08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Terus Belajar Dari Jalinan Pertemanan

Terus Belajar Dari Jalinan Pertemanan

Terus belajar adalah sebuah keniscayaan. Sebuah keharusan dan kebutuhan bagi setiap orang. Tak peduli apakah orang itu besar, kecil, ataupun kah tua atau muda. Belajar adalah proses yang sebenarnya dijalani setiap orang, namun kadang ada yang menyadari, kadang juga tidak. Ada yang melakukannya secara sengaja, ada juga yang tidak. Proses belajar memang bisa dilakukan kapanpun dan dengan siapapun. Bahkan mungkin dari tayangan TV, majalah, atau sobekan lembaran koran. Bisa juga saat jalan-jalan, makan-makan, atau bahkan saat kita beristirahat.

Terus Belajar Dari Jalinan Pertemanan

Terus Belajar Dari Jalinan Pertemanan

Tanpa Sadar Terus Belajar

Saat kuliah dulu, kami pernah mengikuti sebuah multi level marketing. Dengan semangat kami mengikuti beberapa kali pertemuan yang diadakan. Di sana kami berbagi pengalaman, menceritakan proses, belajar menemukan alur, belajar mengenal produk, dan lainnya. Namun, ada satu hal yang sampai saat ini berkesan di dalam diri. Sebuah ungkapan yang menyebutkan bahwa ada tiga hal yang mempengaruhi masa depan seseorang; siapa temannya, buku apa yang dia baca, dan apa target dan cita-citanya.

Sebuah simbol interaksi yang sering kita lakukan, namun tak terasa ada proses besar terjadi di sana. Tanpa disadari, kita pun terus belajar di sana. Melalukan sebuah proses memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.

Teman, di mana kita sering ketemu. Akan ada pertukaran pemikiran, pertukaran ide, pertukaran karakter, bahkan pertukaran uang. 😀 Dalam interaksi dengan teman, kita akan cenderung membuka diri atas pemikiran, saran, perspektif yang disampaikan tanpa sempat mengritisi secara utuh. Mengapa? kita sudah percaya, kita sudah klik, kita sudah oke, dan kita sudah yakin pemikiran teman kita ini baik. Apalagi jika teman yang memberikan saran misalnya, teman akrab yang sering bertemu dan berbagi. Ini ada manfaat dan bahayanya.

Proses Masuknya Gagasan

Jika anda pernah belajar hypnotherapy, Anda akan menemukan satu konsep yang disebut leading. Leading ini dimaksudkan agar kita bisa menggiring klien yang akan diterapi akan mudah menerima gagasan kita, menerima saran kita, dan menerima sugesti kita. Biasanya mereka akan mencoba dengan menyamakan gerakan, bersapa dan senyum, pertanyaan yang mendekatkan secara emosional, dan lainnya. Itupun harus melalui jalan yang kadang cukup panjang. Bagaimana hal dengan gagasan dari seorang teman?

Gagasan seorang teman cenderung tidak demikian. Lahir dengan kenyamanan dan keterbukaan. Mudah diterima meski sambil guyonan lalu. Ini uniknya. Makanya, sistem RAS (Reticular Activating System) yang bertugas menyaring gagasan yang masuk ke dalam diri kita menjadi sedikit longgar. Ibarat sebuah sistem keamanan. Jika sistem itu mendeteksi aktivitas biasa atau orang itu tidak menunjukkan tanda-tanda asing, radar tidak mendeteksi kecurigaan dan meloloskan.orang yang melaluinya.

Teman sudah kita anggap sebagai hal baik. Otomatis diri kita akan jauh lebih terbuka akan saran-sarannya, meski hal ini kadang tidak sengajar. Kadangkalanya, kita hanya berlalu dalam sebuah candaan, namun isi dari apa yang disampaikannya tiba-tiba masuk ke dalam diri kita. Yah, meskipun ini juga dipengaruhi karakter dan mindset masing-masing orang yang berbeda. Ada yang terbuka, ada yang setengah terbuka, atau benar-benar tertutup.

Implikasi Positif

Jika kebetulan teman kita bagus, maka kita pun akan berkembang dengan lebih baik. Namun jika sebaliknya yang terjadi adalah buruk, maka kita pun akan mengalaminya. Sedikit atau banyak. Meski dalam kondisi normal kita tidak seperti sedang belajar, berdekatan dengan teman adalah proses belajar juga. Terus belajar mengenal pola yang terbaik dari orang-orang terbaik di sekitar kita bisa menjadi salah satu cara kita berkembang lebih baik.

Sebuah ungkapan jika kita berdekatan dengan pandai besi, kita pun akan merasakan bau bekas asap pembakaran. Saat kita dekat dengan penjual minyak wangi, kita pun akan merasakan wanginya juga.

Terus Belajar Dari Jalinan Pertemanan

Cara Mengetahui Karakter Seseorang

Sebuah syair Arab yang menjelaskan siapa kita dan bagaimana cara mengetahui karakter seseorang menyebutkan, “jika engkau ingin mengetahui karakter seseorang, janganlah kamu bertanya kepadanya. Namun, lihatlah siapa temannya, karena seorang teman akan mengikuti siapa temannya”.

Nah, kembali ke kita? Siapa teman terbaik dan terdekat kita saat ini!

Terus Belajar Pada Perintah Pertama

Perintah agar kita terus belajar bisa kita lihat dari surat al-a’alaq ayat pertama. Sebuah keajaiban tatkala ayat pertama turun dengan perintah bacalah. Sebuah perintah yang menunjukkan pandangan visioner dari ajaran-ajaran Islam akan masa depan, kemajuan umat dan peradaban. Bagaimana tidak? tatkala 1400 tahun yang lalu, orang-orang masih tenggelam dalam kegelapan (kebodohan), Islam datang menyerukan perintah agar kita menjadi masyarakat yang maju dan berkembang. Penuh dengan ilmu pengetahuan, akhlaq dan kebudayaan tinggi.

Tak ayal lagi.Saat kita berteman dengan seseorang yang baik, atau bahkan Alim. Maka ini adalah sebuah proses yang baik, proses yang nantinya akan mampu mengantarkan kita menuju pola pikir, akhlaq, dan kebiasaan yang baik. Di sini kita pun secara tidak langsung sudah mengamalkan perintah untuk belajar, perintah untuk mencari ilmu, dan perintah untuk bertafakkur atas ilmu-Nya yang bertebaran di alam ini. Dan berteman dengan teman terbaik adalah proses pembelajaran terbaik yang sering terlupakan.

Inilah alasan kenapa sebuah pesantren membuat sebuah wadah khusus dimana santri santri berkembang dan tergembleng dengan kebiasaan-kebiasaan positif. Dari kebiasaan baik yang setiap hari terjadi, setiap hari bersinggungan, akan muncul muncul satu kebiasaan utuh yang mengakar menjadi karakter.

Mungkin pada awalnya beberapa yang berbeda karakter satu dengan lainnya, namun dengan lama-lama dengan proses disiplin, karakter bawaan awal akan mengelupas seperti halnya butir-butir padi pada mesin selep, yang akhirnya justru membuat benih pada itu bisa dimakan dan muncul kebaikan serta manfaatnya.

Teori ini bisa dipakai seorang BK untuk menemukan akar masalah, memecahkan alur masalah, atau bahkan menemukan serta memberikan solusi akan masalah seorang murid. Inilah kekuatan dalam jalinan pertemanan!

Kriteria Terbaik Yang Simpel

Siapakah teman terbaik? Lagi-lagi sebuah ungkapan menyebutkan, “sebaik-baik teman adalah yang menunjukkan kepadamu kebaikan”.

Langkah Terbaik Menjadi Teman Terbaik

Lazimnya dalam pertemanan ada baik dan buruk, namun apakah hal buruk juga benar-benar membuatkan kita buruk? Buruk adalah buruk, dan baik adalah baik.

Meski demikian, baik dan buruk adalah sebuah pembanding. Keduanya bersandingan. Baik dan buruk akan masing-masing membuat satu sama lainnya terlihat. Dan dari keduanya, akan menjadi nyata bahwa kebaikan adalah pilihan terbaik bagi kita. Terus belajar adalah upaya terbaik memperbaiki diri.

Dengan memperbaiki diri, kita sedang memperbaiki lingkungan kita. Dengan memperbaiki diri, kita sedang memperbaiki pertemanan kita. Kita belajar menjadi berkah bagi teman dan lingkungan kita. Kita belajar menjadi manfaat bagi lingkungan. Kita belajar menjadi sebaik-baik manusia.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaqnya dan paling bermanfaat bagi sesamanya”. (al-Hadits).

Wallaahu ‘alamu bi al-Shawaab

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur. Apa yang memenuhi hati dan rasa kita, akan menjadi doa-doa yang tidak terlihat dan kasat mata. Hati yang dipenuhi rasa syukur penuh dengan energi positif atas kehidupan yang telah diterima dan yang akan dijalani. Hati yang penuh rasa syukur, berfokus untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal yang belum didapatkan menuju hal-hal yang sudah diterima dan kebaikan-kebaikan yang sudah didapatkan.

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat dan Logikanya

Orang yang senantiasa memenuhi rasa dan hatinya dengan bersyukur, berarti dia sedang mengunci setiap hal dan kebaikan yang sudah diterima. Energi yang dipancarkan oleh pikiran dan hatinya masuk ke setiap benda-benda dan setiap hal yang sudah dia terima. Energi itu menguncinya tetap ada. Membuat setiap nikmat yang sudah diterima menjadi semakin awet dan berkah adanya.

Logika yang mungkin akan jarang diterima oleh setiap orang adalah bahwa benda-benda yang ada di sekitar merespon kita sebagaimana kita meresponnya. Ketika seseorang beranggapan bahwa apa yang ada di sampingnya tidak meresponnya, maka benda-benda itu pun tidak akan merespon kepadanya dengan cara yang baik.

Untuk menjelaskan logika yang mungkin jarang diterima di atas kita akan mencoba melihat beberapa hal yang mungkin terjadi dan sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat Sisi Positifnya

Seseorang yang memiliki HP dengan harga dua juta mungkin akan berpikir bahwa HPnya masih kurang bagus ketimbang HP dengan harga 5 juta. Orang yang bersyukur tidak akan mempermasalahkan kondisi HPnya yang masih dalam level harga dua juta. Bahkan dia justru bersyukur, HPnya sudah cukup bagus dan bisa digunakan untuk keperluan keperluan nya. Rasa syukurnya akan memotivasinya untuk menggunakan HP yang dia miliki untuk diaplikasikan pada hal-hal yang baik atau memaksimalkan penggunaaanya unutuk berbisnis dan usaha.

Sementara bagi orang yang kurang bersyukur, seringnya dia akan menganggap hp-nya kurang bagus, kurang cepat kinerjanya dan sebagainya. Walhasil Ketika pikiran dan persepsinya mengunci HP itu pada level kurang bagus dan cepat kinerja nya, maka pikirannya akan mendapatkan hal-hal kecil yang menjadikan pikiran membuktikan kekurangan HP tersebut. Inilah cara mengikat nikmat dengan bersyukur yang sebenarnya bisa memaksimalkan apa yang sudah kita miliki.

Pikiran Yang Cepat Membuktikan

Canggihnya pikiran manusia, membuatnya dengan cepat menemukan dan mendapatkan hal-hal yang membuatnya tidak bisa bersyukur atas keberadaan HPnya. Pikirannya dengan cepat menemukan alasan mengapa tidak suka. Pikirannya pun dengan cepat bisa mendapatkan alasan mengeluh dan seterusnya.

Pandang Ke Bawah

Dalam salah satu hadis rasulullah mengajarkan kepada kita bagaimana langkah dan cara kita untuk memulai hati ini dengan cara bersyukur. Hadis itu berbunyi dan mengajarkan kepada kita untuk senantiasa melihat orang-orang yang ada di di bawah kita atas  nikmat yang sudah diterima. Selalu melihat orang-orang yang mungkin sebenarnya tidak jauh lebih beruntung daripada kita. Selalu melihat orang-orang yang benar-benar ada di bawah kita. Sehingga kita menjadikan dan memposisikan hati kita dalam posisi orang yang beruntung. Dan sebenarnya ketika kita mengikat hati ini dengan keyakinan bahwa kita orang yang beruntung, kita sedang mengundang keberuntungan yang lain.

Dan sekali lagi ketika kita berfokus pada hal-hal yang positif, pikiran pun akan dengan cepat mendapatkan hal-hal lain yang lebih positif yang layak disyukuri. Dan ketika kita lebih sering mendapatkan hal-hal yang layak disyukuri, akan ada hal lain yang lebih layak lagi untuk disyukuri. Begitu seterusnya sehingga energi ini terus terus mengambil dan mengajak teman-teman energi positifnya yang lain untuk datang ke kehidupan kita.

Melihat Ke Atas

Sebaliknya Rasulullah juga melarang kita untuk melihat orang-orang yang ada di atas kita. Melihat keadaan orang-orang yang menurut kita jauh di atas kita. Sehingga mengurangi rasa syukur kita atas apa yang sudah kita dapatkan. Karena bisa jadi apa yang mereka terima lebih baik daripada apa yang kita dapatkan sekarang. Dan mungkin saja, apa yang mereka terima jauh dari apa yang kita persepsikan sekarang.

Selalu melihat hal-hal yang ada di atas kita, akan mengundang rasa kekurangan dalam hati kita. Ketika kita berfokus sudah merasakan kekurangan, pikiran pun dengan cepat akan menemukan alasan kita menggambar kita kekurangan. Dengan cepat pula, pikiran akan membuktikan bahwa kita memang orang-orang yang belum beruntung dan masih dalam hidup yang kekurangan.

Pada kenyataannya, di luar sana banyak sekali orang yang melihat kita dan menganggap kita orang-orang yang sangat beruntung dan bahagia. Meskipun dalam kenyataannya mungkin kita sekarang belum bisa bersyukur dan memposisikan hati kita sehingga kita benar-benar bersyukur adanya.

Langkah Kecil Mengingkat Nikmat

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa belajar mengunci hati untuk selalu bersyukur?

Salah satu caranya adalah dengan membaca Hamdalah. Mengawali diri untuk selalu mengembalikan bahwa segalanya, semua kenikmatan yang datang kepada kita itu datangnya benar-benar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sepenuh hati mengingatkan, mendidik dan mengajarkan hati ini untuk senantiasa sepenuhnya menempatkan Allah pada posisi yang pertama. Di mana semua kenikmatan dan kebaikan yang ada dalam diri kita adalah berasal dari-Nya. Selalu bersyukur atas semuanya.

Dengan diiringi sikap menerima atas apa yang sudah kita dapatkan. Menerima dengan sepenuh hati apa-apa yang sudah kita peroleh. Sikap menerima dan kemudian diiringi dengan rasa syukur yang mendalam. Dengan cara ini, pelan-pelan hati kita akan terdidik untuk bisa merasakan betul-betul kenikmatan apa saja yang sudah kita terima saat ini.

Kita mungkin dari kecil terdidik oleh lingkungan kita untuk lebih mengeluh daripada bersyukur. Hati dan pikiran kita jarang untuk dilatih bersyukur. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk kemudian melatih hati dan pikiran ini berfokus pada hal-hal yang baik yang sudah kita terima. Latihan ini adalah olahraga hati untuk menguatkan syaraf-syaraf syukur kita. Layaknya fisik kita yang jarang dilatih olahraga, saraf kita pun mungkin akan terasa lemah saat kita paksa untuk mengangkat beban beban berat.

Temukan dan Tuliskan

Suatu saat pernah seorang wanita mengeluhkan atas setiap nasibnya. Kemudian dia datang ke seorang ahli kejiwaan. Dia pun diperintahkan dan ditugaskan untuk menemukan tiga hal dari setiap hari yang dia jalani, layak untuk disyukuri. Tidak hanya diperintahkan untuk menemukan saja, namun juga untuk menuliskannya.

Awalnya dia kesulitan menemukan apa saja yang layak disyukuri hari itu. Namun pelan tapi pasti, pikirannya pun mulai beralih dari hari pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya untuk menemukan hal-hal positif yang layak disyukuri. Dan setiap harinya dia membuktikan ada banyak sekali hal-hal yang layak disyukuri.

Sehingga pada bulan pertama menuju ke bulan kedua dia justru sangat kesulitan menemukan hal-hal yang layak dia keluhkan. Menurutnya kehidupannya betul-betul layak disyukuri dan benar-benar harus disyukuri.

Dari cerita diatas kita sedikit bisa menyimpulkan bahwa ketika pikiran dan hati kita dilatih untuk benar-benar bersyukur, maka kita akan menemukan semakin banyak nilai kehidupan kita yang layak kita syukuri.

Sebaliknya saat kita berfokus untuk menemukan hal-hal yang harus kita keluhkan, maka akan banyak sekali hal-hal kecil sekalipun yang mungkin harus kita keluhkan saat ini.

Semoga ulasan mengikat nikmat dengan bersyukur ini bisa mengingatkan kita untuk lebih bersyukur dan memenuhi hati kita dengan rasa syukur. Semoga bermanfaat amin.

Berharap Kepada Selain Allah Dan Batasannya

Berharap Kepada Selain Allah Dan Batasannya

Berharap Kepada Selain Allah. Dalam keseharian kita seringkali bermuamalah kepada sesama makhluk. Ini tidak bisa kita lepaskan karena kita memang Hidup Diantara sesama manusia. Akan tetapi, dalam hal akidah dan keyakinan, kita mesti hati-hati karena ini yang paling sering membuat kita terjatuh dalam kesalahan. Meskipun kesalahan ini bisa dibilang tidak sengaja, namun perlu kita hati-hati.

Berharap Kepada Selain Allah Dan Batasannya

Berharap Kepada Selain Allah Menurut Syaikh Athaillah

Dalam satu bait Al Hikam nya Syekh Ibnu athaillah menjelaskan, bahwa apabila seorang hamba memiliki sebuah hasrat dan sebuah pengharapan, jangan sampai mengharapkan dan hasad tersebut disampaikan kepada sesama makhluk. Bagaimana seorang makhluk akan mampu menerima pengharapan dari makhluk yang lainnya, sementara dirinya juga lemah seperti dirinya.

Lebih jauh syekh Ibnu athaillah menjelaskan. Bagaimana seorang makhluk akan memenuhi kebutuhan makhluk yang lainnya, yang dirinya sendiri saja tidak mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Bagaimana seorang makhluk akan mampu menerima energi pengharapan seseorang, sementara dirinya sendiri tidak mampu memproduksi energi untuk dirinya sendiri.

Kemudian beliau menyimpulkan, bahwa satu-satunya tempat berharap yang paling tepat adalah Allah. Tempat dimana setiap pengharapan akan berakhir. Tempat setiap harapan dan keinginan berkumpul. Dzat yang akan mampu menerima setiap pengharapan Dan doa-doa Kita. Sang Maha Kuasa yang mampu mengabulkan dan mengembalikan setiap pengharapan dan doa hamba-Nya.

Kisah Rasullah Dalam Ancaman

Dikisahkan suatu saat Rasulullah SAW berperang pernah berada dalam kondisi sendirian. Hingga kemudian datanglah seorang kafir yang menghunuskan pedang kepadanya. Tidur tidak ada seorangpun sahabat yang berada di sekitarnya. Hingga saat dimana pedang itu diarahkan ke leher beliau dan orang kafir tersebut bertanya, ”siapa yang menolongmu wahai Muhammad?”.

Dengan jawaban tegas Rasulullah menjawab,”Allah”. Dengan jawaban tegas dari Rasulullah tersebut, beban tersebut menggetarkan hati dan pikirannya. Hingga kemudian membuat tangannya bergetar hebat sehingga jatuhlah pedang yang dia pegang.

Dan kini dengan cepat pedang tersebut telah beralih tangan ke tangan Rasulullah. Ganti beliau yang bertanya kepada orang kafir tersebut,”siapa yang akan menolongmu?”.

Orang kafir tersebut menjawab,”tidak ada Wahai Muhammad…”.

Dengan kelembutan hati Rasulullah pada saat itu, akhirnya si kafir yang sebelumnya menghunuskan pedang kepada beliau, membuatnya terketuk hatinya dan kemudian masuk Islam dengan sukarela.

Pesan Syaikh Abdul Qodir

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Wahai anak muda! Waspadalah jika Allah melihat di dalam hatimu ada selain Diri-Nya. Waspadalah bahwa Allah melihat di dalam hatimu ada rasa takut kepada selain Diri-Nya, ada harapan kepada selain-Nya, dan ada kecintaan kepada selain kepada-Nya.

Maka, hendaklah engkau berusaha membersihkan kalbumu dari selain Diri-Nya. Hendaklah engkau tidak memandang kemudaratan ataupun manfaat kecuali bahwa itu datang dari Allah.
Engkau selalu dalam rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya.

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

Sudut Pandang Imam Syafi’i

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka, Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” – Imam Syafi’i

Batasan Berharap Kepada Selain Allah

Pada saat seseorang berpengharapan kepada orang lain sesungguhnya dia sedang melemparkan seluruh harapan dan keinginannya kepadanya. Energinya sedang difokuskan kepada harapan-harapannya. Dalam dirinya nol dari energi harapan tersebut karena sudah disampaikan. Walhasil hanya satu yang dia tunggu, terwujudnya harapan-harapan itu.

Dengan besarnya harapan yang dimunculkan dan dilemparkan seseorang kepada makhluk lainnya, ini cenderung telah melampaui batasan yang sesungguhnya. Allah-lah tempat berharap yang sebenarnya. Tentunya dari sisi akidah ini bisa jadi kurang tepat.

Bersyukur Untuk Memancing Kebahagiaan

Bersyukur Untuk Memancing Kebahagiaan

Bersyukur. Banyak ayat yang menjelaskan bahwa seseorang harus banyak bersyukur. Dengan bersyukur yang nikmat yang diterima akan bertambah. Itulah yang kemudian dijanjikan oleh Allah dalam salah satu ayat. Barang siapa diantara kita yang bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat nikmat tersebut.

Banyak juga orang yang mengatakan bahwa ketika orang yang bersyukur dia akan merasakan kebahagiaannya semakin bertambah. Benarkah demikian?

Bersyukur itu mengikat nikmat

Untuk menjawabnya marilah kita sejenak mengingat apa sebenarnya bersyukur itu. Bersyukur berarti berterima kasih dan menerima dengan sepenuh hati apa yang sudah diberikan rasa suka cita. Bersyukur bisa juga berarti kita menggunakan apa yang sudah diberikan dengan sebaik-baiknya. Bersyukur juga bisa berarti mengingat apa yang sudah diberikan dan menerimanya dengan rasa qanaah tanpa mempermasalahkan apa yang belum didapatkan.

Bersyukur sebenarnya membuat energi positif yang ada dalam dirinya dengan lebih kuat. Memunculkan keyakinan dalam pikiran dan hatinya bahwa semuanya itu benar-benar sempurna adanya, benar-benar baik adanya. Menghindarkan dirinya dari semua bentuk pola pikir kekurangan, yang belum kita dapatkan. Bersyukur sebenarnya akan menuntun dan mengikat pikiran kita untuk lebih mengingat apa yang sudah didapatkan. Menepis porsi pikiran yang terus mencari apa yang belum ada dan belum kita dapatkan.

Bersyukur dan Tabiat Pikiran

Sudah menjadi tabiat pikiran, tidak diingatkan maka dia akan mencari apa yang dekat dengan frekuensi yang dipancarkan pada saat itu. Jika fokus pikirannya adalah untuk mencari kekurangan-kekurangan yang belum kita miliki, maka pikiran pun akan dengan sangat cepat dan sangat cerdas untuk mendapatkan benda-benda atau hal-hal yang memang belum kita miliki dan belum kita dapatkan.

Sebaliknya saat kita memerintahkan pikiran kita dan mengingatkan untuk senantiasa merasakan apa-apa yang sudah didapatkan, maka dengan sangat cepat dan cerdas juga pikiran akan mendapatkan hal-hal yang layak untuk disyukuri dan layak untuk dinikmati.

Pikiran akan menandai banyak nikmat, jika kita fokus bersyukur

Kehidupan orang yang bersyukur

Menjadi sangat beralasan ketika kita mendapatkan orang-orang yang disekitar kita begitu qana’ah, cenderung bahagia dan menikmati kehidupannya. Sebaliknya orang-orang yang merasa selalu berkekurangan kita melihat mereka selalu mengeluh dan mengeluh setiap saatnya.

Lalu mengapa ketika kita bersyukur, itu sama halnya dengan mengikat nikmat nikmat yang sudah diberikan?

Karena sebenarnya saat kita bersyukur, seluruh energi sedang kita fokuskan untuk menerima dengan sepenuh hati dan memperhatikan apa-apa yang sudah berikan. Saat energi-energi itu ada di sekitaran kita, kemudian kita memperhatikan dan kita menerimanya dengan sepenuh hati, maka sel-sel energi yang ada di sekitar kita pun akan semakin bercahaya dan semakin positif adanya.

Sel-sel energi itu merespon kita sebagaimana kita merespon keberadaannya. Jika mereka merasa kita menerimanya dengan baik, mereka pun akan bersikap baik kepada kita. Sel selnya semakin kuat satu sama lain. Namun saat mereka tidak kita respon dan tidak kita akui keberadaannya, mereka pun akan enggan bersama kita.

Contoh Mengikatnya Energi Syukur

Pernyataan diatas dapat kita buktikan dengan beberapa contoh. Contoh yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

Seandainya pada saat ini Allah sudah mengaruniakan kepada kita sebuah sepeda, dengan sepenuh hati kita menerimanya dan berterima kasih atasnya. Maka otomatis kita menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Membersihkannya, merawatnya, dan juga memperbaikinya jika mengalami kerusakan.

Seandainya pada saat itu kita tidak bersyukur, kemudian kita marah karena sampai saat ini hanya memiliki sebuah sepeda, kemudian mengeluh di sana dan sini. Lupa bahwa banyak sekali orang-orang disekitar kita yang sampai saat ini masih belum memiliki sepeda, atau bahkan di antara mereka masih berjalan kaki. lupa jika di antara kita masih ada orang-orang yang Bahkan tidak memiliki apa-apa dan meminta-minta. Maka kita pun akan membiarkan nikmat sudah diberikan kepada kita. Kurang mensyukurinya dan akhirnya nikmat nikmat itu menjadi tidak terperhatikan. Kita sering mengeluhkannya, kita sering membencinya, dan pada akhirnya tidak merawatnya sama sekali.

Saat kita diberikan oleh orang tua sebuah buku tulis. Orang tua berharap buku tulis itu kita gunakan untuk keperluan sekolah, menulis dan untuk mencatat semua pelajaran. Namun karena kita merasa buku tulis itu kualitasnya yang tidak sebagus yang dimiliki teman-teman, kita pun marah-marah karenanya, mengeluhkannya, dan pada akhirnya buku itu tidak kita gunakan untuk menulis. Bahkan mungkin buku itu akan kita coret-coret atau bahkan kita robek. Padahal sebenarnya saat kita mau mensyukurinya. Buku itu bisa saja kita manfaatkan untuk menulis berbagai macam ilmu yang sudah kita terima. Yang mungkin saja membuat prestasi kita naik, dan menjadikan guru-guru kita menyukainya. Mungkin saja kita akan menerima hadiah lebih dari yang kita bayangkan dari pada hanya sekedar sebuah buku.

Akan tetapi ketika bersyukur, dilihat dari sudut pandang kita sebagai seorang hamba. Tentu saja Allah akan sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang betul-betul memperhatikan apa yang sudah diberikan. Memenuhi hatinya dengan rasa syukur. Memenuhi hatinya ucapan terima kasih. Fokus pada apa yang sudah diterima. Bisa jadi Allah kemudian memberikan dan mengaruniakan kepada kita nikmat yang semakin banyak dan lebih banyak lagi.

Mengapa Syukur Membuat Kita Lebih Bahagia?

Kembali ke soal bahagia. Tatkala seseorang merasa bahagia dan memenuhi hatinya dengan perasaan senang, maka kedua belahan pikirannya otak kanan dan kiri kan terjadi sinkronisasi. Ketika kedua belahannya cenderung lebih sinkron, menurut beberapa penelitian, kondisi ini akan lebih banyak memproduksi hormon endorfin. Hormon yang memicu kondisi yang nyaman dan tenang dalam diri seseorang. Hormon yang memicu orang menjadi semakin meningkat.

Dengan sinkronisasi kedua belahan otak, seseorang akan cenderung merasakan ketenangan dan kekhusyukan setiap saatnya. Kondisi yang membuat seseorang begitu tenang dalam menghadapi masalah. Begitu bijaksana saat memutuskan. Kondisi yang membuat seseorang tidak gampang larut dalam situasi. Kondisi yang maksimal dimana seseorang sangat intuitif dan kreatif. Sebuah bonus dari rasa syukur yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi diri seseorang. Bonus yang tidak main-main saat kita benar-benar bisa bersyukur.

Ketika seseorang bersyukur, dia akan fokus untuk memenuhi pikiran-pikirannya dengan daratan nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan. Menghapus beberapa bagian-bagian yang membuatnya mengeluh. Memenuhi hati dan pikirannya dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah. Merasa qana’ah dengannya. Dan ketika seseorang sudah demikian, dan menjadi karakter dalam dirinya kebiasaan ini, maka tidak lain dan tidak bukan hanya kebahagiaan yang akan mengitarinya. Karena yang ada dalam dirinya hanya rasa syukur. Rasa syukur yang mendalam. Jauh dari pola pikir kekurangan dan sikap mengeluh. Karena sebenarnya sikap kurang bahagia dipicu karena kita merasa kekurangan.

Semakin bersyukur, semakin bahagia

Syukur adalah dzikir af’al. Dzikir tindakan dan sikap. Dzikir kesadaran akan nikmat yang sudah diberikan. Dzikir kesadaran untuk memanfaatkan apa yang diberikan dengan lebih baik. Dzikir kesadaran untuk memahami betapa besar nikmat Allah. Dzikir kesadaran untuk lebih mengerti akan kemurahan Allah. Dzikir kesadaran akan betapa Allah sangat perhatian dengan kita.

Semoga Allah selalu mengilhami kita menjadikan kita golongan orang-orang yang selalu bersyukur dan batin. Allahumma Amin.

Mengingatkan Sang Aku dengan Dzikir Takbir

Mengingatkan Sang Aku dengan Dzikir Takbir

Mengingatkan Sang Aku. Sudah menjadi tabiat seseorang sejak kecil bahkan sampai tua, adanya perasaan untuk mendapatkan penghargaan diri dan ingin dihargai serta dihormati. Ingin diunggulkan dan dinomersatukan. Ingin diakui dan dijadikan pusat perhatian. Orang-orang menyebutnya sebagai sang aku. Sang Aku selalu ingin mendapatkan penghargaan juga pencitraan diri. Sang Aku selalu ingin dikenal dan menjadi terkenal. Sang Aku selalu ingin muncul di depan yang lainnya.

Sang Aku

Belajar Mengingatkan Sang Aku dengan Dzikir Takbir

Dalam batasan yang wajar sang Aku sebenarnya memberikan kontribusi yang sangat positif kepada seseorang. Jika sang aku berhenti memberikan semangat kepada kita, mungkin saja kita tidak akan memiliki semangat untuk bekerja dan belajar. Mungkin tidak akan semangat seperti bisa untuk bekerja dan berikhtiar. Karena dialah energi yang Allah letakkan kepada diri manusia untuk membantu kita memberikan warna di dunia ini.

Sang aku Allah ciptakan menemani kita menjalankan tugas kekhalifahan dengan warna-warna yang lebih indah, yang mungkin tidak akan mampu dilakukan oleh para malaikat. Karena dalam diri malaikat sang aku tidak diciptakan di dalamnya. Sang aku diciptakan Allah agar manusia terus berkreasi, menciptakan berbagai macam hal, dan juga menjadikan bumi ini semakin indah jadinya.

Alasan Sang Aku Harus Diingatkan

Karena sang aku dalam hal yang wajar dia akan membantu seseorang menjadi jauh lebih positif, jadi jauh lebih berperan dalam kehidupannya. Namun ketika sang aku sudah melebihi ambang batasnya, Sang Aku seringkali lupa diri, menjadi Arogan, sombong, takabur dan bahkan bisa mengaku dirinya sebagai Tuhan. Na’udzubilaahi min dzaalik.

Fir’aun Kecil

Dengan kekuasaannya yang luar biasa, sebenarnya Allah telah menciptakan sosok Firaun sebagai seorang yang hebat, raja yang berkuasa, namun kemudian sang aku telah melebihi ambang batasnya dan menguasai diri Firaun, sehingga kemudian dia berani mengaku bahwa dirinya seorang Tuhan. Sang aku telah membuat akal Fir’aun tidak mampu bekerja sebagaimana mestinya.

Dengan mengaca dan mengambil ibrah dari kisah Fir’aun. Jangan sampai diri kita menjadi Fir’aun kecil. Mengaku bisa ini dan itu. Dengan menafi’kan peran Allah yang telah mengajarkan kita ini dan itu.

Peran Sang Aku dan Kerajaan Hati

Sang aku memang dilahirkan untuk memberikan warna yang lebih kepada dunia ini. Sang aku membantu kita untuk bisa bertindak lebih variatif, lebih kreatif, dan lebih inovatif.

Namun sang aku diciptakan oleh Allah tidak didesain untuk menjadi pusat pengontrol kita. Sang aku diciptakan Allah untuk membuat kita jauh lebih bersemangat dan menjadi daya yang ada dalam diri seseorang, untuk terus bekerja dan berusaha.
Bagaimana jadinya ketika kontrol diri kita bukan hati, kemudian sang aku ganti merajai diri? Maka yang terjadi, kerajaan hati akan kehilangan keteraturan dan juga peraturannya.

Bagaimana jadinya ketika kontrol diri kita bukan hati, namun sang aku yang telah merajai diri?

Antara satu dengan yang lain tidak akan terjadi sinergitas. Akan terjadi miskomunikasi, kebijakan tindakan yang keluar akhirnya buka dari pihak dan bagian semestinya. Kerajaan hati pun semakin rusak dan tidak terkontrol jadinya.

Akan terjadinya banyak masalah dan semakin melebar masalah itu. Semakin hilang kontrol dan koordinasi satu dengan yang lainnya. Bagian satu dengan lainnya tak lagi akan sinergis.

Karakter Sang Aku

Sang Aku adalah Abdi yang loyal, sang Abdi yang penuh semangat, sang Abdi yang penuh energi, nama dia juga penuh dengan nafsu dan keinginan.

Salah satu kitab menyatakan, bahwa nafsu dulu pernah ditanya oleh Allah, “siapa Aku?“. Namun sang nafsu Justru malah menjawab dengan pertanyaan yang sama, “siapa aku?“.

Demi mendengar itu Allah pun memenjarakan dengan tidak memberikannya makan dan minum selama 1000 tahun. Kemudian Allah bertanya kembali, “siapa Aku?“. Barulah dalam kelemahannya, dan sang nafsu pun akhirnya menjawab, “Engkau Tuhanku“.

Dzikir Takbir dan Tadrib Sang Aku

Dalam setiap kali kita melakukan salat suatu bacaan pasti yang paling sering kita baca dan paling sering kita lantunkan. Bacaan itu adalah takbir. Allahu Akbar. Takbir berarti ikrar kita sebagai seorang manusia dengan sepenuh hati menyatakan bahwa Allah Maha Besar. Segala sesuatu selain Allah kecil adanya. Hanya Allah yang Maha Besar.

Belajar Mengingatkan Sang Aku dengan Dzikir Takbir

Sesering mungkin saat kita berdzikir takbir kesadaran dan hati kita Arahkan untuk menyadari sepenuhnya bahwa Allah yang Maha Besar. Manusia dengan segala prestasi yang diperolehnya, dengan segala ilmu yang dipelajarinya, dengan segala kekayaan yang dimilikinya, dengan segala gelar dan titel yang disematkan kepadanya, dengan segala pangkatnya, harus dilatih untuk tidak diakui.

Dilatih untuk menyadari bahwa semuanya itu hanyalah titipan. Semua itu hanyalah pemberian. Menafikkan Semua usaha yang dilakukan. Meyakini bahwa semuanya itu adalah anugerah Tuhan. Meminimumkan peran dalam diri yang mengakui bahwa semuanya itu adalah hasil kerja kerasnya. Dan menyaksikan dan bersaksi bahwa Allahlah yang telah membuat kebaikan-kebaikan yang hebat itu.

Dilatih untuk menyadari ulang menyaksikan peran-peran Allah yang kemudian dilewatkan melalui diri kita, menafikkan kemampuan-kemampuan yang ada dalam diri, untuk kemudian disandarkan bahwa semuanya terjadi karena kehendak Allah dan kebesaran -Nya.

Sebuah latihan yang mungkin kurang disukai oleh sang aku. Namun aku harus mengingatkan, bawa juga semua kemampuannya yang ada dalam diri adalah anugerah Allah juga, anugerah yang maha kuasa, dan ketika dia berhasil membuat satu prestasi dan kebaikan, tugas terakhir sang Aku adalah menjadi seorang yang siap bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Tiada daya dan kekuatan kecuali atas Pertolongan Allah Pertolongan Allah.

Sang Aku adalah Kita Sendiri

Bukan berarti kita tidak menyukai sang aku. Sang aku adalah bagian dari diri kita dan Itu bukan bagian terpisah dari kita. Sang aku harus kita Ingatkan. Yang berarti ketika kita mengingatkan sang aku, berarti kita sedang mengingatkan diri kita. Mengingatkan diri kita yang sedang kosong dari kesadaran akan kemahabesaran Allah pertolongan pertolongan yang datang dari-Nya. 

Sang aku adalah bagian penting yang ada dalam diri kita. Bagian yang sangat vital untuk kebaikan kebaikan kehidupan kita. Namun energinya harus kita Arahkan sebagaimana mestinya. Tidak atur sedemikian rupa peran-perannya menjadi nyata dan lebih nyata. Berperan penting namun tetap menjadi beriman dan berakhlaq, yang senantiasa sadar dan rendah hati, sadar sepenuhnya bahwa semuanya terjadi atas kehendak Allah.

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar. Kemahabesaran Allah harus senantiasa meliputi diri kita. Kesadaran bahwa semua kebaikan dan keutamaan yang terjadi atas Pertolongan Allah. Senantiasa bersyukur, senantiasa menyaksikan dalam setiap level kesadaran kita, bahwa semuanya terjadi atas kebesaran Allah. Dan semakin kita bertakbir semakin kita sadar bahwa diri kita lemah.

Dan kita tidak memiliki peran apa-apa, kecuali sebatas sebagai wasilah mewujudkan kebesaran kebesaran-Nya di muka bumi.

Allahu Akbar Allah Maha Besar.

Belajar Sadar Allah Dengan Pertanyaan Besar

Belajar Sadar Allah Dengan Pertanyaan Besar

Belajar Sadar Allah dan Pertanyaan Besar

Belajar Sadar Allah. Pertanyaan yang besar menghasilkan jawaban yang besar. Pertanyaan yang besar menghendaki proses berpikir yang lebih luas dan lebih besar. Pertanyaan yang kecil hanya membutuhkan sedikit perenungan untuk menjawabnya. Semakin berkualitas pertanyaan, semakin berkualitas jawaban.

Belajar Sadar Allah Dengan Pertanyaan Besar

Ambillah contoh di bawah ini.

Ada sebuah apel di depan kita. Kemudian kita sampaikan beberapa pertanyaan;

  • Bagaimanakah bentuk apel?
  • Bagaimana rasa apel?
  • Apa isi kandungan vitamin dalam buah apel?
  • Apa mashlah yang Allah ciptakan dalam buah apel?
  • Bagaimana apel bisa mendongkrak ekonomi masyarakat?

Semakin bermutu pertanyaan, semakin berkualitas pertanyaan, semakin bagus jawaban yang dihasilkan.

Alasan Pertanyaan Besar

Pertanyaan besar ibarat umpan pada kail pancing. Dia akan memancing pikiran kita untuk memproses jawaban yang dibutuhkan. Jika pertanyaan itu mudah dan simpel, tentu tidak membutuhkan proses perenungan yang dalam. Namun, jika pertanyaan itu besar dan luas, tentu tak akan langsung bisa dijawab terkadang. Beberapa akan merenungkan lebih dulu, memproses jawabannya atau bahkan mencari referensi.

Semakin luas pertanyaan, semakin lama juga proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan jawaban yang diinginkan.

Pikiran manusia ibarat google yang akan memunculkan list jawaban yang diinginkan. List ini dipicu kata kunci yang diinput dalam kolom pencarian pikiran kita. Untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan tentu pertanyaan yang dimasukkan harus tepat.

Belajar Sadar Allah Dengan Pertanyaan Besar

Berpikir Ilmiah

Salah satu metode yang bisa digunakan untuk membuat pertanyaan besar adalah dengan berpikir ilmiah. Lalu apa berpikir ilmiah itu? Berpikir ilmiah adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, mengembangkan dsb. secara ilmu pengetahuan (berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Atau menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.

Tak sekadar berpikir tanpa landasan. Tanpa ilmu. Itu artinya, saat kita mencoba berpikir ilmiah, maka sebelumnya ada referensi logis yang sudah kita input dalam pikiran kita. Melandaskan pertanyaan bukan sekadar hanya angan-angan, tapi berdasarkan pertimbangan ilmiah dan logis. Pun bisa dipertanggungjawabkan.

Berpikir ilmiah juga bisa berarti merupakan kegiatan [akal] untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Berpikir ilmiah adalah kegiatan [akal] yang menggabungkan induksi dan deduksi.(Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,)

Hubungan Pertanyaan Besar Dan Sadar Allah

Pertanyaan besar seringkali akan memicu pemahaman dan kesadaran yang lebih luas. Untuk bisa memancing pemahaman yang lebih besar akan kesadaran kebesaran Allah, tentu pertanyaan pun dikaitkan dengan kata kunci “Allah”.

Contoh:

Kita bermaksud memahami kebesaran Allah dan mengembangkan sadar Allah. Maka pertanyaannya bisa;

  • Bagaimana penjelasan bahwa adanya bukti campur tangan Allah dalam kehidupan?
  • Bagaimana kuasa Allah menciptakan alam semesta?
  • Bagaimana manusia bisa merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan?
  • Bagaimana melatih dan menyadarkan hati untuk sadar Allah?
Belajar Sadar Allah Dengan Pertanyaan Besar

Lebih efektif lagi apabila pertanyaan dibentuk dari kata dasar seperti: mengapa atau bagaimana, daripada pertanyaan yang dibentuk dari kata dasar apa atau mana. Meskipun memungkinkan juga untuk membentuk pertanyaan berkualitas darinya.

Belajar dari “what to think” menuju “how to think“.

Perbaiki pertanyaan dan dapatkan pemahaman dan jawaban lebih baik.

Semakin luas pemahaman yang diperoleh dari sebuah pertanyaan besar, maka semakin baik pula kita bisa mendapatkan pemahaman akan Allah. Semakin luas pemahaman yang kita dapatkan, semakin luas kesadaran kita nantinya.

Semakin terlatih kita untuk mendapatkan jawaban dengan pertanyaan besar. Semakin terlatih pula kita mengajak jiwa untuk berkesadaran secara lebih luas.

Setelah kita memahami apa itu syukur misalnya, pertanyaan selanjutnya;

  • Bagaimana bersyukur?
  • Mengapa harus bersyukur?
  • Seperti apa bersyukur yang benar?
  • Bagaimana syukur bisa membuat nikmat bertambah?
  • dan seterusnya.

Pertanyaan yang besar, menghasilkan jawaban yang besar.

Kesimpulan

Jawaban besar dihasilkan dari pertanyaan besar

Pertanyaan besar dihasilkan perenungan mendalam

Perenungan mendalam dihasilkan dari pemahaman ilmiah yang terus diasah