VIDEO: Jenasah Ditandu 40 Km di Rampi Luwu Utara, Pak Jokowi Mohon Bantu Kami Rakyat Pedalaman!!!

oleh

SUARATA  |  Setelah kurang lebih dua minggu menjalani perawatan di RS. Andi Djemma Masamba, Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulsel, Renti Tanta, atau yang akrab disapa dengan Mama Dewi menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit tersebut, Kamis 7 Februari 2019, pukul 11:30 Wita. Almarhumah menghembuskan nafas terakhirnya di ruangan melati kamar nomor dua, kelas dua.

Sebelumnya, almarhumah tengah menjalani perawatan selama tiga hari di Puskesmas Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel.

Namun apalah daya, sarana dan prasarana fasilitas yang terbatas mengharuskan pihak tenaga medis membuat surat rujukan untuk perawatan lebih intensif. Sehingga akhirnya, pada 30 Januari, Mama Dewi langsung diberangkatkan melalui pesawat dan sesampainya di Masamba ibukota Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, langsung dilarikan ke Rumah Sakit setempat, dimana akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Untuk diketahui, jarak antara Kec. Rampi-Masamba, kurang lebih 90 KM, dan akses infrastruktur jalan darat sangat sulit untuk dilalui. Adapun akses penunjang yang cepat ialah jalur udara dalam hal ini pesawat.

Hanya saja ongkos pesawat ini yang masih dirasa berat dan sulit bagi kebanyakan warga Rampi. Karena tidak ada akses lain yang sedikit memudahkan, maka pilihan satu-satunya ya via udara (pesawat) ketika pasien di Rampi mendapat rujukan untuk pengobatan dan perawatan lebih lanjut.

Selanjutnya, keluarga Mama Dewi berembug dan bersepakat untuk membawa almarhumah Mama Dewi alias Renti Tanta ke Rampi untuk dimakamkan disana lewat jalur Sulawesi Tengah (Masamba-Pendolo-Tentena-Bada).

Sesampainya di Bada, almarhumah pun ditandu menuju Rampi sebab akses tidak bisa lagi dilalui kendaraan roda empat,” ungkap Ketua Umum IPMR dengan rada prihatin.

Jenazah almarhumah, akhirnya diberangkatkan keluarga Jumat kemarin (8/2) pukul 18:30 Wita.

Atas peristiwa tersebut, Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Rampi (IPMR) mengungkapkan rasa prihatin dan turut berdukacita atas peristiwa duka yang dialami keluarga almarhumah, dan juga kesal terhadap pemerintah secara Pemda Luwu Utara yang hingga hari ini belum mampu membuka akses jalan Masamba-Rampi.

Kami atas nama Keluarga Besar PB IPMR mengucapkan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya almarhumaH Ibu Renti Tanta (Mama Dewi). Harapan kami keluarga tetap kuat dan tabah.

Selanjutnya, kami juga kesal terhadap Pemda Luwu Utara. Pasalnya, hingga hari ini belum mampu mewujudkan cita-cita untuk membuka akses jalan Masamba-Rampi. Jadinya begini. Kasihan masyarakat Rampi harus membawa jenazah dengan berjalan kaki melewati hutan hingga puluhan Kilometer.

Peristiwa ini bukan hanya baru kali ini akan tetapi sudah banyak kali terjadi peristiwa ini menimpa keluarga atau masyarakat dari Rampi.

Kami sangat menyayangkan peristiwa yang dialami keluarga kami dari Rampi. Di rujuk saja kami sangat prihatin, sebab kami pahami kondisi keluarga kami di Rampi. Ketika sampai ajal (meninggal dunia) di rumah sakit, maka kondisinya sangat memprihatinkan sekali.

Sebab untuk membawa jenazah menuju Rampi tidaklah mudah. Kita tahu akses jalan sangat sulit. Sementara pesawat sendiri butuh biaya atau ongkos hingga puluhan juta rupiah. Lantas dimana mau dapat uang sebanyak itu?

Sehingga tidak ada pilihan lain yang dianggap “ringan” selain harus lewat jalur darat, memutar ke Provinsi Sulawesi Tengah.

Sesampainya di Bada Kab. Lore, jenazah masih harus dipikul/ditandu lagi lewat darat yang melewati hutan, bukit dan lembah sejauh 40 Km menuju Kecamatan Rampi, karena akses jalan belum bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat.

Betapa disayangkan. Sampai kapan kemudian masyarakat Rampi harus menderita seperti ini?

Bukan kita ingin minta-minta (mengemis) apabila setiap saat ada keluarga mengalami hal serupa, mestikah harus terus menerus dipikul nantinya?

Harusnya pemerintah jeli melihat situasi dan masalah yang dirasakan masyarakatnya. Lalu dicarikan solusinya. Wahai Bapak Presiden Jokowi mohon baca berita ini dan bantu kami warga Kecamatan Rampi. Kondisi kami amat sangat memprihatinkan, pak!

Hari ini, muncul pertanyaan besar bagi kita, secara khusus masyarakat Rampi. Pembangunan Bandara kian diperlebar dan diperpanjang. Akan tetapi untuk mengakses pesawat saja sangat sulit. Ada apa yah? Lalu ketika kita meneriakkan hal itu, kita malah dibungkam dan dipersulit.

Bukan hanya itu. Akses jalan yang didengung-dengungkan pemerintah sampai hari ini belum mampu ditembuskan, kami kecewa. Kami juga bagian dari NKRI. Kami tak minta merdeka. Kami hanya ingin keadilan dari kue pembangunan!

Bayangkan, puluhan juta uang terkumpul barulah jenazah bisa diterbangkan. Itulah kondisi riil warga Rampi hari ini.

Sudah puluhan tahun NKRI ini terbebas dari penjajahan, tapi rupanya kita tidak menikmati hasilnya. Lihat saja kita cenderung dipersulit dalam mengakses tiket pesawat itu. Faktanya, untuk biaya atau ongkos pesawat apabila ada yang meninggal dapat sampai puluhan juta rupiah.

Terbukti alm. Bpk Mesak Wungko yang meninggal tahun 2017 silam. Dimana setelah dilakukan komunikasi banyak dalil untuk tidak menerima Jenazah. Terkecuali mampu membayar uang tunai Rp50 Juta.

Pantaslah hari ini kita mendesak pemerintah secara khusus Pemerintah Daerah, Provinsi hingga Pusat. Sebab, peristiwa serupa telah banyak kali dirasakan masyarakat Kecamatan Rampi.

Adapun data yang kami himpun, telah lebih 10 orang warga Kec. Rampi yang mengalami peristiwa serupa.

Bahwa ini harus menjadi catatan besar bagi pemerintah. Sebab sudah berkali-kali kita pikul jenazah melewati hutan belantara. Ketika memiliki keseriusan untuk meningkatkan mutu dan pelayanan kesehatan yang lebih baik, harusnya perlu perhatian khusus untuk bagaimana meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan di Puskesmas Kec. Rampi.

Untuk diketahui, bahwa almarhumah meninggal diduga kuat karena keracunan obat yang dikonsumsinya namun telah kadarluasa. Sehingga kami mengingatkan kepada pihak terkait agar kiranya lebih waspada dan berhati-hati serta mendeteksi setiap peredaran obat yang masuk ke daerah pelosok ini.

Untuk diketahui pula, Almarhumah hari ini sementara dalam perjalanan. Tadi pagi (Sabtu 9/2) pukul 06:00 Wita, keluarga telah membawa jenazahnya dari Desa Badangkai Kec. Lore. Kab. Poso menuju Rampi dengan berjalan kaki menembus hutan belantara.

Hingga berita ini anda baca, mungkin almarhumah masih sementara dalam perjalanan menuju Rampi, ditandu dan digotong secara bergantian menyusuri hutan, bukit dan lembah, sebelum akhirnya dimakamkan di tanah kelahirannya dan menemui Sang Khalik.

Laporan: Warga (keluarga korban) Bangsi Bati / Pengurus PB IPMR

Editor: Iccank Razcal

Disadur dari Media Duta Online

DCS DPRD KOTA PALOPO