08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Belajar Berdzikir. Pada dasarnya belajar juga merupakan salah satu aktivitas berdzikir. Ketika seseorang melakukan aktivitas belajar, kemudian diniatkan dalam rangka dapur merenungkan kebesaran Allah, mengingat keagungan-Nya, maka itu juga termasuk dzikir. Dzikir dalam ranah pengetahuan merupakan hal yang paling utama.

Belajar Berdzikir Dengan Tadabbur

Allah membolehkan dirimu melihat apa yang terdapat di alam, namun tidak mengizinkan dirimu berhenti padanya. Karena itu, Dia berkata,”Katakan, perhatikan apa yang terdapat di langit!” bukan berkata, “Perhatikan langit!” agar perhatianmu tidak tertuju ke benda langit.

Allah tidak mengatakan kepadamu “Lihatlah langit-langit” agar tidak menunjukkan kepadamu benda-benda langit saja sehingga dengannya kau menjadi terhijab dan tidak menyaksikan wujud Allah di dalamnya. Hal itu juga dimaksudkan agar alam semesta tidak menjadi fokus dan tujuanmu karena ia hanya wasilah (perantara) dan media. Ia hanyalah benda yang dapat dilihat. Bagi para syuhud, alam semesta adalah wahana penampakan Allah swt. namun, bagi para ahli hijab, alam adalah bukti keberadaan-Nya. Ibnu Atha’illah al-iskadandari

Salah satu hadis menyebutkan bahwasanya ketika seorang menjadi ilmu pengetahuan, maka ikan-ikan yang ada di lautan dan para malaikat yang ada di langit akan mendoakannya. Sebuah fakta yang menunjukkan yang luar biasa yang dimiliki dan akan diperoleh oleh orang-orang yang menuntut ilmu pengetahuan.

Belajar Berdzikir Dengan Belajar

Blawong-nya Ploso

Bahkan pendiri pondok Pesantren Ploso, Kyai Achmad Djazuli Usman (terkenal dengan Blawong), menyampaikan bahwa thoriqohnya dalam rangka mencapai Allah dengan thoriqoh belajar dan mengajar. Sebuah thoriqoh yang tidak lazim disebutkan dalam serentetan berbagai macam aliran thoriqoh.

Thoriqoh Kyai Djazuli hanyalah belajar dan mengajar “Ana thoriqoh ta’lim wa ta’allum,”katanya berulangkali kepada para santri.

Keutamaan itu bukan karena tanpa alasan. Ketika seseorang belajar ilmu pengetahuan dan meningkatkannya untuk berzikir, maka insya Allah manfaatnya akan bisa dibagikan ke sebanyak mungkin orang. Berdzikir secara lisan (mungkin dalam bentuk bentuk berdzikir asma Allah atau membaca Alquran), jika murni yang dilakukan maka manfaatnya mungkin akan sampai pada pribadi pelakunya saja. Sehingga menggabungkan dzikir dan belajar akan membuat kita lebih banyak menemukan kesadaran diri dan nantinya akan lebih banyak manfaat yang bisa kita bagikan.

Esensi Dzikir dan Ilmu

Jika esensi dari sebuah dzikir adalah nur, dan Ketika cahaya sudah sampai di hati, maka cahaya itu akan menerangi kelak kegelapannya. Maka sebenarnya ilmu pengetahuan sebagaimana yang disampaikan Imam Syafi’i, ilmu pengetahuan juga merupakan cahaya. Cahaya yang nantinya juga akan bisa menerangi hati yang gelap.

Jika keduanya esensinya adalah cahaya, maka menggabungkan keduanya akan mendapatkan cahaya yang lebih terang. Cahaya pengetahuan dan cahaya dzikir.

Cahaya pengetahuan nantinya akan membawa pikiran dan jiwa kita akan jauh lebih mengerti apa dan bagaimana sebenarnya diri kita. Dan cahaya zikir akan menunjukkan kepada kita kelemahan-kelemahan kita dan menunjukkan betapa besarnya Allah dengan segala kekuasaan-Nya. Jika kedua komponen cahaya ini disatukan maka yang terjadi kita akan mendapatkan cahaya yang luar biasa terang.

Lampu Yang Lebih Terang

Jika boleh dibaratkan, seandainya kita membeli sebuah lampu di toko. Dan kita ingin menerangi sebanyak mungkin orang, tentu lampu yang kita pilih bukan lampu yang kecil ukurannya, tetapi lampu yang cukup besar atau mungkin paling besar. Dengan demikian sebanyak mungkin orang mendapatkan cahaya dari lampu-lampu yang kita punya.

Pengetahuan dan belajar yang tidak diniatkan atas dasar untuk lebih mengenal kebesaran Allah, maka yang terjadi sering yang tidak akan lupa bagaimana dan sebenarnya dari kita.

Saat kita merasa punya banyak ilmu pengetahuan, kadang kita lupa bahwa semuanya itu adalah cahaya-cahaya yang Allah titipkan kepada kita. Kita mungkin akan lupa bahwa semuanya itu hanya kecil di mata Allah. Dan terkadang kita kemudian menyombongkan diri atas pengetahuan yang kita miliki.

Belajar Berdzikir Dengan Belajar

Belajar Berdzikir dari Wahyu Pertama

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, — QS. Al-‘Alaq 1

Jika kita mengingat kembali wahyu pertama yang Allah turunkan. Bunyi ayat yang pertama itu adalah bacalah. Perintah membaca itu tidak berhenti hanya sekedar bacalah. Namun dilanjutkan dengan “bacalah dengan nama tuhanmu yang menciptakan”.

Tak sekedar Membaca saja. Tak sekedar belajar saja. Secara aktif, kita sadar dan ingat. Bahwa motivasi belajar kita harus diiringi dengan niat ibadah. Sehingga Allah selalu menyertai motivasi dan proses belajar kita.

Belajar berdzikir dengan belajar lebih banyak ilmu pengetahuan, insya Allah akan mengantarkan kita ke wilayah-wilayah yang jauh lebih baik. Baik dalam wilayah membangun iman dan taqwa, namun juga wilayah membangun peradaban.

Wahyu pertama ini seakan mengisyaratkan kepada kita untuk bisa membangun peradaban dunia, ada syarat yang mesti dibangun lebih dulu, ilmu pengetahuan yang disertai iman di dalamnya. Ilmu pengetahuan yang ditendensikan kebenaran kebenaran dan aplikasinya kepada Allah.

%d bloggers like this: