08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Mengingatkan Sang Aku. Sudah menjadi tabiat seseorang sejak kecil bahkan sampai tua, adanya perasaan untuk mendapatkan penghargaan diri dan ingin dihargai serta dihormati. Ingin diunggulkan dan dinomersatukan. Ingin diakui dan dijadikan pusat perhatian. Orang-orang menyebutnya sebagai sang aku. Sang Aku selalu ingin mendapatkan penghargaan juga pencitraan diri. Sang Aku selalu ingin dikenal dan menjadi terkenal. Sang Aku selalu ingin muncul di depan yang lainnya.

Sang Aku

Belajar Mengingatkan Sang Aku dengan Dzikir Takbir

Dalam batasan yang wajar sang Aku sebenarnya memberikan kontribusi yang sangat positif kepada seseorang. Jika sang aku berhenti memberikan semangat kepada kita, mungkin saja kita tidak akan memiliki semangat untuk bekerja dan belajar. Mungkin tidak akan semangat seperti bisa untuk bekerja dan berikhtiar. Karena dialah energi yang Allah letakkan kepada diri manusia untuk membantu kita memberikan warna di dunia ini.

Sang aku Allah ciptakan menemani kita menjalankan tugas kekhalifahan dengan warna-warna yang lebih indah, yang mungkin tidak akan mampu dilakukan oleh para malaikat. Karena dalam diri malaikat sang aku tidak diciptakan di dalamnya. Sang aku diciptakan Allah agar manusia terus berkreasi, menciptakan berbagai macam hal, dan juga menjadikan bumi ini semakin indah jadinya.

Alasan Sang Aku Harus Diingatkan

Karena sang aku dalam hal yang wajar dia akan membantu seseorang menjadi jauh lebih positif, jadi jauh lebih berperan dalam kehidupannya. Namun ketika sang aku sudah melebihi ambang batasnya, Sang Aku seringkali lupa diri, menjadi Arogan, sombong, takabur dan bahkan bisa mengaku dirinya sebagai Tuhan. Na’udzubilaahi min dzaalik.

Fir’aun Kecil

Dengan kekuasaannya yang luar biasa, sebenarnya Allah telah menciptakan sosok Firaun sebagai seorang yang hebat, raja yang berkuasa, namun kemudian sang aku telah melebihi ambang batasnya dan menguasai diri Firaun, sehingga kemudian dia berani mengaku bahwa dirinya seorang Tuhan. Sang aku telah membuat akal Fir’aun tidak mampu bekerja sebagaimana mestinya.

Dengan mengaca dan mengambil ibrah dari kisah Fir’aun. Jangan sampai diri kita menjadi Fir’aun kecil. Mengaku bisa ini dan itu. Dengan menafi’kan peran Allah yang telah mengajarkan kita ini dan itu.

Peran Sang Aku dan Kerajaan Hati

Sang aku memang dilahirkan untuk memberikan warna yang lebih kepada dunia ini. Sang aku membantu kita untuk bisa bertindak lebih variatif, lebih kreatif, dan lebih inovatif.

Namun sang aku diciptakan oleh Allah tidak didesain untuk menjadi pusat pengontrol kita. Sang aku diciptakan Allah untuk membuat kita jauh lebih bersemangat dan menjadi daya yang ada dalam diri seseorang, untuk terus bekerja dan berusaha.
Bagaimana jadinya ketika kontrol diri kita bukan hati, kemudian sang aku ganti merajai diri? Maka yang terjadi, kerajaan hati akan kehilangan keteraturan dan juga peraturannya.

Bagaimana jadinya ketika kontrol diri kita bukan hati, namun sang aku yang telah merajai diri?

Antara satu dengan yang lain tidak akan terjadi sinergitas. Akan terjadi miskomunikasi, kebijakan tindakan yang keluar akhirnya buka dari pihak dan bagian semestinya. Kerajaan hati pun semakin rusak dan tidak terkontrol jadinya.

Akan terjadinya banyak masalah dan semakin melebar masalah itu. Semakin hilang kontrol dan koordinasi satu dengan yang lainnya. Bagian satu dengan lainnya tak lagi akan sinergis.

Karakter Sang Aku

Sang Aku adalah Abdi yang loyal, sang Abdi yang penuh semangat, sang Abdi yang penuh energi, nama dia juga penuh dengan nafsu dan keinginan.

