08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Bersyukur. Banyak ayat yang menjelaskan bahwa seseorang harus banyak bersyukur. Dengan bersyukur yang nikmat yang diterima akan bertambah. Itulah yang kemudian dijanjikan oleh Allah dalam salah satu ayat. Barang siapa diantara kita yang bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat nikmat tersebut.

Banyak juga orang yang mengatakan bahwa ketika orang yang bersyukur dia akan merasakan kebahagiaannya semakin bertambah. Benarkah demikian?

Bersyukur itu mengikat nikmat

Untuk menjawabnya marilah kita sejenak mengingat apa sebenarnya bersyukur itu. Bersyukur berarti berterima kasih dan menerima dengan sepenuh hati apa yang sudah diberikan rasa suka cita. Bersyukur bisa juga berarti kita menggunakan apa yang sudah diberikan dengan sebaik-baiknya. Bersyukur juga bisa berarti mengingat apa yang sudah diberikan dan menerimanya dengan rasa qanaah tanpa mempermasalahkan apa yang belum didapatkan.

Bersyukur sebenarnya membuat energi positif yang ada dalam dirinya dengan lebih kuat. Memunculkan keyakinan dalam pikiran dan hatinya bahwa semuanya itu benar-benar sempurna adanya, benar-benar baik adanya. Menghindarkan dirinya dari semua bentuk pola pikir kekurangan, yang belum kita dapatkan. Bersyukur sebenarnya akan menuntun dan mengikat pikiran kita untuk lebih mengingat apa yang sudah didapatkan. Menepis porsi pikiran yang terus mencari apa yang belum ada dan belum kita dapatkan.

Bersyukur dan Tabiat Pikiran

Sudah menjadi tabiat pikiran, tidak diingatkan maka dia akan mencari apa yang dekat dengan frekuensi yang dipancarkan pada saat itu. Jika fokus pikirannya adalah untuk mencari kekurangan-kekurangan yang belum kita miliki, maka pikiran pun akan dengan sangat cepat dan sangat cerdas untuk mendapatkan benda-benda atau hal-hal yang memang belum kita miliki dan belum kita dapatkan.

Sebaliknya saat kita memerintahkan pikiran kita dan mengingatkan untuk senantiasa merasakan apa-apa yang sudah didapatkan, maka dengan sangat cepat dan cerdas juga pikiran akan mendapatkan hal-hal yang layak untuk disyukuri dan layak untuk dinikmati.

Pikiran akan menandai banyak nikmat, jika kita fokus bersyukur

Kehidupan orang yang bersyukur

Menjadi sangat beralasan ketika kita mendapatkan orang-orang yang disekitar kita begitu qana’ah, cenderung bahagia dan menikmati kehidupannya. Sebaliknya orang-orang yang merasa selalu berkekurangan kita melihat mereka selalu mengeluh dan mengeluh setiap saatnya.

Lalu mengapa ketika kita bersyukur, itu sama halnya dengan mengikat nikmat nikmat yang sudah diberikan?

Karena sebenarnya saat kita bersyukur, seluruh energi sedang kita fokuskan untuk menerima dengan sepenuh hati dan memperhatikan apa-apa yang sudah berikan. Saat energi-energi itu ada di sekitaran kita, kemudian kita memperhatikan dan kita menerimanya dengan sepenuh hati, maka sel-sel energi yang ada di sekitar kita pun akan semakin bercahaya dan semakin positif adanya.

Sel-sel energi itu merespon kita sebagaimana kita merespon keberadaannya. Jika mereka merasa kita menerimanya dengan baik, mereka pun akan bersikap baik kepada kita. Sel selnya semakin kuat satu sama lain. Namun saat mereka tidak kita respon dan tidak kita akui keberadaannya, mereka pun akan enggan bersama kita.

Contoh Mengikatnya Energi Syukur

Pernyataan diatas dapat kita buktikan dengan beberapa contoh. Contoh yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

Seandainya pada saat ini Allah sudah mengaruniakan kepada kita sebuah sepeda, dengan sepenuh hati kita menerimanya dan berterima kasih atasnya. Maka otomatis kita menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Membersihkannya, merawatnya, dan juga memperbaikinya jika mengalami kerusakan.

Seandainya pada saat itu kita tidak bersyukur, kemudian kita marah karena sampai saat ini hanya memiliki sebuah sepeda, kemudian mengeluh di sana dan sini. Lupa bahwa banyak sekali orang-orang disekitar kita yang sampai saat ini masih belum memiliki sepeda, atau bahkan di antara mereka masih berjalan kaki. lupa jika di antara kita masih ada orang-orang yang Bahkan tidak memiliki apa-apa dan meminta-minta. Maka kita pun akan membiarkan nikmat sudah diberikan kepada kita. Kurang mensyukurinya dan akhirnya nikmat nikmat itu menjadi tidak terperhatikan. Kita sering mengeluhkannya, kita sering membencinya, dan pada akhirnya tidak merawatnya sama sekali.

Saat kita diberikan oleh orang tua sebuah buku tulis. Orang tua berharap buku tulis itu kita gunakan untuk keperluan sekolah, menulis dan untuk mencatat semua pelajaran. Namun karena kita merasa buku tulis itu kualitasnya yang tidak sebagus yang dimiliki teman-teman, kita pun marah-marah karenanya, mengeluhkannya, dan pada akhirnya buku itu tidak kita gunakan untuk menulis. Bahkan mungkin buku itu akan kita coret-coret atau bahkan kita robek. Padahal sebenarnya saat kita mau mensyukurinya. Buku itu bisa saja kita manfaatkan untuk menulis berbagai macam ilmu yang sudah kita terima. Yang mungkin saja membuat prestasi kita naik, dan menjadikan guru-guru kita menyukainya. Mungkin saja kita akan menerima hadiah lebih dari yang kita bayangkan dari pada hanya sekedar sebuah buku.

Akan tetapi ketika bersyukur, dilihat dari sudut pandang kita sebagai seorang hamba. Tentu saja Allah akan sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang betul-betul memperhatikan apa yang sudah diberikan. Memenuhi hatinya dengan rasa syukur. Memenuhi hatinya ucapan terima kasih. Fokus pada apa yang sudah diterima. Bisa jadi Allah kemudian memberikan dan mengaruniakan kepada kita nikmat yang semakin banyak dan lebih banyak lagi.

Mengapa Syukur Membuat Kita Lebih Bahagia?

Kembali ke soal bahagia. Tatkala seseorang merasa bahagia dan memenuhi hatinya dengan perasaan senang, maka kedua belahan pikirannya otak kanan dan kiri kan terjadi sinkronisasi. Ketika kedua belahannya cenderung lebih sinkron, menurut beberapa penelitian, kondisi ini akan lebih banyak memproduksi hormon endorfin. Hormon yang memicu kondisi yang nyaman dan tenang dalam diri seseorang. Hormon yang memicu orang menjadi semakin meningkat.

Dengan sinkronisasi kedua belahan otak, seseorang akan cenderung merasakan ketenangan dan kekhusyukan setiap saatnya. Kondisi yang membuat seseorang begitu tenang dalam menghadapi masalah. Begitu bijaksana saat memutuskan. Kondisi yang membuat seseorang tidak gampang larut dalam situasi. Kondisi yang maksimal dimana seseorang sangat intuitif dan kreatif. Sebuah bonus dari rasa syukur yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi diri seseorang. Bonus yang tidak main-main saat kita benar-benar bisa bersyukur.

Ketika seseorang bersyukur, dia akan fokus untuk memenuhi pikiran-pikirannya dengan daratan nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan. Menghapus beberapa bagian-bagian yang membuatnya mengeluh. Memenuhi hati dan pikirannya dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah. Merasa qana’ah dengannya. Dan ketika seseorang sudah demikian, dan menjadi karakter dalam dirinya kebiasaan ini, maka tidak lain dan tidak bukan hanya kebahagiaan yang akan mengitarinya. Karena yang ada dalam dirinya hanya rasa syukur. Rasa syukur yang mendalam. Jauh dari pola pikir kekurangan dan sikap mengeluh. Karena sebenarnya sikap kurang bahagia dipicu karena kita merasa kekurangan.

Semakin bersyukur, semakin bahagia

Syukur adalah dzikir af’al. Dzikir tindakan dan sikap. Dzikir kesadaran akan nikmat yang sudah diberikan. Dzikir kesadaran untuk memanfaatkan apa yang diberikan dengan lebih baik. Dzikir kesadaran untuk memahami betapa besar nikmat Allah. Dzikir kesadaran untuk lebih mengerti akan kemurahan Allah. Dzikir kesadaran akan betapa Allah sangat perhatian dengan kita.

Semoga Allah selalu mengilhami kita menjadikan kita golongan orang-orang yang selalu bersyukur dan batin. Allahumma Amin.

%d bloggers like this: