08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur. Apa yang memenuhi hati dan rasa kita, akan menjadi doa-doa yang tidak terlihat dan kasat mata. Hati yang dipenuhi rasa syukur penuh dengan energi positif atas kehidupan yang telah diterima dan yang akan dijalani. Hati yang penuh rasa syukur, berfokus untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal yang belum didapatkan menuju hal-hal yang sudah diterima dan kebaikan-kebaikan yang sudah didapatkan.

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat dan Logikanya

Orang yang senantiasa memenuhi rasa dan hatinya dengan bersyukur, berarti dia sedang mengunci setiap hal dan kebaikan yang sudah diterima. Energi yang dipancarkan oleh pikiran dan hatinya masuk ke setiap benda-benda dan setiap hal yang sudah dia terima. Energi itu menguncinya tetap ada. Membuat setiap nikmat yang sudah diterima menjadi semakin awet dan berkah adanya.

Logika yang mungkin akan jarang diterima oleh setiap orang adalah bahwa benda-benda yang ada di sekitar merespon kita sebagaimana kita meresponnya. Ketika seseorang beranggapan bahwa apa yang ada di sampingnya tidak meresponnya, maka benda-benda itu pun tidak akan merespon kepadanya dengan cara yang baik.

Untuk menjelaskan logika yang mungkin jarang diterima di atas kita akan mencoba melihat beberapa hal yang mungkin terjadi dan sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat Sisi Positifnya

Seseorang yang memiliki HP dengan harga dua juta mungkin akan berpikir bahwa HPnya masih kurang bagus ketimbang HP dengan harga 5 juta. Orang yang bersyukur tidak akan mempermasalahkan kondisi HPnya yang masih dalam level harga dua juta. Bahkan dia justru bersyukur, HPnya sudah cukup bagus dan bisa digunakan untuk keperluan keperluan nya. Rasa syukurnya akan memotivasinya untuk menggunakan HP yang dia miliki untuk diaplikasikan pada hal-hal yang baik atau memaksimalkan penggunaaanya unutuk berbisnis dan usaha.

Sementara bagi orang yang kurang bersyukur, seringnya dia akan menganggap hp-nya kurang bagus, kurang cepat kinerjanya dan sebagainya. Walhasil Ketika pikiran dan persepsinya mengunci HP itu pada level kurang bagus dan cepat kinerja nya, maka pikirannya akan mendapatkan hal-hal kecil yang menjadikan pikiran membuktikan kekurangan HP tersebut. Inilah cara mengikat nikmat dengan bersyukur yang sebenarnya bisa memaksimalkan apa yang sudah kita miliki.

Pikiran Yang Cepat Membuktikan

Canggihnya pikiran manusia, membuatnya dengan cepat menemukan dan mendapatkan hal-hal yang membuatnya tidak bisa bersyukur atas keberadaan HPnya. Pikirannya dengan cepat menemukan alasan mengapa tidak suka. Pikirannya pun dengan cepat bisa mendapatkan alasan mengeluh dan seterusnya.

Pandang Ke Bawah

Dalam salah satu hadis rasulullah mengajarkan kepada kita bagaimana langkah dan cara kita untuk memulai hati ini dengan cara bersyukur. Hadis itu berbunyi dan mengajarkan kepada kita untuk senantiasa melihat orang-orang yang ada di di bawah kita atas  nikmat yang sudah diterima. Selalu melihat orang-orang yang mungkin sebenarnya tidak jauh lebih beruntung daripada kita. Selalu melihat orang-orang yang benar-benar ada di bawah kita. Sehingga kita menjadikan dan memposisikan hati kita dalam posisi orang yang beruntung. Dan sebenarnya ketika kita mengikat hati ini dengan keyakinan bahwa kita orang yang beruntung, kita sedang mengundang keberuntungan yang lain.

Dan sekali lagi ketika kita berfokus pada hal-hal yang positif, pikiran pun akan dengan cepat mendapatkan hal-hal lain yang lebih positif yang layak disyukuri. Dan ketika kita lebih sering mendapatkan hal-hal yang layak disyukuri, akan ada hal lain yang lebih layak lagi untuk disyukuri. Begitu seterusnya sehingga energi ini terus terus mengambil dan mengajak teman-teman energi positifnya yang lain untuk datang ke kehidupan kita.

Melihat Ke Atas

Sebaliknya Rasulullah juga melarang kita untuk melihat orang-orang yang ada di atas kita. Melihat keadaan orang-orang yang menurut kita jauh di atas kita. Sehingga mengurangi rasa syukur kita atas apa yang sudah kita dapatkan. Karena bisa jadi apa yang mereka terima lebih baik daripada apa yang kita dapatkan sekarang. Dan mungkin saja, apa yang mereka terima jauh dari apa yang kita persepsikan sekarang.

Selalu melihat hal-hal yang ada di atas kita, akan mengundang rasa kekurangan dalam hati kita. Ketika kita berfokus sudah merasakan kekurangan, pikiran pun dengan cepat akan menemukan alasan kita menggambar kita kekurangan. Dengan cepat pula, pikiran akan membuktikan bahwa kita memang orang-orang yang belum beruntung dan masih dalam hidup yang kekurangan.

Pada kenyataannya, di luar sana banyak sekali orang yang melihat kita dan menganggap kita orang-orang yang sangat beruntung dan bahagia. Meskipun dalam kenyataannya mungkin kita sekarang belum bisa bersyukur dan memposisikan hati kita sehingga kita benar-benar bersyukur adanya.

Langkah Kecil Mengingkat Nikmat

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa belajar mengunci hati untuk selalu bersyukur?

Salah satu caranya adalah dengan membaca Hamdalah. Mengawali diri untuk selalu mengembalikan bahwa segalanya, semua kenikmatan yang datang kepada kita itu datangnya benar-benar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sepenuh hati mengingatkan, mendidik dan mengajarkan hati ini untuk senantiasa sepenuhnya menempatkan Allah pada posisi yang pertama. Di mana semua kenikmatan dan kebaikan yang ada dalam diri kita adalah berasal dari-Nya. Selalu bersyukur atas semuanya.

Dengan diiringi sikap menerima atas apa yang sudah kita dapatkan. Menerima dengan sepenuh hati apa-apa yang sudah kita peroleh. Sikap menerima dan kemudian diiringi dengan rasa syukur yang mendalam. Dengan cara ini, pelan-pelan hati kita akan terdidik untuk bisa merasakan betul-betul kenikmatan apa saja yang sudah kita terima saat ini.

Kita mungkin dari kecil terdidik oleh lingkungan kita untuk lebih mengeluh daripada bersyukur. Hati dan pikiran kita jarang untuk dilatih bersyukur. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk kemudian melatih hati dan pikiran ini berfokus pada hal-hal yang baik yang sudah kita terima. Latihan ini adalah olahraga hati untuk menguatkan syaraf-syaraf syukur kita. Layaknya fisik kita yang jarang dilatih olahraga, saraf kita pun mungkin akan terasa lemah saat kita paksa untuk mengangkat beban beban berat.

Temukan dan Tuliskan

Suatu saat pernah seorang wanita mengeluhkan atas setiap nasibnya. Kemudian dia datang ke seorang ahli kejiwaan. Dia pun diperintahkan dan ditugaskan untuk menemukan tiga hal dari setiap hari yang dia jalani, layak untuk disyukuri. Tidak hanya diperintahkan untuk menemukan saja, namun juga untuk menuliskannya.

Awalnya dia kesulitan menemukan apa saja yang layak disyukuri hari itu. Namun pelan tapi pasti, pikirannya pun mulai beralih dari hari pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya untuk menemukan hal-hal positif yang layak disyukuri. Dan setiap harinya dia membuktikan ada banyak sekali hal-hal yang layak disyukuri.

Sehingga pada bulan pertama menuju ke bulan kedua dia justru sangat kesulitan menemukan hal-hal yang layak dia keluhkan. Menurutnya kehidupannya betul-betul layak disyukuri dan benar-benar harus disyukuri.

Dari cerita diatas kita sedikit bisa menyimpulkan bahwa ketika pikiran dan hati kita dilatih untuk benar-benar bersyukur, maka kita akan menemukan semakin banyak nilai kehidupan kita yang layak kita syukuri.

Sebaliknya saat kita berfokus untuk menemukan hal-hal yang harus kita keluhkan, maka akan banyak sekali hal-hal kecil sekalipun yang mungkin harus kita keluhkan saat ini.

Semoga ulasan mengikat nikmat dengan bersyukur ini bisa mengingatkan kita untuk lebih bersyukur dan memenuhi hati kita dengan rasa syukur. Semoga bermanfaat amin.

Berharap Kepada Selain Allah Dan Batasannya

Berharap Kepada Selain Allah Dan Batasannya

Berharap Kepada Selain Allah. Dalam keseharian kita seringkali bermuamalah kepada sesama makhluk. Ini tidak bisa kita lepaskan karena kita memang Hidup Diantara sesama manusia. Akan tetapi, dalam hal akidah dan keyakinan, kita mesti hati-hati karena ini yang paling sering membuat kita terjatuh dalam kesalahan. Meskipun kesalahan ini bisa dibilang tidak sengaja, namun perlu kita hati-hati.

Berharap Kepada Selain Allah Dan Batasannya

Berharap Kepada Selain Allah Menurut Syaikh Athaillah

Dalam satu bait Al Hikam nya Syekh Ibnu athaillah menjelaskan, bahwa apabila seorang hamba memiliki sebuah hasrat dan sebuah pengharapan, jangan sampai mengharapkan dan hasad tersebut disampaikan kepada sesama makhluk. Bagaimana seorang makhluk akan mampu menerima pengharapan dari makhluk yang lainnya, sementara dirinya juga lemah seperti dirinya.

Lebih jauh syekh Ibnu athaillah menjelaskan. Bagaimana seorang makhluk akan memenuhi kebutuhan makhluk yang lainnya, yang dirinya sendiri saja tidak mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Bagaimana seorang makhluk akan mampu menerima energi pengharapan seseorang, sementara dirinya sendiri tidak mampu memproduksi energi untuk dirinya sendiri.

Kemudian beliau menyimpulkan, bahwa satu-satunya tempat berharap yang paling tepat adalah Allah. Tempat dimana setiap pengharapan akan berakhir. Tempat setiap harapan dan keinginan berkumpul. Dzat yang akan mampu menerima setiap pengharapan Dan doa-doa Kita. Sang Maha Kuasa yang mampu mengabulkan dan mengembalikan setiap pengharapan dan doa hamba-Nya.

Kisah Rasullah Dalam Ancaman

Dikisahkan suatu saat Rasulullah SAW berperang pernah berada dalam kondisi sendirian. Hingga kemudian datanglah seorang kafir yang menghunuskan pedang kepadanya. Tidur tidak ada seorangpun sahabat yang berada di sekitarnya. Hingga saat dimana pedang itu diarahkan ke leher beliau dan orang kafir tersebut bertanya, ”siapa yang menolongmu wahai Muhammad?”.

Dengan jawaban tegas Rasulullah menjawab,”Allah”. Dengan jawaban tegas dari Rasulullah tersebut, beban tersebut menggetarkan hati dan pikirannya. Hingga kemudian membuat tangannya bergetar hebat sehingga jatuhlah pedang yang dia pegang.

Dan kini dengan cepat pedang tersebut telah beralih tangan ke tangan Rasulullah. Ganti beliau yang bertanya kepada orang kafir tersebut,”siapa yang akan menolongmu?”.

Orang kafir tersebut menjawab,”tidak ada Wahai Muhammad…”.

Dengan kelembutan hati Rasulullah pada saat itu, akhirnya si kafir yang sebelumnya menghunuskan pedang kepada beliau, membuatnya terketuk hatinya dan kemudian masuk Islam dengan sukarela.

Pesan Syaikh Abdul Qodir

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Wahai anak muda! Waspadalah jika Allah melihat di dalam hatimu ada selain Diri-Nya. Waspadalah bahwa Allah melihat di dalam hatimu ada rasa takut kepada selain Diri-Nya, ada harapan kepada selain-Nya, dan ada kecintaan kepada selain kepada-Nya.

Maka, hendaklah engkau berusaha membersihkan kalbumu dari selain Diri-Nya. Hendaklah engkau tidak memandang kemudaratan ataupun manfaat kecuali bahwa itu datang dari Allah.
Engkau selalu dalam rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya.

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

Sudut Pandang Imam Syafi’i

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka, Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” – Imam Syafi’i

Batasan Berharap Kepada Selain Allah

Pada saat seseorang berpengharapan kepada orang lain sesungguhnya dia sedang melemparkan seluruh harapan dan keinginannya kepadanya. Energinya sedang difokuskan kepada harapan-harapannya. Dalam dirinya nol dari energi harapan tersebut karena sudah disampaikan. Walhasil hanya satu yang dia tunggu, terwujudnya harapan-harapan itu.

Dengan besarnya harapan yang dimunculkan dan dilemparkan seseorang kepada makhluk lainnya, ini cenderung telah melampaui batasan yang sesungguhnya. Allah-lah tempat berharap yang sebenarnya. Tentunya dari sisi akidah ini bisa jadi kurang tepat.

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa. Pikiran dan rasa adalah media dimana kita bisa memahami pesan-pesan yang Allah sebarluaskan di atas bumi. Keduanya adalah media yang menjadi pintu-pintu Allah memasukkan pemahaman-pemahaman juga kesadaran kepada diri kita. Baik pikiran maupun rasa, setiap hari kita gunakan dan seringkali kita gunakan tanpa ada hentinya setiap saat.

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Setiap saat digunakan dan setiap saat memproses setiap peristiwa untuk kemudian disarikan menjadi pemahaman dan dimasukkan di dalam hati. Meskipun pada satu saat, saripati peristiwa yang kita serap terkadang salah dalam memaknainya sehingga konotasinya menjadi negatif dalam diri kita. Dan tak jarang pula kita mendapatkan pemahaman yang positif dari setiap apa yang kita alami.

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Sayangnya banyak pikiran maupun rasa kita terkadang tidak pernah diajak untuk beristirahat untuk membuatnya lebih berdaya. Tidak pernah kita latih untuk bisa memanfaatkan potensinya secara penuh. Ada saat-saat dimana saat kita mengerti potensinya (meski cenderung tidak kita sadari), dan bisa memanfaatkannya dengan baik, kita pun atas izin Allah mendapatkan kemudahan-kemudahan atas apa yang kita usahakan.

Seringnya kita juga lupa untuk mengasahnya, sering lupa untuk mendidiknya, sehingga pikiran maupun rasa kita seringkali dalam kondisi lemah dan tidak bertenaga.

Gelombang Alfa dan Beta

Sisi emosional kita sebenarnya paling dipengaruhi oleh kondisi pikiran kita. Kondisi di mana gelombang otak kita saat itu berada. Jika pada saat itu gelombang otak kita berada di gelombang alfa, atau kondisi khusyuk, seringnya kita akan merasakan ketenangan dan kenyamanan.

Sebaliknya saat kita berada di gelombang beta, kondisi dimana kita benar-benar fokus dan merasakan ketegangan beraktivitas, seringnya kita akan merasakan emosi kita cenderung tidak stabil. Kita sedang merasakan kelelahan, ketidaknyamanan, dan juga mudahnya kita terpancing oleh peristiwa-peristiwa yang membuat kita seakan cepat mudah marah.

Dengan melihat kondisi kondisi yang sering terjadi dalam diri kita, dan kurangnya kemampuan kita untuk mengajarinya tetap pada gelombang gelombang alfa. Seringkali membuat kita gampang marah, gampang tersulut emosi, salah dalam mengambil keputusan dan tindakan.

Sudut Pandang Kebijaksanaan dan Luasnya Pandangan

Pikiran kita begitu mempengaruhi cara kita melihat sesuatu. Saat kita memiliki wawasan yang luas akan sesuatu, biasanya kita akan cenderung lebih bijaksana dalam melihat dan memandang sesuatu itu juga. Sehingga kecenderungan kita pun akan menjadi jauh lebih bijaksana dan jauh lebih tenang dalam melihat dan menyikapi setiap kasus.

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Beberapa orang yang kita lihat memiliki ilmu yang luar biasa dan juga pengalaman yang luar biasa, seringkali begitu tenang dan begitu bijaksana dalam melihat dan memutuskan setiap masalah. Barangkali ini karena dipicu dalam pikirannya ia sudah memiliki database masalah-masalah tersebut secara terstruktur dan rapi. Dia bisa melihat setiap kemungkinan-kemungkinan dari masalah yang ada di depannya. Dia bisa melihat setiap solusi solusi yang mungkin bisa dia dapatkan dari setiap masalah yang dihadapinya. Sehingga cenderung tenang dan cenderung lebih tenang lagi saat benar-benar dipertemukan dengan masalah-masalah di depannya.

Seperti halnya seorang binaragawan yang sudah sering mengangkat beban beban berat, bahkan meskipun tanpa melakukan pemanasan sebelum nya mereka mampu mengangkat beban yang berat yang mungkin tidak lazim diangkat oleh orang lain. Seakan-akan tangannya penuh energi dan mengangkatnya dan begitu mudah. Sementara beberapa di antara kita mengangkat dengan penuh usaha.

Latihan Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Melatih dan menstimulasi pikiran kita agar bisa melihat setiap masalah dengan sudut pandang yang jauh lebih luas, dan juga melatih perasaan kita untuk bisa lebih tenang dalam melihat segala sesuatu, adalah salah satu kompetensi yang jarang kita lirik dan terlupakan dari diri kita.

Seringnya kita hanya menggunakan pikiran dan perasaan kita untuk mengeksekusi setiap peristiwa atau kejadian dan pekerjaan yang ada di depan kita. Namun jarang kita melatihnya untuk bisa lebih efektif menggunakannya.

Orang-orang Jawa dulu begitu terkenal mampu mengolah rasa mereka. Memadukan antara kebijaksanaan lokal dan keterampilan hati, untuk bisa melihat dan merasakan Setiap peristiwa yang terjadi dengan dari sudut yang jauh lebih tinggi. Peristiwa yang terjadi dari sudut pandang hati dan kebijaksanaan yang jauh lebih tinggi. Mereka terbiasa untuk tidak selalu mendahulukan emosional mereka.

Uniknya kemampuan orang jawa ini sudah menjadi kultur yang telah melekat dalam diri mereka. Sehingga seakan-akan keterampilan hati ini tidak sekedar teori yang mungkin sering kita temukan di buku-buku dan modul modul pembelajaran dan pengembangan diri. Namun benar-benar menjadi karakter yang melekat dalam diri mereka.

Sing Sabar Subur

Seperti halnya falsafah Sabar Subur. Falsafah ini mungkin bagi beberapa orang yang cenderung membuat seseorang tidak berdaya. Barangkali beberapa orang falsafah ini juga akan membuat dirinya akan mudah ditekan oleh orang lain. Membuat diri tidak berdaya. Dan mungkin akan di manfaatkan oleh orang lain,

Namun seperti yang kita lihat bahwa orang Jawa begitu kuat memegang falsafah sabar subur ini. Falsafah yang cenderung memiliki makna apabila seseorang ketika menghadapi segala sesuatu, dia menyikapinya dengan cara yang sabar. Sabar berarti menerima peristiwa tadi. Sabar berarti tidak tinggal diam, akan tetapi sikap menerima dari peristiwa yang sudah ada di depannya. Dan ketika seseorang sudah mampu melakukannya, cenderung kemudian mendapatkan solusi dari setiap masalahnya. Dan itulah makna subur.

Sing Kutah Wutuh

Falsafah lainnya seperti sing kutah wutuh. Sebuah falsafah dan ajaran agar kita mau berbagi kepada orang lain. Falsafah yang mengajarkan kita ketika seseorang mau berbagi dengan orang yang lainnya, maka dia tidak akan mengalami kekurangan dan justru akan dicukupi kebutuhannya.

Falsafah falsafah tadi begitu erat kaitannya dengan keterampilan hati dan olah rasa. Jika dulu falsafah falsafah ini kental karena begitu kuat dipegang secara kultur masyarakat Jawa, namun sekarang kecenderungannya hanya menjadi sebuah teori. Sehingga falsafah tersebut tidak memiliki energi, dan hanya sekedar berputar di kepala.

Alangkah baiknya jika kemudian kita bisa belajar untuk melakukan olah rasa. Belajar untuk bisa memaksimalkan dua potensi besar kita pikiran dan rasa.

Gergaji Yang Aus

Alkisah diceritakan ada seorang tukang gergaji. Setiap hari dia mampu memotong pohon dengan gergaji nya. Hari hari pertama dia mampu memotong dengan cukup banyak pohon. Dan seiring dengan itu, banyak pohon yang mampu Dia tebang setiap hari mulai berkurang. Dia mulai heran karena kondisi fisiknya juga baik-baik saja. Kondisi fisiknya juga ber energi.

Lama dia memikirkan masalah itu. Hingga kemudian dia bertemu dengan salah satu pemilik perusahaan yang diikuti.

Pertanyaan yang kemudian terlontar dari pemilik perusahaan tersebut hanya simple, ” kapan kamu terakhir mengasah gergaji?”.

Ternyata tukang kayu tadi lupa untuk mengasah gergaji nya. Dalam pikirannya dia hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya semakin cepat dan lebih cepat. Dia berpikir bahwa mengasah gergaji hanya buang-buang waktu saja dan memperlambat pekerjaannya. Dia berpikir dengan mengasah gergaji dia akan kehilangan waktunya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Efektifitas dalam pekerjaannya pun semakin berkurang karena gergajinya tidak pernah diasah.

Pikiran dan perasaan seperti halnya gergaji. Mengajarinya dan mengasahnya setiap saat untuk bisa memaksimalkan kinerja hanya akan mampu meningkatkan efektivitas kehidupan kita. Menjadikan pola pikir kita jauh lebih positif dan menjadikan kita jauh lebih berdaya.

Mengasah dan mengajari pikiran kita dengan banyak pengetahuan dan menyerap berbagai macam pengalaman. Mengajari perasaan kita dengan mengajarinya bagaimana merasakan gelombang alfa. Dengan mengajarinya bagaimana kita tetap dalam kondisi meditatif dan tenang.

Mengasah gergaji, menyisihkan sedikit waktu untuk membuat kita jauh lebih berdaya.

Wallahu A’lam Bishawab

Studi Kasus EFT dan Niat Melepaskan Emosi

Studi Kasus EFT dan Niat Melepaskan Emosi

Studi Kasus EFT. Setelah sekian lama menggunakan terapi emotional freedom technique (EFT), dan menerapkannya di beberapa kasus. Ternyata pemahaman yang saya dapatkan sebelumnya masih belum mencukupi untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi pada proses pelepasan emosi. Ada beberapa catatan lagi yang ternyata perlu saya lebih pahami dalam konteks niat dan memutuskan rantai perasaan dalam sebuah ikatan emosional.

Studi Kasus EFT dan Pentingnya Set Up

Ini terjadi sebelum sharing EFT yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu. Saya sempat melihat video pakar hypnoterapis Indonesia, Ary W Gunawan yang menjelaskan dengan gamblang EFT dan penerapannya. Perhatian saya tertuju pada proses set up yang dijelaskannya. Saya melihatnya justru sebagai inti EFT itu sendiri. Mirip leading dalam hypnoterapi. Beginilah kiranya pemikiran saya dalam hal ini;

Memori dan Emosi

Jika seseorang mengalami peristiwa yang cukup traumatik dalam kehidupannya, biasanya perasaannya akan tetap mengikuti dirinya seiringan dengan memori yang muncul dalam dirinya. Ketika dia mengingat peristiwa yang membuatnya mengalami trauma yang begitu hebat, perasaannya mengikutinya secara otomatis. Kekhawatiran, ketakutan, ketegangan, dan perasaan-perasaan lain tiba-tiba muncul kembali dan mengiringi.

Studi Kasus EFT dan Niat Melepaskan Emosi

Perasaan ini kemudian menjadi lebih kuat, tatkala pikirannya memutar kembali gambar-gambar yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi. Semakin sering dia mengingatnya, perasaan ini pun muncul semakin kuat. Seakan-akan, perasaan ini terikat kuat dengan memori memori masa lalu yang ada dalam pikirannya.

Memori Tak Terhapuskan Tapi Terlupakan

Lazimnya pikiran tidak akan bisa dihapus memorinya, sehingga seringkali sampai kapanpun peristiwa itu akan ada dalam dirinya. Peristiwa itu akan tetap diingatnya meskipun selama sekian tahun. Yang terjadi bukan lupa tapi seringkali Terlupakan. Terlupakan berarti tidak sengaja lupa. Atau fokusnya beralih dari peristiwa tadi ke kegiatan lain atau aktivitas lain yang membuatnya benar-benar lupa dan hilang fokus ke peristiwa sebelumnya.

Nah sampai di sini, sebenarnya pikiran tetap menyimpan memori memori masa lalu, begitu juga energinya. Keduanya masih terikat satu sama lain dengan kuat karena belum pernah dilepaskan. Keduanya akan sama-sama saling menguatkan ketika memori ini dimunculkan kembali dalam pikiran.

Maka mungkin pernah suatu saat terjadi, saat kita terlupakan peristiwa yang membuat kita trauma. Kemudian dengan sengaja kita mengingatnya kembali. Memunculkannya dengan sengaja gambar-gambarnya, dan juga mengingat peristiwa-peristiwa nya. Maka kemudian perasaan-perasaan yang mengiringinya pun akan kembali muncul.

Kaitan Memori dan Emosi

Pertanyaannya, sebenarnya yang bermasalah memorinya ataukah perasaannya?

Ketika kita tahu bahwa memori sebenarnya yang ada dalam pikiran kita tidak akan pernah bisa kita hapus, maka yang bisa kita lakukan adalah melepaskan ikatan perasaannya. Melepaskan energi perasaan yang mengitari memori-memori tersebut. Sehingga saat kita mengingat yang energi perasaan tidak lagi mengikuti nya.

Pentingnya Set Up

Dalam kasus yang terjadi pada pelepasan emosi emotional freedom technique (EFT), pada awal terapinya dilakukan set up. Nah pada proses set up ini ternyata memiliki peran yang luar biasa Untuk membukakan pintu terputusnya energi perasaan dengan memori tadi. Ibarat awal terapi hipnosis, set up ini semacam proses menggiring perasaan klien agar bisa dihipnotis. Sehingga apabila set up ini berhasil, maka Proses pelepasan emosi pada terapi emotional freedom technique (EFT) seringkali akan berhasil. Dan biasanya kadang mendekati skala 2 atau 1.

EFT itu Self Therapy

Keberhasilan set up ini ditentukan oleh bagaimana proses seseorang untuk benar-benar mengikuti proses terapinya. Karena sebenarnya tidak ada proses hipnosis yang dilakukan oleh seorang terapis kepada kliennya, kecuali self hypnosis itu sendiri.

Itu artinya tidak ada keberhasilan terapi yang dilakukan oleh seorang terapis kepada kliennya, kecuali 80% ditentukan oleh klien itu sendiri. Jika si klien siap mengikuti semua proses yang dilakukan oleh terapis, maka kebanyakan proses ini akan berhasil dengan baik. Meskipun beberapa faktor lain juga menentukan.

Sampai disini kita bisa mengerti pentingnya set up. Set up itu berisi niatan niatan tulus dan benar-benar secara sadar mau berproses menuju kesembuhan. Jika proses set up ini berhasil, akan memicu proses selanjutnya untuk lebih mudah dilakukan. Dan setup ini saja sebenarnya sudah cukup untuk memutuskan rantai ikatan emosional dan memori yang terjadi dalam diri seseorang.

Studi Kasus EFT dan Niat Melepaskan Emosi

Proses Set Up Dari Studi Kasus EFT

Lalu Bagaimanakah proses set up itu sendiri?

Dalam kasus pelepasan emosi pada terapi emotional freedom technique (EFT), set up bisa dilakukan dengan meletakkan dua jari pada dada sebelah kiri, dengan sedikit menekannya dan memutar searah jarum jam. Sambil meniatkan dalam diri untuk memutuskan rantai emosional yang mengikat dirinya, kemudian meniatkan dalam hati untuk menjalani kehidupan yang lebih positif. Sambil fokus merasakan perasaan perasaannya dan mengikhlaskannya. Dan Hal ini dilakukan dua sampai tiga kali.

Biasanya setelah setup ini dilakukan, skala perasaan sebelumnya akan turun mendekati 2 ataupun 1. Sehingga Proses pelepasan emosi yang dilakukan berikutnya tinggal sedikit saja. Tentunya ini lebih mudah dilakukan daripada proses hipnosis. Meski proses awalnya mungkin hampir sama, namun EFT ini menawarkan sedikit lebih mudah prosesnya ketimbang hypnosis. Maka inti dari proses terapi emotional freedom technique (EFT) terletak pada set-up ini. Semakin bagus dan matang set up nya, maka semakin berhasil proses terapinya.

Catatan Studi Kasus EFT

Jika anda kebetulan ingin menerapkan pelepasan emosi dengan menggunakan terapi emotional freedom technique (EFT), silakan memaksimalkan proses set up nya lebih dulu. Memaksimalkan proses setup Sama halnya dengan memaksimalkan proses berikutnya. Keberhasilan di awal menentukan keberhasilan di belakangnya. Setidaknya itu sedikit catatan saya dari Set Up pada Studi Kasus EFT yang mungkin bisa Anda pertimbangkan.

Belajar Olah Rasa Untuk Lebih Berdaya

Belajar Olah Rasa Untuk Lebih Berdaya

Belajar Olah Rasa. Salah satu penelitian menyebutkan bahwa salah satu gelombang paling kuat energinya yang berasal dari tubuh kita adalah frekuensi rasa. Rasa mewakili bahasa bawah sadar yang menurut para ilmuwan kekuatannya 9 kali lipat pikiran sadar. Itu artinya ketika kita menggunakan bahasa rasa, maka kita sedang menggunakan kekuatan dan potensi yang paling besar dalam diri kita.

Belajar dan Mengenal Olah Rasa

Setiap peristiwa yang kita alami, setiap pengetahuan yang kita miliki, dan setiap harapan dan doa yang kita panjatkan, terwakili inti energinya melalui rasa. Orang-orang Jawa dahulu menyebutnya ilmu Roso.

Belajar Olah Rasa Untuk Lebih Berdaya

Dikisahkan beberapa di antara mereka seringkali diam. Tidak menggunakan ilmu apapun ketika menghadapi masalah. Justru yang mereka lakukan adalah berdiam diri. Menata rasa dan pikirannya. Menata hatinya untuk kembali Suwung. Mengembalikan diri pada titik nol dan pasrah kepada Allah.

Suwung dan Berdaya

Setelah pikiran dan hatinya kembali suwung, dan hanya fokus pada satu titik yaitu Allah, kemudian melakukan permohonan dan doa kepada Allah, dalam kondisi yang benar-benar nol, dari segala ego diri dan kesombongan. Walhasil keyakinan penuh memenuhi dirinya.

Mereka berhasil menata rasanya, dari kebingungan kepanikan dan kekhawatiran, menuju titik nol. Titik dimana kita merasa kusuk tenang dan bahagia. Titik dimana kita merasakan kedekatan dengan Allah. Titik dimana kita merasa doa-doa dikabulkan lebih cepat atau datangnya solusi dari Allah.

Mikrokosmos dan Makrokosmos

Mereka menyadari betapa hati dan kondisinya begitu mempengaruhi kondisi di luar tubuhnya. Mereka menyadari akan keterhubungan adanya mikrokosmos (jagad cilik) dan makrokosmos (jagad gedhe). Mereka menyadari mikrokosmos mewakili dirinya dan semua elemen tubuhnya. Sementara makrokosmos memiliki alam di sekitarnya yang berpengaruh dengan kehidupannya langsung.

Keterhubungan keduanya akan sangat jelas ketika hati dan pikiran yang kacau, mendadak lingkungan di sekitarnya pun terasa tidak mendukung dirinya. Banyak hal yang membuatnya tidak suka, dan banyak hal yang membuatnya tidak nyaman.

Dan ketika hati dan pikiran semakin tenang dan semakin bersyukur adanya, atas izin Allah lingkungan di sekitar pun mendadak menjadi sangat tenang nyaman dan menyenangkan. Seakan-akan semuanya mendukung kepada kita dan keberhasilan kita melakukan sesuatu.

Kecerdasan Emosi

Sebenarnya ketika kita mempelajari banyak hal dan keterampilan skill dalam pengelolaan emosi, rata-rata ajaran agama Islam selalu mengajarkan kepada kita untuk pandai dalam mengelola emosi. Mengelola diri untuk bisa sabar, syukur, menahan diri, ikhlas, qanaah, sifat-sifat lainnya yang begitu luar biasa. Rata-rata mengacu pada kelola emosi keterampilan dan kemampuan mengelola emosi.

Rata-rata ajaran itu berhubungan dengan kecerdasan emosional. Kecerdasan yang digadang-gadang oleh para penemu bahwa inilah yang menjadikan keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Beberapa penemuan menyebutkan bahwa kecerdasan intelektual tidak terlalu dan belum menjamin berpengaruh pada kesuksesan seseorang.

Namun beberapa penelitian menyebutkan, bahwa rata-rata orang-orang sukses adalah orang-orang yang mampu mengelola emosinya secara cerdas. Dari sini kita harus bisa mengambil beberapa kesimpulan, bahwa ajaran ajaran Rasulullah juga ajaran orang-orang Jawa dahulu begitu luar biasa adanya.

Rata-rata orang dulu mampu mengelola emosinya dengan cara yang begitu luar biasa. Mereka lebih mengedepankan Toto Roso, ketimbang mereka mengedepankan ego. Mereka cenderung ikhlas menerima keberadaan, lebih banyak bersyukur daripada mengeluh nya.

Belajar Olah Rasa Dengan Lebih Sengaja

Kembali ke soal olah rasa. Beberapa penemuan sekarang ini ternyata banyak sekali referensi yang menyebutkan teknik-teknik simpel yang bisa kita gunakan untuk bisa meningkatkan kemampuan dan mengasah ilmu Roso kita.

Bagaimana caranya?

Salah satunya adalah dengan menggunakan ilmu syukur. Yaitu dengan kita menggunakan kemampuan hati kita dan imajinasi kita untuk sebenarnya saat ini merasakan benar-benar sangat bersyukur. Benar-benar sangat menikmati kehidupan yang Allah berikan kepada kita dengan sepenuh hati senang pikiran dan sepenuh rasa.

Belajar Olah Rasa Untuk Lebih Berdaya

Meyakini sepenuhnya bahwa Allah sudah memberikan yang terbaik yang kita minta. Terlepas dari apapun yang sudah kita terima sekarang. Semuanya disyukuri dan diyakini dengan sepenuh hati bahwa semuanya sudah terjadi, dan wujudkan Allah dalam kehidupan kita.

Ibarat sebuah doa, sebelum doa itu dikabulkan kita sudah mensyukurinya. Kita sedang memesan sesuatu kepada para penjual, kita sudah membayarnya lebih dulu dan menunggu makanan itu jadi. Bersyukur di awal sebagai sebuah cara melatih diri kita untuk tetap optimis, dan yakin akan  terkabulnya doa oleh Allah.

Syukur Lebih Dulu

Disini kita dilatih untuk fokus mensyukuri apa yang sudah kita terima sepenuhnya. Dan tidak bermaksud untuk kemudian memaksa Allah mengabulkan apa yang kita minta. Akan tetapi di satu sisi, kita sedang merasakan hujannya kemurahan Allah kepada kita. Dimana Allah memberikan janji kemurahan-Nya kepada kita. Apabila seorang hamba kepada Allah berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan memberikan dan menjadikan apa yang dipersangkakan kepada-Nya.

Dalam kondisi seperti ini, mulai dari ucapan dan tingkah laku kita pun harus menunjukkan kita sedang bersyukur atas karunia yang sudah didapatkan. Benar-benar bersyukur dan merasa bahagia sekarang.

Berlebihankah?

Pertanyaannya, Apakah ini berlebihan?

Tentu kondisi ini harus kita posisikan dalam keterampilan hati kita dalam mengelola emosi. Dalam ranah zhahiriyah, kita pun tetap harus berusaha sebagaimana mestinya. Namun pikiran dan hati kita harus kita kondisikan, bahwa kita sedang menuju pada proses doa-doa kita dikabulkan. Kita sedang diproses oleh Allah menuju kita.

Dengan tetap menjalani kehidupan kita sebagaimana mestinya dan bagaimana seharusnya, kita terus bersyukur dan bersyukur. Sembari menunggu, bagaimana Allah akan memberikan tanda-tanda terkabulnya doa kita. Disinilah kita belajar olah rasa. Belajar mengelola kecerdasan emosi kita.

Sensifitas Hati dan Pikiran

Sebagai bahan pertimbangan, ketika hati dan pikiran kita sudah meyakini sesuatu, fokus pada sesuatu itu, maka dengan sendirinya sel-sel pikiran kita akan cenderung reaktif, dan cenderung sensitif untuk melihat setiap kemungkinan-kemungkinan dari apa yang kita minta. Sehingga tanpa kita sadari, banyak peluang peluang yang kemudian muncul dan dalam pikiran kita. Dan mungkin itu salah satu jalan dari permohonan-permohonan kita.

Belajar olah rasa akan mungkin jadi solusi masalah kita. Semoga bermanfaat!

Wallahu A’lam Bishawab. Wala haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim.

Kosong Adalah Berisi dan Berisi Adalah Kosong

Kosong Adalah Berisi dan Berisi Adalah Kosong

Kosong adalah berisi dan berisi adalah kosong

Kosong adalah berisi dan berisi adalah kosong. Kalimat ini dulu seringkali diucapkan oleh guru Kera Sakti. Sebuah ungkapan yang cukup filosofis dan untuk memahaminya tidak cukup hanya melihat sekilas saja. Yang aneh saya sendiri baru memahaminya beberapa menit yang lalu.

Apa sih kaitannya ungkapan kosong adalah isi dan isi adalah kosong dengan dzikir yang sedang kita pelajari?

Untuk memahami kalimat tersebut marilah kita sejenak menggambarkan dalam pikiran kita masing-masing sebuah wadah. Anggap saja di depan Anda sedang ada sebuah gelas kosong. Kemudian saya bertanya kepada anda, apakah Gelas itu kosong?

Kosong Adalah Berisi, dan Berisi Adalah Kosong

Gelas Kosong I’tibar Kosong Adalah Berisi

Maka tentu saja Anda akan menjawab bahwa gelas itu kosong karena memang tidak ada isinya apa-apa. Kenyataannya anda tidak melihat apa-apa di dalamnya. Dan ketika Anda menyatakan bahwa Gelas itu kosong itu juga benar adanya. Secara kasat mata memang penglihatan kita tidak melihat apapun ada di dalam gelas itu.

Mengapa kita tidak melihat sesuatu yang lain? Karena kesadaran kita menetapkan bahwa rata-rata benda yang ada di dalam gelas adalah air, atau jika benda itu bukan air, benda itu bisa kita lihat secara kasat mata.

Membenarkan Tak Sekedar Karena Terlihat

Kebenaran yang seringkali kita lihat, buru-buru kita klaim bahwa itu benar karena kita melihatnya. Kadang kita kemudian dengan cepat bisa menyalahkan karena kita tidak melihatnya (memahaminya).

Kembali ke soal gelas kosong. Setelah saya mendeskripsikan beberapa hal di atas, kemudian saya bertanya kembali kepada anda, apakah gelas itu benar-benar kosong? Mungkin jawaban anda sekarang akan lain. Anda sudah menemukan bahwa ada kenyataan benda lain yang memang meskipun secara kasat mata tidak terlihat, ada wujudnya dan kita menyadari keberadaannya.

Bisa jadi anda akan mengatakan bahwa gelas itu berisi udara. Gunakan mengatakan sekarang Bahwa Gelas itu penuh. Penuh berisi dengan udara yang memenuhi seluruh bagian ruangan yang ada pada gelas tersebut.

Pernyataan, kosong adalah berisi dan berisi adalah kosong juga berlaku tidak hanya pada benda namun juga pada diri kita sebagai seorang manusia.

Kosong dan Isi Dari Allah

Ketika seseorang kosong dirinya dari sadar dan ingat akan Allah, maka sebenarnya dirinya tidaklah kosong namun berisi. Diri yang kosong dari kesadaran akan Allah, sebenarnya berisi hal lain selain Allah. Bisa jadi pekerjaannya, bisa jadi kesibukannya, keluarganya, atau kekasihnya.

Ketika seseorang merasa dirinya penuh diisi dengan kesadaran Allah, maka Sebenarnya dia juga sedang kosong. Kosong dari hal lain selain Allah.

Ketika seorang yang dipenuhi energi positif, maka Sebenarnya dia juga sedang kosong. Kosong dari energi negatif.

Ketika seseorang dipenuhi energi negatif, sebenarnya dia juga sedang kosong dari adanya energi positif.

Alam dengan energinya memiliki keseimbangan yang luar biasa. Ketika seseorang mengosongkan dirinya dari energi negatif, maka secara otomatis alam ini akan menyeimbangkan diri kita dengan mengisinya energi positif. Alam dengan kecerdasannya, dengan sunnatullah yang sudah ada, akan melihat rongga-rongga dalam diri kita yang kosong.

Jika dalam diri kita ada energi negatif, kemudian kita mengosongkannya, melepaskannya dan mengikhlaskannya, maka atas izin Allah energi positif akan mengalir dengan sendirinya memenuhi seluruh diri kita. Menggantikan energi negatif yang sudah kita lepaskan.

Sebaliknya jika kita bersikap yang negatif, berarti kita sedang memenuhi diri kita dengan energi energi negatif. Hal itu terjadi pada diri kita, berarti kita sedang mengosongkan energi positif dalam diri. Maka yang terjadi gantilah energi negatif kemudian memenuhi diri kita.

Kosong adalah berisi dan berisi adalah kosong.

Kosongkan Yang Negatif

Untuk membuat kita penuh dengan energi positif, kita harus mulai mengosongkan diri kita dari energi-energi negatif. Ketika kita mengeluarkan seluruh energi negatif. Menghilangkan seluruh sekat-sekat energi negatif dalam diri, maka secara otomatis energi positif ganti mengalir memenuhi diri kita.

Ketika kita memenuhi diri kita pergaulan yang positif, menghilangkan sekat-sekat pergaulan yang negatif, maka otomatis rata-rata pergaulan kita pun akan dipenuhi yang positif. Ketika kita mengosongkan diri dari pergaulan pergaulan positif, maka diri kita pun akan didekati dengan pergaulan pergaulan yang sifatnya negatif.

Kosong Adalah Berisi, dan Berisi Adalah Kosong

Wadah Terbuka Yin Yang

Diri kita ibarat sebuah wadah yang terus terbuka, mengalir keseimbangan energi Yin dan Yang. Terus begitu setiap saat berubah dan dinamis, begitu seterusnya setiap saat. Dan untuk memenuhi diri kita dengan energi positif, langkah pertama yang kita lakukan adalah mengeluarkan energi negatif dalam diri. Ketika kita menghilangkan sikap-sikap pola pikir yang negatif dalam diri kita, otomatis diri kita akan dipenuhi dengan energi positif.

Wallahu A’lam Bishawab.