Mundur Terhormat, Hamzah Jalante Difitnah Sedang Membangun Kekuatan? (Blak-blakan dengan Kepala BPKAD Palopo, Part 3 – Habis)

oleh

SUARATA  |  Masih beristirahat di kediamannya, selepas pulang dari kota Makassar, Rabu 30 Januari 2019, telinga Hamzah Jalante, Kepala BPKAD Palopo mendadak merah merona mendengar kabar tak sedap. Ia baru saja menerima laporan lewat telepon dari anak buahnya.

Pagi yang cerah itu, seharusnya ia memimpin Apel di lingkup kantornya yang cukup megah di bilangan Jenderal Sudirman, Palopo. Namun, tanpa pemberitahuan dan mappatabe (minta izin), Farid Kasim Judas (FKJ) putra walikota Palopo HM Judas Amir yang juga Kepala BKPSDM tiba-tiba nyelonong memimpin Apel dan memberi instruksi serta melontarkan kalimat bernada kurang elok di hadapan peserta Apel pagi.

Konon, saat Apel, FKJ di depan staf BPKAD menilai, bahwa OPD yang dipimpin Hamzah Jalante itu mengalami penurunan kinerja dari sisi serapan anggaran yang tidak kunjung cair di 2018. Bukan hanya itu, ada anak kalimat yang kurang elok yang sempat terlontar, sehingga membuat ubun-ubun Kepala BPKAD Palopo itu seolah dihantam palu godam.

Tanpa pikir panjang, Hamzah Jalante, yang selama ini merasa OPD-nya fine-fine saja merasa terusik. Di beberapa grup WhatsApp Pemkot Palopo ia langsung angkat kaki alias logout.

Kemarahannya sedang memuncak. Sebagai Kepala OPD yang sudah berhasil membawa penghargaan WTP di Pemkot Palopo, ia merasa sama sekali tidak dihargai. Terlebih setelah ia menyampaikan langsung surat pengunduran dirinya ke Walikota Palopo, HM Judas Amir, respon orang nomor satu itu datar-datar saja. Karena berlagak pilon, Hamzah Jalante pun semakin yakin, jika ia sebenarnya sudah tak dikehendaki di lingkaran JA.

Ia pun semakin ngegas untuk segera angkat kopor dari BPKAD.yang telah 5 tahun lebih ia duduki. Sebagai ASN yang tercatat dan terdaftar di Kemendagri, Hamzah Jalante memang bukan pejabat ecek-ecek. Pejabat Pembina Utama Muda dengan pangkat golongan IV/C sudah lama ia sandang, sejak 1 April 2009. Ia bukan pejabat karbitan hanya karena faktor Family atau hasil mengemis kepada kekuasaan. Ia memulai kariernya dari bawah.

Lulusan terbaik IIP 1993 itu merasa jerih payahnya menjadikan penilaian keuangan Pemkot Palopo dari Disclaimer menjadi WDP (2014) dan kemudian WTP 3 kali berturut–turut sama sekali tak dihargai.

Alhasil, Kamis 31 Januari 2019, langit kota Palopo yang rada temaram, saat Hamzah Jalante menulis secarik surat pengunduran diri, tak lupa ia membubuhkan beberapa lampiran-lampiran, termasuk surat persetujuan penugasan oleh Kemendagri saat ia dipinjamkan dulu dari lingkup asalnya sebelum dipinang HM Judas Amir sebagai pejabat teras di Pemkot Palopo dan dilantik 25 November 2013 silam.

Lantas, bagaimana reaksi kawan-kawan dan teman seperjuangan Hamzah Jalante mendengar berita ini? Benarkah Hamzah Jalante “dicurigai” sedang membangun kekuatan politik untuk kepentingan 2024?

Rumor lain menyebutkan, ada aroma persaingan politik di Senayan antara Luthfi Andi Mutty versus Rusdi Masse (RMS) yang turut mewarnai polemik mundurnya HJ, betulkah kabar miring ini?

Untuk itulah, Suarata.com secara exclusive berhasil mewawancarai Hamzah Jalante, mantan Camat Nuha yang menyunting Subiati La Boke istri tercintanya dengan pernihakan sederhana di tahun 1997 silam. Berikut kutipannya:

Baca Juga: Exclusive: Hamzah Jalante Bicara Blak-blakan Soal Pengunduran Dirinya, Ada Apa? (Part 1) 

Baca Juga: Exclusive: Hamzah Jalante Bicara Blak-blakan Soal Pengunduran Dirinya, Ada Apa? (Part 2) 

Suarata.com: Selentingan isu beredar bahwa kawan-kawan anda marah mendengar informasi-informasi miring seputar pengunduran diri anda, ada bahkan yang malah ingin mengajak demo, sampai-sampai ada yang bahkan nekad mengasah golok, benarkah?

Hamzah Jalante (HJ): Tidak se-ekstrim itu, tapi memang ada teman-teman alumni – tak perlu saya sebut namanya maupun organisasinya – ada yang geram, mengutuk, mengumpat, tetapi saya ingatkan dan saya cegah, jangan lakukan hal-hal yang merusak suasana kondusif di kota Palopo, saya kembali ke tempat asal (IPDN) itu juga suatu tugas mulia, tak ada masalah, sudah saya maafkan mereka yang menyakiti saya, lewat kesempatan ini juga saya mengajak semua saudara-saudaraku untuk selalu tenang dan berpikir jernih, soal rezeki sudah diatur sama Tuhan, saya tak ingin mengambil yang bukan hak saya, jika memang Tuhan sudah berkehendak, harta dan tahta itu milikNYA, kepada Allah SWT kita kembalikan semuanya kelak…. (matanya mulai berkaca-kaca).

Suarata.com: Rumor lain menyebutkan anda memiliki massa yang besar, anda sukses membuat ribuan orang datang saat Reuni Akbar Smansa Palopo 2017 lalu tanpa sepeser pun uang APBD. Ada yang gerah, takut dan menebar fitnah “Hamzah Jalante sedang membangun kekuatan politik 2024” Apa komentar anda? Atau Jangan-jangan isu itu betul? Hahaha

HJ: Astagfirullah. Reuni Akbar Smansa itu 2017. Pilkada Palopo 2018. Kenapa bukan di 2018 saja saya maju (Calon Walikota) jika memang ingin menantang Pak Judas? Lagipula saya sudah khatam soal Pilkada. Bagi saya saat ini, lebih baik mengejar yang pasti daripada yang tak pasti. Hanya capek buang-buang energi, materi dan lain sebagainya tetapi tak pasti.

Ket. Foto: Hari Liburpun Hamzah Jalante tetap masuk kerja untuk menyelesaikan sisa pekerjaan sebelum angkat kopor dari BPKAD Palopo. (Dok: Pribadi)

Suarata.com: Isu lain kabarnya ada tekanan politis, kiblat anda di Luthfi Andi Mutty sedangkan Pak Judas dan FKJ di Rusdi Masse, ada gesekan dan intrik politik, benarkah salah satu penyebab mundurnya HJ itu karena ‘barang’ ini?

HJ: Hahaha, 1000% ngawur, Opu LAM itu guru dan mentor saya, ilmunya dan aplikasi dari sistem Good Goverment itu ada sama beliau, hubungan saya secara emosional sudah tentu lebih dekat dengan Opu LAM, karena saya banyak belajar dan mengagumi beliau, saya tak bisa membantah itu, itu fakta.

Suarata.com: Oke, kembali ke soal pengunduran diri, dapat dipastikan anda sudah mundur, dan sebelum pamit, tentu ada pihak yang tepuk tangan, ada juga yang menangis sedih. Apa yang ingin anda katakan?

HJ: Untuk yang tepuk tangan maupun yang menangis sedih, saya tak ingin kita terbelah pada dua kubu, dan memang tak perlu ada kubu ini, kubu itu. Tetaplah menjadi ASN yang bekerja profesional, pertanggungjawabkan tugas dan kewajibanmu sebelum menuntut hak, negara sudah memberi banyak pada kita, gunakan dan ambillah itu sesuai aturan yang berlaku, dahulukan kewajiban baru menuntut hak, jangan langgar aturan apalagi sampai makan haknya orang jika tak ingin masuk penjara!

Suarata.com: Super sekali! Tetapi, ini jika kita berandai-andai, seandainya anda dipinang Bupati lain atau Walikota lain untuk kembali mengelola keuangan daerah mereka, anda masih bersedia???

HJ: Tak ada yang tak mungkin, who knows? Kalau pun toh ada, saya mungkin akan lebih selektif dan lebih ketat, harus ada surat pakta integritas, saya siap mengabdi dimana saja, sesuai sumpah saya sebagai Aparatur Sipil Negara.

Suarata.com: Bertugas secara fisik (langsung) di Tana Luwu sudah semuanya, kecuali di Kabupaten Luwu pasca pemekaran, nah Bupatinya kan sudah mau dilantik tuh, anda berminat jika misalnya diminta membantu Basmin Mattayang-Syukur Bijak?

HJ: Betul. Saya sudah pernah bertugas di wilayah Luwu Timur, Luwu Utara dan Palopo baik sebelum pemekaran maupun sesudah pemekaran, semuanya sudah saya jalani. Kecuali Luwu setelah pemekaran memang belum. Tapi saya belum tahu, belum ada bayangan ke sana, ibarat prajurit, kita harus siap dimanapun negara menempatkan kita, dinda.

Suarata.com: Tetapi kok saya melihatnya anda ibarat pemain bola, striker haus gol lagi, sayangnya, dengan status pinjaman akan kembali ke klub asal, ini harusnya harga transfer anda mahal sekali karena masih produktif

HJ: Ya mungkin begitu, Real Madrid terpaksa kehilangan Ronaldo, tetapi kompetisi masih harus tetap berjalan, bukan? hahaha (sambil tertawa).

– Selesai –

(Ist/*)

Baca Juga: Mereka Bicara “Hamzah Jalante”

jual beli online al-store

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *