan. Melakukan berbagai kegiatan pertandingan olah raga yang hadiahnya dia siapkan. Bagi yang belajar teori motivasi, pasti paham bahwa selalu ada motif dan tujuan di balik suatu tindakan.

Bagi saya, tindakan Si Kadis tidak ada yang salah. Meskipun saya tahu sepenuhnya bahwa motif dari tindakannya itu adalah menggalang kekuatan yang tujuannya mau ikut pilkada. Artinya akan melawan saya.

Baca Juga: Mereka Bicara “Hamzah Jalante”

Tapi apakah dengan alasan itu saya harus memberhentikan si kadis? Jika itu saya lakukan, maka sejatinya saya bukan pemimpin. Saya pecundang. Krn pemimpin itu harus siap berkompetisi secara terbuka dgn siapa saja. Termasuk dgn orang yg diberinya kedudukan dan kehormatan.

Maka kepada mereka yg datang mengingatkan bahkan mengusulkan utk memberhentikan si kadis, saya katakan, saya akan tetap mempertahan orang itu pada jabatannya. Sebagai bupati pertama di daerah ini, saya mau memberi contoh bagaimana seorang pemimpin harus siap berkompetisi dgn siapa saja. Selain kadis itu, masih ada yang lain yang saya tahu tdk mendukung saya.

Ada beberapa orang. Tapi tidak satu pun dari mereka yang tidak mendukung itu, saya berhentikan selama proses menuju Pilkada. Perlu diingat, Luwu Utara adalah kabupaten baru.

Ibarat rumah baru, seluruh kursi saya siapkan. Kemudian sayalah yang menunjuk orang untuk duduk di kursi itu. Tapi tidak boleh karena alasan itu, lantas saya harus memberhentikan mereka dengan seenaknya.

Ini pelajaran penting yg saya coba berikan kepada staf. Jangan gunakan jabatanmu seperti milik pribadi. Meski bagi banyak orang, tindakan saya itu sangat naif. Pendeknya, tidak boleh karena alasan membangun kekuatan lantas seseorang harus diberhentikan. Pelajaran penting lain adalah, saya tidak mau budaya pembisik tumbuh di Lutra. Karena itu akan menyuburkan intrik dan perilaku menjilat.

Wallahu ‘alam…

*) Penulis: Muchtar Luthfi A. Mutty (Opu LAM), mantan Bupati Luwu Utara, Anggota DPR RI

DCS DPRD KOTA PALOPO