08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Belajar Sadar Allah dan Pertanyaan Besar

Belajar Sadar Allah. Pertanyaan yang besar menghasilkan jawaban yang besar. Pertanyaan yang besar menghendaki proses berpikir yang lebih luas dan lebih besar. Pertanyaan yang kecil hanya membutuhkan sedikit perenungan untuk menjawabnya. Semakin berkualitas pertanyaan, semakin berkualitas jawaban.

Belajar Sadar Allah Dengan Pertanyaan Besar

Ambillah contoh di bawah ini.

Ada sebuah apel di depan kita. Kemudian kita sampaikan beberapa pertanyaan;

  • Bagaimanakah bentuk apel?
  • Bagaimana rasa apel?
  • Apa isi kandungan vitamin dalam buah apel?
  • Apa mashlah yang Allah ciptakan dalam buah apel?
  • Bagaimana apel bisa mendongkrak ekonomi masyarakat?

Semakin bermutu pertanyaan, semakin berkualitas pertanyaan, semakin bagus jawaban yang dihasilkan.

Alasan Pertanyaan Besar

Pertanyaan besar ibarat umpan pada kail pancing. Dia akan memancing pikiran kita untuk memproses jawaban yang dibutuhkan. Jika pertanyaan itu mudah dan simpel, tentu tidak membutuhkan proses perenungan yang dalam. Namun, jika pertanyaan itu besar dan luas, tentu tak akan langsung bisa dijawab terkadang. Beberapa akan merenungkan lebih dulu, memproses jawabannya atau bahkan mencari referensi.

Semakin luas pertanyaan, semakin lama juga proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan jawaban yang diinginkan.

Pikiran manusia ibarat google yang akan memunculkan list jawaban yang diinginkan. List ini dipicu kata kunci yang diinput dalam kolom pencarian pikiran kita. Untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan tentu pertanyaan yang dimasukkan harus tepat.

Belajar Sadar Allah Dengan Pertanyaan Besar

Berpikir Ilmiah

Salah satu metode yang bisa digunakan untuk membuat pertanyaan besar adalah dengan berpikir ilmiah. Lalu apa berpikir ilmiah itu? Berpikir ilmiah adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, mengembangkan dsb. secara ilmu pengetahuan (berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Atau menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.

Tak sekadar berpikir tanpa landasan. Tanpa ilmu. Itu artinya, saat kita mencoba berpikir ilmiah, maka sebelumnya ada referensi logis yang sudah kita input dalam pikiran kita. Melandaskan pertanyaan bukan sekadar hanya angan-angan, tapi berdasarkan pertimbangan ilmiah dan logis. Pun bisa dipertanggungjawabkan.

Berpikir ilmiah juga bisa berarti merupakan kegiatan [akal] untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Berpikir ilmiah adalah kegiatan [akal] yang menggabungkan induksi dan deduksi.(Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,)

Hubungan Pertanyaan Besar Dan Sadar Allah

Pertanyaan besar seringkali akan memicu pemahaman dan kesadaran yang lebih luas. Untuk bisa memancing pemahaman yang lebih besar akan kesadaran kebesaran Allah, tentu pertanyaan pun dikaitkan dengan kata kunci “Allah”.

Contoh:

Kita bermaksud memahami kebesaran Allah dan mengembangkan sadar Allah. Maka pertanyaannya bisa;

  • Bagaimana penjelasan bahwa adanya bukti campur tangan Allah dalam kehidupan?
  • Bagaimana kuasa Allah menciptakan alam semesta?
  • Bagaimana manusia bisa merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan?
  • Bagaimana melatih dan menyadarkan hati untuk sadar Allah?
Belajar Sadar Allah Dengan Pertanyaan Besar

Lebih efektif lagi apabila pertanyaan dibentuk dari kata dasar seperti: mengapa atau bagaimana, daripada pertanyaan yang dibentuk dari kata dasar apa atau mana. Meskipun memungkinkan juga untuk membentuk pertanyaan berkualitas darinya.

Belajar dari “what to think” menuju “how to think“.

Perbaiki pertanyaan dan dapatkan pemahaman dan jawaban lebih baik.

Semakin luas pemahaman yang diperoleh dari sebuah pertanyaan besar, maka semakin baik pula kita bisa mendapatkan pemahaman akan Allah. Semakin luas pemahaman yang kita dapatkan, semakin luas kesadaran kita nantinya.

Semakin terlatih kita untuk mendapatkan jawaban dengan pertanyaan besar. Semakin terlatih pula kita mengajak jiwa untuk berkesadaran secara lebih luas.

Setelah kita memahami apa itu syukur misalnya, pertanyaan selanjutnya;

  • Bagaimana bersyukur?
  • Mengapa harus bersyukur?
  • Seperti apa bersyukur yang benar?
  • Bagaimana syukur bisa membuat nikmat bertambah?
  • dan seterusnya.

Pertanyaan yang besar, menghasilkan jawaban yang besar.

Kesimpulan

Jawaban besar dihasilkan dari pertanyaan besar

Pertanyaan besar dihasilkan perenungan mendalam

Perenungan mendalam dihasilkan dari pemahaman ilmiah yang terus diasah

%d bloggers like this: