08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Belajar Olah Rasa. Salah satu penelitian menyebutkan bahwa salah satu gelombang paling kuat energinya yang berasal dari tubuh kita adalah frekuensi rasa. Rasa mewakili bahasa bawah sadar yang menurut para ilmuwan kekuatannya 9 kali lipat pikiran sadar. Itu artinya ketika kita menggunakan bahasa rasa, maka kita sedang menggunakan kekuatan dan potensi yang paling besar dalam diri kita.

Belajar dan Mengenal Olah Rasa

Setiap peristiwa yang kita alami, setiap pengetahuan yang kita miliki, dan setiap harapan dan doa yang kita panjatkan, terwakili inti energinya melalui rasa. Orang-orang Jawa dahulu menyebutnya ilmu Roso.

Belajar Olah Rasa Untuk Lebih Berdaya

Dikisahkan beberapa di antara mereka seringkali diam. Tidak menggunakan ilmu apapun ketika menghadapi masalah. Justru yang mereka lakukan adalah berdiam diri. Menata rasa dan pikirannya. Menata hatinya untuk kembali Suwung. Mengembalikan diri pada titik nol dan pasrah kepada Allah.

Suwung dan Berdaya

Setelah pikiran dan hatinya kembali suwung, dan hanya fokus pada satu titik yaitu Allah, kemudian melakukan permohonan dan doa kepada Allah, dalam kondisi yang benar-benar nol, dari segala ego diri dan kesombongan. Walhasil keyakinan penuh memenuhi dirinya.

Mereka berhasil menata rasanya, dari kebingungan kepanikan dan kekhawatiran, menuju titik nol. Titik dimana kita merasa kusuk tenang dan bahagia. Titik dimana kita merasakan kedekatan dengan Allah. Titik dimana kita merasa doa-doa dikabulkan lebih cepat atau datangnya solusi dari Allah.

Mikrokosmos dan Makrokosmos

Mereka menyadari betapa hati dan kondisinya begitu mempengaruhi kondisi di luar tubuhnya. Mereka menyadari akan keterhubungan adanya mikrokosmos (jagad cilik) dan makrokosmos (jagad gedhe). Mereka menyadari mikrokosmos mewakili dirinya dan semua elemen tubuhnya. Sementara makrokosmos memiliki alam di sekitarnya yang berpengaruh dengan kehidupannya langsung.

Keterhubungan keduanya akan sangat jelas ketika hati dan pikiran yang kacau, mendadak lingkungan di sekitarnya pun terasa tidak mendukung dirinya. Banyak hal yang membuatnya tidak suka, dan banyak hal yang membuatnya tidak nyaman.

Dan ketika hati dan pikiran semakin tenang dan semakin bersyukur adanya, atas izin Allah lingkungan di sekitar pun mendadak menjadi sangat tenang nyaman dan menyenangkan. Seakan-akan semuanya mendukung kepada kita dan keberhasilan kita melakukan sesuatu.

Kecerdasan Emosi

Sebenarnya ketika kita mempelajari banyak hal dan keterampilan skill dalam pengelolaan emosi, rata-rata ajaran agama Islam selalu mengajarkan kepada kita untuk pandai dalam mengelola emosi. Mengelola diri untuk bisa sabar, syukur, menahan diri, ikhlas, qanaah, sifat-sifat lainnya yang begitu luar biasa. Rata-rata mengacu pada kelola emosi keterampilan dan kemampuan mengelola emosi.

Rata-rata ajaran itu berhubungan dengan kecerdasan emosional. Kecerdasan yang digadang-gadang oleh para penemu bahwa inilah yang menjadikan keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Beberapa penemuan menyebutkan bahwa kecerdasan intelektual tidak terlalu dan belum menjamin berpengaruh pada kesuksesan seseorang.

Namun beberapa penelitian menyebutkan, bahwa rata-rata orang-orang sukses adalah orang-orang yang mampu mengelola emosinya secara cerdas. Dari sini kita harus bisa mengambil beberapa kesimpulan, bahwa ajaran ajaran Rasulullah juga ajaran orang-orang Jawa dahulu begitu luar biasa adanya.

Rata-rata orang dulu mampu mengelola emosinya dengan cara yang begitu luar biasa. Mereka lebih mengedepankan Toto Roso, ketimbang mereka mengedepankan ego. Mereka cenderung ikhlas menerima keberadaan, lebih banyak bersyukur daripada mengeluh nya.

Belajar Olah Rasa Dengan Lebih Sengaja

Kembali ke soal olah rasa. Beberapa penemuan sekarang ini ternyata banyak sekali referensi yang menyebutkan teknik-teknik simpel yang bisa kita gunakan untuk bisa meningkatkan kemampuan dan mengasah ilmu Roso kita.

Bagaimana caranya?

Salah satunya adalah dengan menggunakan ilmu syukur. Yaitu dengan kita menggunakan kemampuan hati kita dan imajinasi kita untuk sebenarnya saat ini merasakan benar-benar sangat bersyukur. Benar-benar sangat menikmati kehidupan yang Allah berikan kepada kita dengan sepenuh hati senang pikiran dan sepenuh rasa.

Belajar Olah Rasa Untuk Lebih Berdaya

Meyakini sepenuhnya bahwa Allah sudah memberikan yang terbaik yang kita minta. Terlepas dari apapun yang sudah kita terima sekarang. Semuanya disyukuri dan diyakini dengan sepenuh hati bahwa semuanya sudah terjadi, dan wujudkan Allah dalam kehidupan kita.

Ibarat sebuah doa, sebelum doa itu dikabulkan kita sudah mensyukurinya. Kita sedang memesan sesuatu kepada para penjual, kita sudah membayarnya lebih dulu dan menunggu makanan itu jadi. Bersyukur di awal sebagai sebuah cara melatih diri kita untuk tetap optimis, dan yakin akanĀ  terkabulnya doa oleh Allah.

Syukur Lebih Dulu

Disini kita dilatih untuk fokus mensyukuri apa yang sudah kita terima sepenuhnya. Dan tidak bermaksud untuk kemudian memaksa Allah mengabulkan apa yang kita minta. Akan tetapi di satu sisi, kita sedang merasakan hujannya kemurahan Allah kepada kita. Dimana Allah memberikan janji kemurahan-Nya kepada kita. Apabila seorang hamba kepada Allah berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan memberikan dan menjadikan apa yang dipersangkakan kepada-Nya.

Dalam kondisi seperti ini, mulai dari ucapan dan tingkah laku kita pun harus menunjukkan kita sedang bersyukur atas karunia yang sudah didapatkan. Benar-benar bersyukur dan merasa bahagia sekarang.

Berlebihankah?

Pertanyaannya, Apakah ini berlebihan?

Tentu kondisi ini harus kita posisikan dalam keterampilan hati kita dalam mengelola emosi. Dalam ranah zhahiriyah, kita pun tetap harus berusaha sebagaimana mestinya. Namun pikiran dan hati kita harus kita kondisikan, bahwa kita sedang menuju pada proses doa-doa kita dikabulkan. Kita sedang diproses oleh Allah menuju kita.

Dengan tetap menjalani kehidupan kita sebagaimana mestinya dan bagaimana seharusnya, kita terus bersyukur dan bersyukur. Sembari menunggu, bagaimana Allah akan memberikan tanda-tanda terkabulnya doa kita. Disinilah kita belajar olah rasa. Belajar mengelola kecerdasan emosi kita.

Sensifitas Hati dan Pikiran

Sebagai bahan pertimbangan, ketika hati dan pikiran kita sudah meyakini sesuatu, fokus pada sesuatu itu, maka dengan sendirinya sel-sel pikiran kita akan cenderung reaktif, dan cenderung sensitif untuk melihat setiap kemungkinan-kemungkinan dari apa yang kita minta. Sehingga tanpa kita sadari, banyak peluang peluang yang kemudian muncul dan dalam pikiran kita. Dan mungkin itu salah satu jalan dari permohonan-permohonan kita.

Belajar olah rasa akan mungkin jadi solusi masalah kita. Semoga bermanfaat!

Wallahu A’lam Bishawab. Wala haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim.

%d bloggers like this: