08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Berdzikir. Berdzikir kepada Allah salah satu tujuannya adalah mendidik diri sendiri. Mendidik diri sendiri berarti mengajak dan melatih diri untuk senantiasa sadar Allah. Sadar akan kekuasaan-Nya. Namun menariknya beberapa semangatnya bisa kita adopsi untuk jadi jurus ampuh dalam proses mendidik anak, atau mungkin saat kita mengajar murid di sekolah.

Berdzikir dan Mendidik Anak

Yang kami sampaikan sebelumnya, bahwa semangat pengulangan yang kita lakukan saat berdzikir ini bisa kita aplikasi dalam proses mendidik anak, itu sangat masuk akal. Apa hubungannya?

Hubungannya adalah pada pengulangan. Dzikir meminta kita untuk selalu mengulang dan mengulangnya, agar bisa benar-benar tertanam dalam diri. Mendidik juga demikian. Butuh pengulangan dan pengulangan.

Saat kita menyadari bahwa mendidik diri sendiri itu juga tidak mudah, tak cukup sekali dua kali, maka kita pun akhirnya tidak akan langsung meminta anak berubah dalam waktu sekejap. Meskipun itu mungkin saja dan sah-sah saja.

Saat kita ingat bahwa kita pernah bersalah dan ingin berubah. Dalam kondisi sadar sekalipun, terkadang untuk berubah lebih baik, itu saja terkadang butuh waktu proses. Terkadang tidak cukup sekali atau dua kali. Kita pun menyadari bahwa anak untuk berubah lebih baik, butuh kesabaran untuk mencapainya.

Dan saat kita menyadari, bahwa untuk benar-benar terlatih dan terbiasa akan hal baik yang baru itu butuh proses, kita pun akan mengerti bahwa anak begitu membutuh dukungan dan kasih sayang untuk dilimpahkan kepadanya.

Baik berdzikir maupun mendidik anak sama-sama butuh pengulangan.

Pengulangan dan manfaatnya

Kebanyakan keberhasilan dalam proses transformasi nilai dari orang tua kepada anaknya seringkali dicapai dalam pengulangan. Pengulangan yang dilakukan dalam bentuk natural, terbingkai dalam uswah hasanah. Baik itu pendidikan yang berupa ucapan, tindakan, dan lainnya. Pengulangan seperti ni sebenarnya kita lakukan namun tidak kita sadari.

Jika kita mengingat bagaimana saat kita masih kecil. Orang tua kita selalu mengarahkan dan terus menasehati berulang kali tanpa kenal bosan. Berulang kali dan berulang kali. Itu dilakukan seiringan dengan pemberian contoh kepada kita.

Anda tentu bisa mengingat hal apa saja yang sering anda lakukan, dan tiba-tiba saja anak-anak bisa menirunya dengan baik. Dan itu tidak hanya dalam satu hal saja. Bisa dalam berbagai macam hal. Bahkan gaya berbicara kita pun tanpa sengaja dicopas anak-anak dengan sangat baik.

Anak kecil yang sering mendengar bacaan ayat Alquran, meski masih usia balita, tanpa disadari mereka merekam dengan baik. Tahu-tahu mereka sudah hafal beberapa bagiannya.

Orang tua yang suka membaca, biasanya anaknya pun akan menirunya. Kebiasaan membaca ini akan dilihat anak, mereka menyerapnya dalam hatinya, dan tertransformasi dalam tindakan mereka meminta dibelikan buku, ikutan membaca dan seterusnya. Orang tua yang terbiasa berbahasa jawa, anak pun bisa menirunya. Kebiasaan kecil saat makan pun biasanya demikian.

Yang Terbiasa Akan Semakin Akrab Jadinya

Prosesnya dari pengulangan tadi. Semakin lama semakin akrab dan semakin terbiasa jadinya.

Ada satu pepatah Inggris yang mungkin cocok dengan pembahasan ini, “actions speak louder than words” Terjemah bebasnya, tindakan itu bisa menyampaikan pesannya ke dalam hati lebih kuat daripada hanya sekadar kata-kata.

Metode pengulangan ini memang power full. Tak hanya dalam hal berdzikir dan muhasabah diri, akan tetap juga dalam proses mendidik anak. Penanaman pesan baik ini dengan model pengulangan seperti ini biasa digunakan dalam hipnoterapi. Pada proses penanaman sugesti, sugesti seringkali diulang-ulang sampai didapatkan efek yang diinginkan.

Berdzikir dan Ta’kid Versi Alfiyyah

Dalam salah satu bait alfiyyah, dalam bab Ta’kid disebutkan secara tersirat bagaimana kita memberikan pendidikan anak dengan menekankan pengulangan ta’dib.

(وَمَا مِنَ التَّوكِيدِ لَفْظِيٌّ يَجِي…… مُكَرَّراً كَقَوْلِكَ ادْرُجِي ادْرُجِي (ألفية -التوكيد

“Kalimat yang termasuk taukid lafdzi, bisa dirupakan dengan semisal ungkapanmu, tingkatkanlah… tingkatkanlah…”

Secara lafzhiyah, syair itu menjelaskan kepada kita bahwa salah satu metode yang bisa kita tempuh untuk menanamkan pesan kepada anak adalah berbentuk kata-kata atau kalimat-kalimat yang bisa membuat mereka jauh lebih positif.

Dan metodenya adalah dengan mengulang kata-kata (pesan) itu. Semisal; kita ingin anak meningkatkan prestasi. Maka kita bisa menyampaikan dengan, “tingkatkanlah… tingkatkanlah…”.

Teknik menyampaikan berkali-kali pesan diterapkan dengan selang waktu tertentu. Syaratnya, pesan itu tidak menjemukan anak dan dia tetap nyaman mendengarnya. Dengan begitu, pesan akan jauh lebih dalam dan lebih menancap dalam hatinya.

Mafhum muwafawohnya adalah “pesan itu tidak sekali disampaikan langsung bisa masuk dalam hati anak. Butuh diulang-ulang dan disertai kesabaran. Meski tidak memungkinkan sekali disampaikan bisa diterima dengan baik”.

Jadinya, ini mungkin bisa menjadi pengingat bagi kita, yang terkadang dalam sekali bicara ingin dan berharap langsung bisa merubah kebiasaan anak.

Wallaahu a’lamu bisshowab. Walaa haula walaa quwwata illaa billaah….

%d bloggers like this: