08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Berharap Kepada Selain Allah. Dalam keseharian kita seringkali bermuamalah kepada sesama makhluk. Ini tidak bisa kita lepaskan karena kita memang Hidup Diantara sesama manusia. Akan tetapi, dalam hal akidah dan keyakinan, kita mesti hati-hati karena ini yang paling sering membuat kita terjatuh dalam kesalahan. Meskipun kesalahan ini bisa dibilang tidak sengaja, namun perlu kita hati-hati.

Berharap Kepada Selain Allah Dan Batasannya

Berharap Kepada Selain Allah Menurut Syaikh Athaillah

Dalam satu bait Al Hikam nya Syekh Ibnu athaillah menjelaskan, bahwa apabila seorang hamba memiliki sebuah hasrat dan sebuah pengharapan, jangan sampai mengharapkan dan hasad tersebut disampaikan kepada sesama makhluk. Bagaimana seorang makhluk akan mampu menerima pengharapan dari makhluk yang lainnya, sementara dirinya juga lemah seperti dirinya.

Lebih jauh syekh Ibnu athaillah menjelaskan. Bagaimana seorang makhluk akan memenuhi kebutuhan makhluk yang lainnya, yang dirinya sendiri saja tidak mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Bagaimana seorang makhluk akan mampu menerima energi pengharapan seseorang, sementara dirinya sendiri tidak mampu memproduksi energi untuk dirinya sendiri.

Kemudian beliau menyimpulkan, bahwa satu-satunya tempat berharap yang paling tepat adalah Allah. Tempat dimana setiap pengharapan akan berakhir. Tempat setiap harapan dan keinginan berkumpul. Dzat yang akan mampu menerima setiap pengharapan Dan doa-doa Kita. Sang Maha Kuasa yang mampu mengabulkan dan mengembalikan setiap pengharapan dan doa hamba-Nya.

Kisah Rasullah Dalam Ancaman

Dikisahkan suatu saat Rasulullah SAW berperang pernah berada dalam kondisi sendirian. Hingga kemudian datanglah seorang kafir yang menghunuskan pedang kepadanya. Tidur tidak ada seorangpun sahabat yang berada di sekitarnya. Hingga saat dimana pedang itu diarahkan ke leher beliau dan orang kafir tersebut bertanya, ”siapa yang menolongmu wahai Muhammad?”.

Dengan jawaban tegas Rasulullah menjawab,”Allah”. Dengan jawaban tegas dari Rasulullah tersebut, beban tersebut menggetarkan hati dan pikirannya. Hingga kemudian membuat tangannya bergetar hebat sehingga jatuhlah pedang yang dia pegang.

Dan kini dengan cepat pedang tersebut telah beralih tangan ke tangan Rasulullah. Ganti beliau yang bertanya kepada orang kafir tersebut,”siapa yang akan menolongmu?”.

Orang kafir tersebut menjawab,”tidak ada Wahai Muhammad…”.

Dengan kelembutan hati Rasulullah pada saat itu, akhirnya si kafir yang sebelumnya menghunuskan pedang kepada beliau, membuatnya terketuk hatinya dan kemudian masuk Islam dengan sukarela.

Pesan Syaikh Abdul Qodir

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Wahai anak muda! Waspadalah jika Allah melihat di dalam hatimu ada selain Diri-Nya. Waspadalah bahwa Allah melihat di dalam hatimu ada rasa takut kepada selain Diri-Nya, ada harapan kepada selain-Nya, dan ada kecintaan kepada selain kepada-Nya.

Maka, hendaklah engkau berusaha membersihkan kalbumu dari selain Diri-Nya. Hendaklah engkau tidak memandang kemudaratan ataupun manfaat kecuali bahwa itu datang dari Allah.
Engkau selalu dalam rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya.

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

Sudut Pandang Imam Syafi’i

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka, Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” – Imam Syafi’i

Batasan Berharap Kepada Selain Allah

Pada saat seseorang berpengharapan kepada orang lain sesungguhnya dia sedang melemparkan seluruh harapan dan keinginannya kepadanya. Energinya sedang difokuskan kepada harapan-harapannya. Dalam dirinya nol dari energi harapan tersebut karena sudah disampaikan. Walhasil hanya satu yang dia tunggu, terwujudnya harapan-harapan itu.

Dengan besarnya harapan yang dimunculkan dan dilemparkan seseorang kepada makhluk lainnya, ini cenderung telah melampaui batasan yang sesungguhnya. Allah-lah tempat berharap yang sebenarnya. Tentunya dari sisi akidah ini bisa jadi kurang tepat.

%d bloggers like this: