08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur. Apa yang memenuhi hati dan rasa kita, akan menjadi doa-doa yang tidak terlihat dan kasat mata. Hati yang dipenuhi rasa syukur penuh dengan energi positif atas kehidupan yang telah diterima dan yang akan dijalani. Hati yang penuh rasa syukur, berfokus untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal yang belum didapatkan menuju hal-hal yang sudah diterima dan kebaikan-kebaikan yang sudah didapatkan.

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat dan Logikanya

Orang yang senantiasa memenuhi rasa dan hatinya dengan bersyukur, berarti dia sedang mengunci setiap hal dan kebaikan yang sudah diterima. Energi yang dipancarkan oleh pikiran dan hatinya masuk ke setiap benda-benda dan setiap hal yang sudah dia terima. Energi itu menguncinya tetap ada. Membuat setiap nikmat yang sudah diterima menjadi semakin awet dan berkah adanya.

Logika yang mungkin akan jarang diterima oleh setiap orang adalah bahwa benda-benda yang ada di sekitar merespon kita sebagaimana kita meresponnya. Ketika seseorang beranggapan bahwa apa yang ada di sampingnya tidak meresponnya, maka benda-benda itu pun tidak akan merespon kepadanya dengan cara yang baik.

Untuk menjelaskan logika yang mungkin jarang diterima di atas kita akan mencoba melihat beberapa hal yang mungkin terjadi dan sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat Sisi Positifnya

Seseorang yang memiliki HP dengan harga dua juta mungkin akan berpikir bahwa HPnya masih kurang bagus ketimbang HP dengan harga 5 juta. Orang yang bersyukur tidak akan mempermasalahkan kondisi HPnya yang masih dalam level harga dua juta. Bahkan dia justru bersyukur, HPnya sudah cukup bagus dan bisa digunakan untuk keperluan keperluan nya. Rasa syukurnya akan memotivasinya untuk menggunakan HP yang dia miliki untuk diaplikasikan pada hal-hal yang baik atau memaksimalkan penggunaaanya unutuk berbisnis dan usaha.

Sementara bagi orang yang kurang bersyukur, seringnya dia akan menganggap hp-nya kurang bagus, kurang cepat kinerjanya dan sebagainya. Walhasil Ketika pikiran dan persepsinya mengunci HP itu pada level kurang bagus dan cepat kinerja nya, maka pikirannya akan mendapatkan hal-hal kecil yang menjadikan pikiran membuktikan kekurangan HP tersebut. Inilah cara mengikat nikmat dengan bersyukur yang sebenarnya bisa memaksimalkan apa yang sudah kita miliki.

Pikiran Yang Cepat Membuktikan

Canggihnya pikiran manusia, membuatnya dengan cepat menemukan dan mendapatkan hal-hal yang membuatnya tidak bisa bersyukur atas keberadaan HPnya. Pikirannya dengan cepat menemukan alasan mengapa tidak suka. Pikirannya pun dengan cepat bisa mendapatkan alasan mengeluh dan seterusnya.

Pandang Ke Bawah

Dalam salah satu hadis rasulullah mengajarkan kepada kita bagaimana langkah dan cara kita untuk memulai hati ini dengan cara bersyukur. Hadis itu berbunyi dan mengajarkan kepada kita untuk senantiasa melihat orang-orang yang ada di di bawah kita atas  nikmat yang sudah diterima. Selalu melihat orang-orang yang mungkin sebenarnya tidak jauh lebih beruntung daripada kita. Selalu melihat orang-orang yang benar-benar ada di bawah kita. Sehingga kita menjadikan dan memposisikan hati kita dalam posisi orang yang beruntung. Dan sebenarnya ketika kita mengikat hati ini dengan keyakinan bahwa kita orang yang beruntung, kita sedang mengundang keberuntungan yang lain.

Dan sekali lagi ketika kita berfokus pada hal-hal yang positif, pikiran pun akan dengan cepat mendapatkan hal-hal lain yang lebih positif yang layak disyukuri. Dan ketika kita lebih sering mendapatkan hal-hal yang layak disyukuri, akan ada hal lain yang lebih layak lagi untuk disyukuri. Begitu seterusnya sehingga energi ini terus terus mengambil dan mengajak teman-teman energi positifnya yang lain untuk datang ke kehidupan kita.

Melihat Ke Atas

Sebaliknya Rasulullah juga melarang kita untuk melihat orang-orang yang ada di atas kita. Melihat keadaan orang-orang yang menurut kita jauh di atas kita. Sehingga mengurangi rasa syukur kita atas apa yang sudah kita dapatkan. Karena bisa jadi apa yang mereka terima lebih baik daripada apa yang kita dapatkan sekarang. Dan mungkin saja, apa yang mereka terima jauh dari apa yang kita persepsikan sekarang.

Selalu melihat hal-hal yang ada di atas kita, akan mengundang rasa kekurangan dalam hati kita. Ketika kita berfokus sudah merasakan kekurangan, pikiran pun dengan cepat akan menemukan alasan kita menggambar kita kekurangan. Dengan cepat pula, pikiran akan membuktikan bahwa kita memang orang-orang yang belum beruntung dan masih dalam hidup yang kekurangan.

Pada kenyataannya, di luar sana banyak sekali orang yang melihat kita dan menganggap kita orang-orang yang sangat beruntung dan bahagia. Meskipun dalam kenyataannya mungkin kita sekarang belum bisa bersyukur dan memposisikan hati kita sehingga kita benar-benar bersyukur adanya.

Langkah Kecil Mengingkat Nikmat

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa belajar mengunci hati untuk selalu bersyukur?

Salah satu caranya adalah dengan membaca Hamdalah. Mengawali diri untuk selalu mengembalikan bahwa segalanya, semua kenikmatan yang datang kepada kita itu datangnya benar-benar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sepenuh hati mengingatkan, mendidik dan mengajarkan hati ini untuk senantiasa sepenuhnya menempatkan Allah pada posisi yang pertama. Di mana semua kenikmatan dan kebaikan yang ada dalam diri kita adalah berasal dari-Nya. Selalu bersyukur atas semuanya.

Dengan diiringi sikap menerima atas apa yang sudah kita dapatkan. Menerima dengan sepenuh hati apa-apa yang sudah kita peroleh. Sikap menerima dan kemudian diiringi dengan rasa syukur yang mendalam. Dengan cara ini, pelan-pelan hati kita akan terdidik untuk bisa merasakan betul-betul kenikmatan apa saja yang sudah kita terima saat ini.

Kita mungkin dari kecil terdidik oleh lingkungan kita untuk lebih mengeluh daripada bersyukur. Hati dan pikiran kita jarang untuk dilatih bersyukur. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk kemudian melatih hati dan pikiran ini berfokus pada hal-hal yang baik yang sudah kita terima. Latihan ini adalah olahraga hati untuk menguatkan syaraf-syaraf syukur kita. Layaknya fisik kita yang jarang dilatih olahraga, saraf kita pun mungkin akan terasa lemah saat kita paksa untuk mengangkat beban beban berat.

Temukan dan Tuliskan

Suatu saat pernah seorang wanita mengeluhkan atas setiap nasibnya. Kemudian dia datang ke seorang ahli kejiwaan. Dia pun diperintahkan dan ditugaskan untuk menemukan tiga hal dari setiap hari yang dia jalani, layak untuk disyukuri. Tidak hanya diperintahkan untuk menemukan saja, namun juga untuk menuliskannya.

Awalnya dia kesulitan menemukan apa saja yang layak disyukuri hari itu. Namun pelan tapi pasti, pikirannya pun mulai beralih dari hari pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya untuk menemukan hal-hal positif yang layak disyukuri. Dan setiap harinya dia membuktikan ada banyak sekali hal-hal yang layak disyukuri.

Sehingga pada bulan pertama menuju ke bulan kedua dia justru sangat kesulitan menemukan hal-hal yang layak dia keluhkan. Menurutnya kehidupannya betul-betul layak disyukuri dan benar-benar harus disyukuri.

Dari cerita diatas kita sedikit bisa menyimpulkan bahwa ketika pikiran dan hati kita dilatih untuk benar-benar bersyukur, maka kita akan menemukan semakin banyak nilai kehidupan kita yang layak kita syukuri.

Sebaliknya saat kita berfokus untuk menemukan hal-hal yang harus kita keluhkan, maka akan banyak sekali hal-hal kecil sekalipun yang mungkin harus kita keluhkan saat ini.

Semoga ulasan mengikat nikmat dengan bersyukur ini bisa mengingatkan kita untuk lebih bersyukur dan memenuhi hati kita dengan rasa syukur. Semoga bermanfaat amin.

Berharap Kepada Selain Allah Dan Batasannya

Berharap Kepada Selain Allah Dan Batasannya

Berharap Kepada Selain Allah. Dalam keseharian kita seringkali bermuamalah kepada sesama makhluk. Ini tidak bisa kita lepaskan karena kita memang Hidup Diantara sesama manusia. Akan tetapi, dalam hal akidah dan keyakinan, kita mesti hati-hati karena ini yang paling sering membuat kita terjatuh dalam kesalahan. Meskipun kesalahan ini bisa dibilang tidak sengaja, namun perlu kita hati-hati.

Berharap Kepada Selain Allah Dan Batasannya

Berharap Kepada Selain Allah Menurut Syaikh Athaillah

Dalam satu bait Al Hikam nya Syekh Ibnu athaillah menjelaskan, bahwa apabila seorang hamba memiliki sebuah hasrat dan sebuah pengharapan, jangan sampai mengharapkan dan hasad tersebut disampaikan kepada sesama makhluk. Bagaimana seorang makhluk akan mampu menerima pengharapan dari makhluk yang lainnya, sementara dirinya juga lemah seperti dirinya.

Lebih jauh syekh Ibnu athaillah menjelaskan. Bagaimana seorang makhluk akan memenuhi kebutuhan makhluk yang lainnya, yang dirinya sendiri saja tidak mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Bagaimana seorang makhluk akan mampu menerima energi pengharapan seseorang, sementara dirinya sendiri tidak mampu memproduksi energi untuk dirinya sendiri.

Kemudian beliau menyimpulkan, bahwa satu-satunya tempat berharap yang paling tepat adalah Allah. Tempat dimana setiap pengharapan akan berakhir. Tempat setiap harapan dan keinginan berkumpul. Dzat yang akan mampu menerima setiap pengharapan Dan doa-doa Kita. Sang Maha Kuasa yang mampu mengabulkan dan mengembalikan setiap pengharapan dan doa hamba-Nya.

Kisah Rasullah Dalam Ancaman

Dikisahkan suatu saat Rasulullah SAW berperang pernah berada dalam kondisi sendirian. Hingga kemudian datanglah seorang kafir yang menghunuskan pedang kepadanya. Tidur tidak ada seorangpun sahabat yang berada di sekitarnya. Hingga saat dimana pedang itu diarahkan ke leher beliau dan orang kafir tersebut bertanya, ”siapa yang menolongmu wahai Muhammad?”.

Dengan jawaban tegas Rasulullah menjawab,”Allah”. Dengan jawaban tegas dari Rasulullah tersebut, beban tersebut menggetarkan hati dan pikirannya. Hingga kemudian membuat tangannya bergetar hebat sehingga jatuhlah pedang yang dia pegang.

Dan kini dengan cepat pedang tersebut telah beralih tangan ke tangan Rasulullah. Ganti beliau yang bertanya kepada orang kafir tersebut,”siapa yang akan menolongmu?”.

Orang kafir tersebut menjawab,”tidak ada Wahai Muhammad…”.

Dengan kelembutan hati Rasulullah pada saat itu, akhirnya si kafir yang sebelumnya menghunuskan pedang kepada beliau, membuatnya terketuk hatinya dan kemudian masuk Islam dengan sukarela.

Pesan Syaikh Abdul Qodir

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Wahai anak muda! Waspadalah jika Allah melihat di dalam hatimu ada selain Diri-Nya. Waspadalah bahwa Allah melihat di dalam hatimu ada rasa takut kepada selain Diri-Nya, ada harapan kepada selain-Nya, dan ada kecintaan kepada selain kepada-Nya.

Maka, hendaklah engkau berusaha membersihkan kalbumu dari selain Diri-Nya. Hendaklah engkau tidak memandang kemudaratan ataupun manfaat kecuali bahwa itu datang dari Allah.
Engkau selalu dalam rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya.

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

Sudut Pandang Imam Syafi’i

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka, Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” – Imam Syafi’i

Batasan Berharap Kepada Selain Allah

Pada saat seseorang berpengharapan kepada orang lain sesungguhnya dia sedang melemparkan seluruh harapan dan keinginannya kepadanya. Energinya sedang difokuskan kepada harapan-harapannya. Dalam dirinya nol dari energi harapan tersebut karena sudah disampaikan. Walhasil hanya satu yang dia tunggu, terwujudnya harapan-harapan itu.

Dengan besarnya harapan yang dimunculkan dan dilemparkan seseorang kepada makhluk lainnya, ini cenderung telah melampaui batasan yang sesungguhnya. Allah-lah tempat berharap yang sebenarnya. Tentunya dari sisi akidah ini bisa jadi kurang tepat.