Salah satu kitab menyatakan, bahwa nafsu dulu pernah ditanya oleh Allah, “siapa Aku?“. Namun sang nafsu Justru malah menjawab dengan pertanyaan yang sama, “siapa aku?“.

Demi mendengar itu Allah pun memenjarakan dengan tidak memberikannya makan dan minum selama 1000 tahun. Kemudian Allah bertanya kembali, “siapa Aku?“. Barulah dalam kelemahannya, dan sang nafsu pun akhirnya menjawab, “Engkau Tuhanku“.

Dzikir Takbir dan Tadrib Sang Aku

Dalam setiap kali kita melakukan salat suatu bacaan pasti yang paling sering kita baca dan paling sering kita lantunkan. Bacaan itu adalah takbir. Allahu Akbar. Takbir berarti ikrar kita sebagai seorang manusia dengan sepenuh hati menyatakan bahwa Allah Maha Besar. Segala sesuatu selain Allah kecil adanya. Hanya Allah yang Maha Besar.

Belajar Mengingatkan Sang Aku dengan Dzikir Takbir

Sesering mungkin saat kita berdzikir takbir kesadaran dan hati kita Arahkan untuk menyadari sepenuhnya bahwa Allah yang Maha Besar. Manusia dengan segala prestasi yang diperolehnya, dengan segala ilmu yang dipelajarinya, dengan segala kekayaan yang dimilikinya, dengan segala gelar dan titel yang disematkan kepadanya, dengan segala pangkatnya, harus dilatih untuk tidak diakui.

Dilatih untuk menyadari bahwa semuanya itu hanyalah titipan. Semua itu hanyalah pemberian. Menafikkan Semua usaha yang dilakukan. Meyakini bahwa semuanya itu adalah anugerah Tuhan. Meminimumkan peran dalam diri yang mengakui bahwa semuanya itu adalah hasil kerja kerasnya. Dan menyaksikan dan bersaksi bahwa Allahlah yang telah membuat kebaikan-kebaikan yang hebat itu.

Dilatih untuk menyadari ulang menyaksikan peran-peran Allah yang kemudian dilewatkan melalui diri kita, menafikkan kemampuan-kemampuan yang ada dalam diri, untuk kemudian disandarkan bahwa semuanya terjadi karena kehendak Allah dan kebesaran -Nya.

Sebuah latihan yang mungkin kurang disukai oleh sang aku. Namun aku harus mengingatkan, bawa juga semua kemampuannya yang ada dalam diri adalah anugerah Allah juga, anugerah yang maha kuasa, dan ketika dia berhasil membuat satu prestasi dan kebaikan, tugas terakhir sang Aku adalah menjadi seorang yang siap bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Tiada daya dan kekuatan kecuali atas Pertolongan Allah Pertolongan Allah.

Sang Aku adalah Kita Sendiri

Bukan berarti kita tidak menyukai sang aku. Sang aku adalah bagian dari diri kita dan Itu bukan bagian terpisah dari kita. Sang aku harus kita Ingatkan. Yang berarti ketika kita mengingatkan sang aku, berarti kita sedang mengingatkan diri kita. Mengingatkan diri kita yang sedang kosong dari kesadaran akan kemahabesaran Allah pertolongan pertolongan yang datang dari-Nya. 

Sang aku adalah bagian penting yang ada dalam diri kita. Bagian yang sangat vital untuk kebaikan kebaikan kehidupan kita. Namun energinya harus kita Arahkan sebagaimana mestinya. Tidak atur sedemikian rupa peran-perannya menjadi nyata dan lebih nyata. Berperan penting namun tetap menjadi beriman dan berakhlaq, yang senantiasa sadar dan rendah hati, sadar sepenuhnya bahwa semuanya terjadi atas kehendak Allah.

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar. Kemahabesaran Allah harus senantiasa meliputi diri kita. Kesadaran bahwa semua kebaikan dan keutamaan yang terjadi atas Pertolongan Allah. Senantiasa bersyukur, senantiasa menyaksikan dalam setiap level kesadaran kita, bahwa semuanya terjadi atas kebesaran Allah. Dan semakin kita bertakbir semakin kita sadar bahwa diri kita lemah.

Dan kita tidak memiliki peran apa-apa, kecuali sebatas sebagai wasilah mewujudkan kebesaran kebesaran-Nya di muka bumi.

Allahu Akbar Allah Maha Besar.

%d bloggers like this: