08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Tips Bahagia Yang Sering Terlupakan

Tips Bahagia Yang Sering Terlupakan

Tips Bahagia ini hanyalah sebuah catatan kecil yang mungkin saja jadi pengingat sebagai pertanda kenaifan manusia yang lupa untuk senantiasa bahagia. Kenaifan kita yang merasa bahwa terkadang banyak hal yang sering kita temukan dan membuat kita kurang bahagia. Kenaifan kita yang kadang hanya mempertahankan ego dan membuat kita merasa semakin tidak nyaman dan tidak bahagia.

tips bahagia

Mengapa bahagia jadi begitu penting? Karena bahagia adalah salah satu hal yang paling dicari dalam kehidupan. Masing-masing dari setiap orang pasti mencari kebahagiaan dari setiap perjuangan yang dia lakukan. Apapun yang sedang dia perjuangkan, dia sebenarnya mencari satu hal, tak lain adalah kebahagiaan.

Setiap manusia secara fitrah harus bahagia

Pada kesempatan ini, izinkan kami mengingatkan kembali sedikit tentang tips bahagia yang sering terlupakan, dan ini adalah tips paling dasar dan paling pokok versi suarata.com. Yuk baca!

Tips Bahagia Paling Dasar Yang Sering Terlupakan

Berikut ulasannya dan mungkin bisa jadi sedikit pengingat untuk kita;

Landasan Tips Bahagia

Tahap pertama dan yang paling utama dan sering terlupakan  dan merupakan tips bahagia paling pokok adalah untuk senantiasa bersyukur. Bersyukur sering terlupakan karena mungkin masalah yang sedang mendera kita. Sebagai seorang manusia yang sering khilaf, tentu hal ini menjadi kewajaran yang sering kita alami. Akan tetapi, sebenarnya dengan bersyukurlah, kita akan bisa merasakan kebahagiaan tanpa syarat.

Manusia secara teknis melihat dan mempertimbangkan segala sesuatunya dari pikirannya. Dan secara sunnatullah, pikiran didesain fokus pada satu hal. Apa yang dia fokuskan, maka itulah yang akan sering muncul. Apa yang dia pikirkan, maka hal apa saja yang berkaitan dengan objek yang sering dia pikirkan akan muncul juga.

Pikiran Laksana Mesin Pencari

Jika anda pernah menggunakan mesin pencari Google, tentu anda pernah mengetikkan sesuatu. Kata kunci yang Anda ketikkan itulah yang nanti akan muncul di layar dekstop Anda. Semua yang anda di database google, baik yang Anda inginkan atau tidak akan dimunculkan untuk Anda. Tak peduli apakah jumlahnya ratusan, ribuan, atau bahkan puluhan juta. Semua disajikan untuk Anda. Tak peduli Anda suka atau tidak.

Kata Kunci dan Kesan Pikiran

Begitu juga, saat kita mengetikkan keyword “bersyukur” dalam diri, maka yang muncul dalam database pikiran kita adalah sinonim dan kata terdekat yang konteksnya berkaitan dengan “bersyukur” akan muncul ke permukaan. Seperti bahagia, nikmat, berkelimpahan, senang, tenang, nyaman, khusyuk, dan sejenisnya. Dalam kondisi seperti ini, turunan keyword bersyukur pun akan mulai muncul, seperti munculnya ide dan kreatifitas karena kita tenang, mudah dalam mengambil keputusan karena kita tenang, menilai secara objektif karena kita tenang dan khusyuk, dan seterusnya.

Kata kunci apa yang diketik, kata kunci sejenis yang muncul

Mungkin pernah satu saat kita mengalami, saat kita merasa bersyukur dan menikmatinya, ada saja hal kecil yang datang dan membuat kita bahagia, membuat kita senang, dan membuat kita semakin bahagia. Semakin banyak hal yang membuat kita bahagia. Dan itu berjalan sepanjang hari.

Namun di satu saat yang lainnya, pernah kita merasa jengkel dan kita mempertahankannya, tak terasa semakin banyak hal yang datang dan membuat kita semakin jengkel. Bisa jadi, semisal saat kita jengkel dan kita mempertahankan pola pikir ini tanpa peduli, dan semakin lama waktunya, maka yang terjadi biasanya, semakin banyak hal yang muncul ke pikiran kita akan kejelekan dan sifat negatif dari orang tersebut. Seolah, kebaikannya tidak ada. Seolah dia hampir tidak pernah melakukan kebaikan.

Inilah kesan pikiran dan bahayanya. Pikiran cenderung mengambil kesan terbaru. Dan bias kesan terbaru itulah yang seringkali muncul ke permukaan. Jika kesan yang kita pertahankan positif, maka proyeksi gambar yang muncul juga positif. Jika kesan yang kita pertahankan negatif, proyeksi negatif pula yang akan muncul. Kita bisa memilih, kesan mana yang akan kita munculkan. Semua ada di dalam diri kita.

Sebuah Pilihan

Bersyukur pun demikian. Bersyukur adalah satu keputusan yang kita buat untuk senantiasa fokus dan mempertahankan kesan-kesan berkelimpahan nikmat. Keputusan kita untuk mempertahankan kesan-kesan berkelimpahan nikmat dan mengurangi kesan-kesan kekurangan. Dengan mempertahankan kesan-kesan positif dan mengurangi kesan-kesan negatif, in shaa Allah semakin banyak hal positif yang bisa kita lihat dan temukan.

tips bahagia

Dengan kesengajaan kita untuk memutuskan diri untuk mempertahankan kesan berkelimpahan nikmat dan Allah yang Maha Pengasih. Kita akan merasakan kehadiran Allah di setiap saat, merasakan betapa murahnya Allah membagikan kenikmatan kepada kita. Merasakan bahwa kita layak untuk senantiasa bersyukur dan terus bersyukur. Dari sini, kita jadinya berharap untuk menjadikan syukur ini sebagai tabiat kita. Dan in shaa Allah, teman-teman “bersyukur” akan diundang datang dan memenuhi kehidupan kita, dan kita pun akan semakin bahagia.

Bersyukur secara lebih sengaja

Keluasan Pikiran

Seoarang setelah baya mencari Abu Nawas di Kedai Teh dimana biasanya dia ada. Ia mengeluh tidak menemukan solusi dari semua permasalahannya. Kebetulan Abu Nawas sedang tidak ada di sana saat itu. Salah seorang teman Abu Nawas ingin mencoba membantu mengatasi masalahnya,

“Cobalah sampaikan kepadaku kesulitanmu, mungkin saja aku bisa.” kata teman Abu Nawas.

“Baiklah. Aku punya tempat tinggal yang menurutku begitu sempit. Sedangkan aku di sana tinggal dengan istri dan kedelapan putra putriku. Rumah itu terasa begitu sempit, kami benar-benar merasa kurang merasa bahagia.” kata orang itu.
Kawan Abu Nawas tidak mampu memberikan jawaban atas kesulitan yang diungkapkannya. Mereka pun menyarankan agar langsung saja menemui Abu Nawas di rumahnya.

Sesuai saran, orang itu pun pergi menuju ke rumah Abu Nawas. Kebetulan Abu Nawas sedang membaca al-Qur\’an. Setelah menyampaikan dan mengutarakan kesulitan yang dialami, Abu Nawas bertanya;
“Apakah engkau punya seekor domba?”
“Tidak! tetapi aku bisa membelinya.” jawab orang itu.
“Baiklah, sekarang belilah seekor dan tempatkan di dalam rumahmu domba yang kamu beli itu.” Abu Nawas menyarankan.

Orang itu menuruti saran Abu Nawas. Ia pun membeli seekor domba seperti yang disarankan. Beberapa hari kemudian, dia datang lagi menemui Abu Nawas.

“Wahai Abu Nawas, saranmu telah aku laksanakan, tapi rumahku rasanya bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasakan bahwa segala sesuatu terasa menjadi lebih buruk dibandingkan sebelum ada domba itu.” kata orang itu.

“Kalau begitu, belilah beberapa ekor unggas dan tempatkan unggas-unggas itu di dalam rumahmu.” kata Abu Nawas.

Orang itu tidak membantah. Ia langsung saja membeli beberapa ekor unggas sesuai saran dan memasukkannya ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian, dia datang lagi ke rumah Abu Nawas.

“Wahai Abu Nawas, Aku telah melaksanakan semua saran-saranmu dengan menambah beberapa ekor unggas. Namun Kami bertambah merasa tersiksa ” kata orang itu. Ia semakin muram.

tips bahagia

“Kalau begitu, belilah lagi seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu juga.” kata Abu Nawas menyarankan. Orang itu menuruti saran Abu Nawas. Ia langsung membeli  anak unta untuk dipelihara dan dimasukkan di dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian dia datang lagi, menemui Abu Nawas. Ia berkata,

“Wahai Abu Nawas, tahukah engkau? keadaan rumahku sekarang hampir seperti neraka. Semuanya berubah lebih mengerikan daripada sebelumnya. Kami sudah tidak tahan tinggal bersama  binatang-binatang itu.” ucap orang itu putus asa.

“Baiklah, kalau begitu juallah anak unta itu.” kata Abu Nawas. Ia langsung menjualnya. Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi bersilaturahmi ke rumah orang itu.

“Bagaimana kalian sekarang?” Abu Nawas bertanya.

“Sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak ada” kata orang itu tersenyum.

“Baiklah, kalau begitu juallah unggas-unggasmu.” kata Abu Nawas.

Ia pun menjual unggas-unggasnya. Beberapa hari kemudian Abu Nawas kembali mengunjungi rumah orang itu.

“Bagaimana kalian sekarang ?” Abu Nawas bertanya.

“Sekarang lebih menyenangkan! Unggas-unggas itu sudah tidak  bersama kami.” kata orang itu ceria.

“Sekarang juallah domba itu.” kata Abu Nawas. Orang itu menuruti. Dengan senang hati ia pun menjual dombanya.

Selang beberapa hari, Abu Nawas bertamu kembali ke rumah orang itu.

Ia bertanya, “Bagaimana keadaan sekarang ?”

“Kami merasakan rumah kami bertambah luas. Kami sekarang merasa lebih berbahagia. Kami sampiakan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abu Nawas.” kata orang itu berseri-seri.

“Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau engkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan, maka Tuhan akan mencabut kesempitan dalam hati dan pikiranmu.” kata Abu Nawas menjelaskan.

Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu

Dan sebelum Abu Nawas pulang, ia bertanya kepada orang itu, “Apakah engkau sering memanjatkan doa kepada Allah?”
“Ya.” jawab orang itu.
Ketahuilah bahwa do\’a seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian yang sebenarnya.” [humorsufi]

Kesimpulan Tips Bahagia

Sebagai kesimpulan tips bahagia, ini adalah langkah awal yang bisa kita jangkau dan ada dalam diri kita. Setiap saat bisa kita akses dan kita lakukan. Semua tergantung dalam keputusan yang kita ambil. Semoga kita senantiasa selalu bersyukur tanpa membutuhkan alasan apapun untuk bersyukur. Bersyukur menjadi karakter, bersyukur menjadi kebiasaan, dan bersyukur menjadi jalan bahagia lahir batin, dunia dan akhirat. Amiin

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur. Apa yang memenuhi hati dan rasa kita, akan menjadi doa-doa yang tidak terlihat dan kasat mata. Hati yang dipenuhi rasa syukur penuh dengan energi positif atas kehidupan yang telah diterima dan yang akan dijalani. Hati yang penuh rasa syukur, berfokus untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal yang belum didapatkan menuju hal-hal yang sudah diterima dan kebaikan-kebaikan yang sudah didapatkan.

Mengikat Nikmat Dengan Bersyukur

Mengikat Nikmat dan Logikanya

Orang yang senantiasa memenuhi rasa dan hatinya dengan bersyukur, berarti dia sedang mengunci setiap hal dan kebaikan yang sudah diterima. Energi yang dipancarkan oleh pikiran dan hatinya masuk ke setiap benda-benda dan setiap hal yang sudah dia terima. Energi itu menguncinya tetap ada. Membuat setiap nikmat yang sudah diterima menjadi semakin awet dan berkah adanya.

Logika yang mungkin akan jarang diterima oleh setiap orang adalah bahwa benda-benda yang ada di sekitar merespon kita sebagaimana kita meresponnya. Ketika seseorang beranggapan bahwa apa yang ada di sampingnya tidak meresponnya, maka benda-benda itu pun tidak akan merespon kepadanya dengan cara yang baik.

Untuk menjelaskan logika yang mungkin jarang diterima di atas kita akan mencoba melihat beberapa hal yang mungkin terjadi dan sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat Sisi Positifnya

Seseorang yang memiliki HP dengan harga dua juta mungkin akan berpikir bahwa HPnya masih kurang bagus ketimbang HP dengan harga 5 juta. Orang yang bersyukur tidak akan mempermasalahkan kondisi HPnya yang masih dalam level harga dua juta. Bahkan dia justru bersyukur, HPnya sudah cukup bagus dan bisa digunakan untuk keperluan keperluan nya. Rasa syukurnya akan memotivasinya untuk menggunakan HP yang dia miliki untuk diaplikasikan pada hal-hal yang baik atau memaksimalkan penggunaaanya unutuk berbisnis dan usaha.

Sementara bagi orang yang kurang bersyukur, seringnya dia akan menganggap hp-nya kurang bagus, kurang cepat kinerjanya dan sebagainya. Walhasil Ketika pikiran dan persepsinya mengunci HP itu pada level kurang bagus dan cepat kinerja nya, maka pikirannya akan mendapatkan hal-hal kecil yang menjadikan pikiran membuktikan kekurangan HP tersebut. Inilah cara mengikat nikmat dengan bersyukur yang sebenarnya bisa memaksimalkan apa yang sudah kita miliki.

Pikiran Yang Cepat Membuktikan

Canggihnya pikiran manusia, membuatnya dengan cepat menemukan dan mendapatkan hal-hal yang membuatnya tidak bisa bersyukur atas keberadaan HPnya. Pikirannya dengan cepat menemukan alasan mengapa tidak suka. Pikirannya pun dengan cepat bisa mendapatkan alasan mengeluh dan seterusnya.

Pandang Ke Bawah

Dalam salah satu hadis rasulullah mengajarkan kepada kita bagaimana langkah dan cara kita untuk memulai hati ini dengan cara bersyukur. Hadis itu berbunyi dan mengajarkan kepada kita untuk senantiasa melihat orang-orang yang ada di di bawah kita atas  nikmat yang sudah diterima. Selalu melihat orang-orang yang mungkin sebenarnya tidak jauh lebih beruntung daripada kita. Selalu melihat orang-orang yang benar-benar ada di bawah kita. Sehingga kita menjadikan dan memposisikan hati kita dalam posisi orang yang beruntung. Dan sebenarnya ketika kita mengikat hati ini dengan keyakinan bahwa kita orang yang beruntung, kita sedang mengundang keberuntungan yang lain.

Dan sekali lagi ketika kita berfokus pada hal-hal yang positif, pikiran pun akan dengan cepat mendapatkan hal-hal lain yang lebih positif yang layak disyukuri. Dan ketika kita lebih sering mendapatkan hal-hal yang layak disyukuri, akan ada hal lain yang lebih layak lagi untuk disyukuri. Begitu seterusnya sehingga energi ini terus terus mengambil dan mengajak teman-teman energi positifnya yang lain untuk datang ke kehidupan kita.

Melihat Ke Atas

Sebaliknya Rasulullah juga melarang kita untuk melihat orang-orang yang ada di atas kita. Melihat keadaan orang-orang yang menurut kita jauh di atas kita. Sehingga mengurangi rasa syukur kita atas apa yang sudah kita dapatkan. Karena bisa jadi apa yang mereka terima lebih baik daripada apa yang kita dapatkan sekarang. Dan mungkin saja, apa yang mereka terima jauh dari apa yang kita persepsikan sekarang.

Selalu melihat hal-hal yang ada di atas kita, akan mengundang rasa kekurangan dalam hati kita. Ketika kita berfokus sudah merasakan kekurangan, pikiran pun dengan cepat akan menemukan alasan kita menggambar kita kekurangan. Dengan cepat pula, pikiran akan membuktikan bahwa kita memang orang-orang yang belum beruntung dan masih dalam hidup yang kekurangan.

Pada kenyataannya, di luar sana banyak sekali orang yang melihat kita dan menganggap kita orang-orang yang sangat beruntung dan bahagia. Meskipun dalam kenyataannya mungkin kita sekarang belum bisa bersyukur dan memposisikan hati kita sehingga kita benar-benar bersyukur adanya.

Langkah Kecil Mengingkat Nikmat

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa belajar mengunci hati untuk selalu bersyukur?

Salah satu caranya adalah dengan membaca Hamdalah. Mengawali diri untuk selalu mengembalikan bahwa segalanya, semua kenikmatan yang datang kepada kita itu datangnya benar-benar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sepenuh hati mengingatkan, mendidik dan mengajarkan hati ini untuk senantiasa sepenuhnya menempatkan Allah pada posisi yang pertama. Di mana semua kenikmatan dan kebaikan yang ada dalam diri kita adalah berasal dari-Nya. Selalu bersyukur atas semuanya.

Dengan diiringi sikap menerima atas apa yang sudah kita dapatkan. Menerima dengan sepenuh hati apa-apa yang sudah kita peroleh. Sikap menerima dan kemudian diiringi dengan rasa syukur yang mendalam. Dengan cara ini, pelan-pelan hati kita akan terdidik untuk bisa merasakan betul-betul kenikmatan apa saja yang sudah kita terima saat ini.

Kita mungkin dari kecil terdidik oleh lingkungan kita untuk lebih mengeluh daripada bersyukur. Hati dan pikiran kita jarang untuk dilatih bersyukur. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk kemudian melatih hati dan pikiran ini berfokus pada hal-hal yang baik yang sudah kita terima. Latihan ini adalah olahraga hati untuk menguatkan syaraf-syaraf syukur kita. Layaknya fisik kita yang jarang dilatih olahraga, saraf kita pun mungkin akan terasa lemah saat kita paksa untuk mengangkat beban beban berat.

Temukan dan Tuliskan

Suatu saat pernah seorang wanita mengeluhkan atas setiap nasibnya. Kemudian dia datang ke seorang ahli kejiwaan. Dia pun diperintahkan dan ditugaskan untuk menemukan tiga hal dari setiap hari yang dia jalani, layak untuk disyukuri. Tidak hanya diperintahkan untuk menemukan saja, namun juga untuk menuliskannya.

Awalnya dia kesulitan menemukan apa saja yang layak disyukuri hari itu. Namun pelan tapi pasti, pikirannya pun mulai beralih dari hari pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya untuk menemukan hal-hal positif yang layak disyukuri. Dan setiap harinya dia membuktikan ada banyak sekali hal-hal yang layak disyukuri.

Sehingga pada bulan pertama menuju ke bulan kedua dia justru sangat kesulitan menemukan hal-hal yang layak dia keluhkan. Menurutnya kehidupannya betul-betul layak disyukuri dan benar-benar harus disyukuri.

Dari cerita diatas kita sedikit bisa menyimpulkan bahwa ketika pikiran dan hati kita dilatih untuk benar-benar bersyukur, maka kita akan menemukan semakin banyak nilai kehidupan kita yang layak kita syukuri.

Sebaliknya saat kita berfokus untuk menemukan hal-hal yang harus kita keluhkan, maka akan banyak sekali hal-hal kecil sekalipun yang mungkin harus kita keluhkan saat ini.

Semoga ulasan mengikat nikmat dengan bersyukur ini bisa mengingatkan kita untuk lebih bersyukur dan memenuhi hati kita dengan rasa syukur. Semoga bermanfaat amin.

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa. Pikiran dan rasa adalah media dimana kita bisa memahami pesan-pesan yang Allah sebarluaskan di atas bumi. Keduanya adalah media yang menjadi pintu-pintu Allah memasukkan pemahaman-pemahaman juga kesadaran kepada diri kita. Baik pikiran maupun rasa, setiap hari kita gunakan dan seringkali kita gunakan tanpa ada hentinya setiap saat.

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Setiap saat digunakan dan setiap saat memproses setiap peristiwa untuk kemudian disarikan menjadi pemahaman dan dimasukkan di dalam hati. Meskipun pada satu saat, saripati peristiwa yang kita serap terkadang salah dalam memaknainya sehingga konotasinya menjadi negatif dalam diri kita. Dan tak jarang pula kita mendapatkan pemahaman yang positif dari setiap apa yang kita alami.

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Sayangnya banyak pikiran maupun rasa kita terkadang tidak pernah diajak untuk beristirahat untuk membuatnya lebih berdaya. Tidak pernah kita latih untuk bisa memanfaatkan potensinya secara penuh. Ada saat-saat dimana saat kita mengerti potensinya (meski cenderung tidak kita sadari), dan bisa memanfaatkannya dengan baik, kita pun atas izin Allah mendapatkan kemudahan-kemudahan atas apa yang kita usahakan.

Seringnya kita juga lupa untuk mengasahnya, sering lupa untuk mendidiknya, sehingga pikiran maupun rasa kita seringkali dalam kondisi lemah dan tidak bertenaga.

Gelombang Alfa dan Beta

Sisi emosional kita sebenarnya paling dipengaruhi oleh kondisi pikiran kita. Kondisi di mana gelombang otak kita saat itu berada. Jika pada saat itu gelombang otak kita berada di gelombang alfa, atau kondisi khusyuk, seringnya kita akan merasakan ketenangan dan kenyamanan.

Sebaliknya saat kita berada di gelombang beta, kondisi dimana kita benar-benar fokus dan merasakan ketegangan beraktivitas, seringnya kita akan merasakan emosi kita cenderung tidak stabil. Kita sedang merasakan kelelahan, ketidaknyamanan, dan juga mudahnya kita terpancing oleh peristiwa-peristiwa yang membuat kita seakan cepat mudah marah.

Dengan melihat kondisi kondisi yang sering terjadi dalam diri kita, dan kurangnya kemampuan kita untuk mengajarinya tetap pada gelombang gelombang alfa. Seringkali membuat kita gampang marah, gampang tersulut emosi, salah dalam mengambil keputusan dan tindakan.

Sudut Pandang Kebijaksanaan dan Luasnya Pandangan

Pikiran kita begitu mempengaruhi cara kita melihat sesuatu. Saat kita memiliki wawasan yang luas akan sesuatu, biasanya kita akan cenderung lebih bijaksana dalam melihat dan memandang sesuatu itu juga. Sehingga kecenderungan kita pun akan menjadi jauh lebih bijaksana dan jauh lebih tenang dalam melihat dan menyikapi setiap kasus.

Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Beberapa orang yang kita lihat memiliki ilmu yang luar biasa dan juga pengalaman yang luar biasa, seringkali begitu tenang dan begitu bijaksana dalam melihat dan memutuskan setiap masalah. Barangkali ini karena dipicu dalam pikirannya ia sudah memiliki database masalah-masalah tersebut secara terstruktur dan rapi. Dia bisa melihat setiap kemungkinan-kemungkinan dari masalah yang ada di depannya. Dia bisa melihat setiap solusi solusi yang mungkin bisa dia dapatkan dari setiap masalah yang dihadapinya. Sehingga cenderung tenang dan cenderung lebih tenang lagi saat benar-benar dipertemukan dengan masalah-masalah di depannya.

Seperti halnya seorang binaragawan yang sudah sering mengangkat beban beban berat, bahkan meskipun tanpa melakukan pemanasan sebelum nya mereka mampu mengangkat beban yang berat yang mungkin tidak lazim diangkat oleh orang lain. Seakan-akan tangannya penuh energi dan mengangkatnya dan begitu mudah. Sementara beberapa di antara kita mengangkat dengan penuh usaha.

Latihan Mengasah Gergaji dan Olah Rasa

Melatih dan menstimulasi pikiran kita agar bisa melihat setiap masalah dengan sudut pandang yang jauh lebih luas, dan juga melatih perasaan kita untuk bisa lebih tenang dalam melihat segala sesuatu, adalah salah satu kompetensi yang jarang kita lirik dan terlupakan dari diri kita.

Seringnya kita hanya menggunakan pikiran dan perasaan kita untuk mengeksekusi setiap peristiwa atau kejadian dan pekerjaan yang ada di depan kita. Namun jarang kita melatihnya untuk bisa lebih efektif menggunakannya.

Orang-orang Jawa dulu begitu terkenal mampu mengolah rasa mereka. Memadukan antara kebijaksanaan lokal dan keterampilan hati, untuk bisa melihat dan merasakan Setiap peristiwa yang terjadi dengan dari sudut yang jauh lebih tinggi. Peristiwa yang terjadi dari sudut pandang hati dan kebijaksanaan yang jauh lebih tinggi. Mereka terbiasa untuk tidak selalu mendahulukan emosional mereka.

Uniknya kemampuan orang jawa ini sudah menjadi kultur yang telah melekat dalam diri mereka. Sehingga seakan-akan keterampilan hati ini tidak sekedar teori yang mungkin sering kita temukan di buku-buku dan modul modul pembelajaran dan pengembangan diri. Namun benar-benar menjadi karakter yang melekat dalam diri mereka.

Sing Sabar Subur

Seperti halnya falsafah Sabar Subur. Falsafah ini mungkin bagi beberapa orang yang cenderung membuat seseorang tidak berdaya. Barangkali beberapa orang falsafah ini juga akan membuat dirinya akan mudah ditekan oleh orang lain. Membuat diri tidak berdaya. Dan mungkin akan di manfaatkan oleh orang lain,

Namun seperti yang kita lihat bahwa orang Jawa begitu kuat memegang falsafah sabar subur ini. Falsafah yang cenderung memiliki makna apabila seseorang ketika menghadapi segala sesuatu, dia menyikapinya dengan cara yang sabar. Sabar berarti menerima peristiwa tadi. Sabar berarti tidak tinggal diam, akan tetapi sikap menerima dari peristiwa yang sudah ada di depannya. Dan ketika seseorang sudah mampu melakukannya, cenderung kemudian mendapatkan solusi dari setiap masalahnya. Dan itulah makna subur.

Sing Kutah Wutuh

Falsafah lainnya seperti sing kutah wutuh. Sebuah falsafah dan ajaran agar kita mau berbagi kepada orang lain. Falsafah yang mengajarkan kita ketika seseorang mau berbagi dengan orang yang lainnya, maka dia tidak akan mengalami kekurangan dan justru akan dicukupi kebutuhannya.

Falsafah falsafah tadi begitu erat kaitannya dengan keterampilan hati dan olah rasa. Jika dulu falsafah falsafah ini kental karena begitu kuat dipegang secara kultur masyarakat Jawa, namun sekarang kecenderungannya hanya menjadi sebuah teori. Sehingga falsafah tersebut tidak memiliki energi, dan hanya sekedar berputar di kepala.

Alangkah baiknya jika kemudian kita bisa belajar untuk melakukan olah rasa. Belajar untuk bisa memaksimalkan dua potensi besar kita pikiran dan rasa.

Gergaji Yang Aus

Alkisah diceritakan ada seorang tukang gergaji. Setiap hari dia mampu memotong pohon dengan gergaji nya. Hari hari pertama dia mampu memotong dengan cukup banyak pohon. Dan seiring dengan itu, banyak pohon yang mampu Dia tebang setiap hari mulai berkurang. Dia mulai heran karena kondisi fisiknya juga baik-baik saja. Kondisi fisiknya juga ber energi.

Lama dia memikirkan masalah itu. Hingga kemudian dia bertemu dengan salah satu pemilik perusahaan yang diikuti.

Pertanyaan yang kemudian terlontar dari pemilik perusahaan tersebut hanya simple, ” kapan kamu terakhir mengasah gergaji?”.

Ternyata tukang kayu tadi lupa untuk mengasah gergaji nya. Dalam pikirannya dia hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya semakin cepat dan lebih cepat. Dia berpikir bahwa mengasah gergaji hanya buang-buang waktu saja dan memperlambat pekerjaannya. Dia berpikir dengan mengasah gergaji dia akan kehilangan waktunya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Efektifitas dalam pekerjaannya pun semakin berkurang karena gergajinya tidak pernah diasah.

Pikiran dan perasaan seperti halnya gergaji. Mengajarinya dan mengasahnya setiap saat untuk bisa memaksimalkan kinerja hanya akan mampu meningkatkan efektivitas kehidupan kita. Menjadikan pola pikir kita jauh lebih positif dan menjadikan kita jauh lebih berdaya.

Mengasah dan mengajari pikiran kita dengan banyak pengetahuan dan menyerap berbagai macam pengalaman. Mengajari perasaan kita dengan mengajarinya bagaimana merasakan gelombang alfa. Dengan mengajarinya bagaimana kita tetap dalam kondisi meditatif dan tenang.

Mengasah gergaji, menyisihkan sedikit waktu untuk membuat kita jauh lebih berdaya.

Wallahu A’lam Bishawab

Keajaiban Dunia Di Dalam Diri Kita

Keajaiban Dunia Di Dalam Diri Kita

Keajaiban Dunia. Beberapa diantara kita seringkali mencari keajaiban-keajaiban. Keajaiban yang kemudian kita terjemahkan secara umum menjadi sebuah kejadian yang luar biasa terjadi, yang terjadi, mengagumkan, luar biasa, atau tidak masuk akal.

Memaknai Keajaiban Dunia

Keajaiban Dunia Di Dalam Diri Kita

Karena dianggap luar biasa, keajaiban ini pun disangka jarang terjadinya dan jarang ditemukan. Padahal keajaiban itu seringkali hanya masalah sudut pandang dan cara melihat.

Keajaiban terjadi setiap hari, keajaiban terjadi setiap saat, dan keajaiban biasa terjadi setiap saat dalam diri kita dan terjadi di luar diri kita. Hanya karena hal itu terjadi setiap hari, kita menganggapnya hal yang biasa. Padahal sebenarnya itu hal yang luar biasa.

Salah satu peribahasa menyebutkan

Setiap hari terjadi keajaiban, kita hanya perlu menuliskannya.

Artinya, keajaiban setiap saat dan setiap hari terjadi, kita tidak butuh waktu lama untuk menemukan dan mendapatkannya. Kita hanya perlu menyiapkan catatan kecil saja untuk menuliskan seberapa banyak yang kita mampu.

Dan kita akan menemukan lebih banyak keajaiban dan berhenti pada kelelahan diri saat menuliskannya.

Biasa Terjadi, Jarang Disadari

Fenomena luarbiasa setiap hari terjadi, namun kita tidak menyadarinya. Keajaiban-keajaiban terjadi setiap hari, namun kita sering mengabaikannya. Kejadian-kejadian luar biasa seringkali terjadi setiap hari, namun kita belum menyadarinya.

Saat setiap hari kita bisa bernafas, oksigen masuk dengan lancar memenuhi seluruh aliran darah kita. Membuat kita semakin sehat, membuat otak kita lancar dalam berpikir, membuat diri kita semakin bersemangat dalam menjalani aktivitas. Itu juga keajaiban-keajaiban yang luar biasa.

Bagaimana kemudian kita tidak menganggapnya hal yang luar biasa? Padahal Allah menggerakkannya dengan cara dan kekuasaannya yang luar biasa. Semuanya begitu teratur dan berjalan sebagaimana mestinya.

Keajaiban Oksigen

Saat kita bangun tidur Allah sudah menyediakan cukup untuk kita oksigen. Kita bernafas secara gratis. Kita melakukannya setiap saat setiap detik dan setiap waktu. Tidak hanya kita, akan tetapi orang-orang yang ada di sekitar kita, juga hewan dan lingkungan yang ada di sekitar kita, semuanya membutuhkan oksigen. Seakan oksigen tidak pernah berkurang. Allah menyediakannya dalam jumlah yang sangat cukup. Sebuah keajaiban, dan anugerah yang luar biasa ya Allah berikan kepada kita.

Kita sering mendengar, ada masalah kesehatan dan itu berhubungan oksigen. Sedangkan oksigen yang digunakan adalah oksigen dengan kadar murni, dengan kadar 100%. Sedangkan udara pada umumnya memiliki kandunagn oksigen berkadar 20-21%. Dengan oksigen bertekanan tinggi, oksigen ini akan memiliki kadar oksigen hingga 100%, dengan tekanan 2-3x dari normal.

Kini manfaat oksigen yang dulu hanya digunakan untuk penyelamatan, kini sudah dikembangkan menjadi media terapi. Sungguh, ini termasuk keajaiban dunia yang jarang kita sadari. Sering kita gunakan, namun belum kita sadar manfaatnya lebih jauh.

Dengan sistem oksigen semacam ini, kerusakan saraf yang mungkin diakibatkan stroke, atau mungkin kerusakan organ akibat diabetes atau hipertensi, kerusakan jantung, ternyata dapat dibantu dan diperbaiki dengan oksigen bertekanan tinggi.

Air dan Molekulnya

Air yang kita minum, setiap hari Allah datangkan kepada kita sehingga beberapa diantara kita mendapatkan lebih dari cukup stok air. Allah menjadikan air menjadi kebutuhan minum kita. Menjadikannya sumber kehidupan dunia ini. Menjadikannya mengalir memenuhi kebutuhan kebutuhan manusia.

Dr. Masaru Emoto dalam bukunya The Hidden Message in Water, menguraikan apabila air bisa merekam pesan disampaikan kepadanya, layaknya pita magnetik atau compact disk.

Semakin kuat pesan atau doa yang disampaikan ke air tersebut, semakin kuat pula pesan yang tercetak dalam molekul-molekul air tersebut. Dan molekul yang sudah menerima pesan tadia akan mengtransfer ulang ke molekul yang lain. Sehingga satu dengan yang lainnya semakin kuat.

Mungkin ini fenomena yang sedikti menjelaskan apabila orang dulu membacakan ayat tertentu pada air, dan diminumkan pada orang sakit, bisa membantunya tersembuhkan.

Keajaiban Dunia Di Dalam Diri Kita

Mencari Keajaiban Dunia

Dalam sebuah kelas, Pelajaran Geografi sedang berlangsung. 7 Keajaiban dunia sedang dibahas. Sang guru memerintahkan kepada siswa untuk menuliskan 7 keajaiban dunia yang mereka tahu.

Rata-rata mereka menuliskan urutan keajaiban dunia seperti Taj Mahal, Tembok Besar China, Borobudur, Menara Eifel dan lainnya.

Namun ada satu siswa yang membuat Sang Guru tertarik. Dia tidak membuat daftar seperti teman-temannya. Berikut daftar yang dia tuliskan;
 
“7 Keajaiban Dunia” adalah:

  1. bisa Melihat;
  2. bisa Mendengar;
  3. bisa Menyentuh;
  4. bisa Menyayangi.
  5. bisa Merasakan;
  6. bisa Tertawa; dan
  7. bisa Mencintai.

Keajaiban dunia yang jarang dilihat namun dengan cepat kita bisa menemukan.

Yuk temukan lebih banyak keajaiban dunia dengan terus belajar berdzikir dan belajar berdzikir dengan belajar.

Belajar Olah Rasa Untuk Lebih Berdaya

Belajar Olah Rasa Untuk Lebih Berdaya

Belajar Olah Rasa. Salah satu penelitian menyebutkan bahwa salah satu gelombang paling kuat energinya yang berasal dari tubuh kita adalah frekuensi rasa. Rasa mewakili bahasa bawah sadar yang menurut para ilmuwan kekuatannya 9 kali lipat pikiran sadar. Itu artinya ketika kita menggunakan bahasa rasa, maka kita sedang menggunakan kekuatan dan potensi yang paling besar dalam diri kita.

Belajar dan Mengenal Olah Rasa

Setiap peristiwa yang kita alami, setiap pengetahuan yang kita miliki, dan setiap harapan dan doa yang kita panjatkan, terwakili inti energinya melalui rasa. Orang-orang Jawa dahulu menyebutnya ilmu Roso.

Belajar Olah Rasa Untuk Lebih Berdaya

Dikisahkan beberapa di antara mereka seringkali diam. Tidak menggunakan ilmu apapun ketika menghadapi masalah. Justru yang mereka lakukan adalah berdiam diri. Menata rasa dan pikirannya. Menata hatinya untuk kembali Suwung. Mengembalikan diri pada titik nol dan pasrah kepada Allah.

Suwung dan Berdaya

Setelah pikiran dan hatinya kembali suwung, dan hanya fokus pada satu titik yaitu Allah, kemudian melakukan permohonan dan doa kepada Allah, dalam kondisi yang benar-benar nol, dari segala ego diri dan kesombongan. Walhasil keyakinan penuh memenuhi dirinya.

Mereka berhasil menata rasanya, dari kebingungan kepanikan dan kekhawatiran, menuju titik nol. Titik dimana kita merasa kusuk tenang dan bahagia. Titik dimana kita merasakan kedekatan dengan Allah. Titik dimana kita merasa doa-doa dikabulkan lebih cepat atau datangnya solusi dari Allah.

Mikrokosmos dan Makrokosmos

Mereka menyadari betapa hati dan kondisinya begitu mempengaruhi kondisi di luar tubuhnya. Mereka menyadari akan keterhubungan adanya mikrokosmos (jagad cilik) dan makrokosmos (jagad gedhe). Mereka menyadari mikrokosmos mewakili dirinya dan semua elemen tubuhnya. Sementara makrokosmos memiliki alam di sekitarnya yang berpengaruh dengan kehidupannya langsung.

Keterhubungan keduanya akan sangat jelas ketika hati dan pikiran yang kacau, mendadak lingkungan di sekitarnya pun terasa tidak mendukung dirinya. Banyak hal yang membuatnya tidak suka, dan banyak hal yang membuatnya tidak nyaman.

Dan ketika hati dan pikiran semakin tenang dan semakin bersyukur adanya, atas izin Allah lingkungan di sekitar pun mendadak menjadi sangat tenang nyaman dan menyenangkan. Seakan-akan semuanya mendukung kepada kita dan keberhasilan kita melakukan sesuatu.

Kecerdasan Emosi

Sebenarnya ketika kita mempelajari banyak hal dan keterampilan skill dalam pengelolaan emosi, rata-rata ajaran agama Islam selalu mengajarkan kepada kita untuk pandai dalam mengelola emosi. Mengelola diri untuk bisa sabar, syukur, menahan diri, ikhlas, qanaah, sifat-sifat lainnya yang begitu luar biasa. Rata-rata mengacu pada kelola emosi keterampilan dan kemampuan mengelola emosi.

Rata-rata ajaran itu berhubungan dengan kecerdasan emosional. Kecerdasan yang digadang-gadang oleh para penemu bahwa inilah yang menjadikan keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Beberapa penemuan menyebutkan bahwa kecerdasan intelektual tidak terlalu dan belum menjamin berpengaruh pada kesuksesan seseorang.

Namun beberapa penelitian menyebutkan, bahwa rata-rata orang-orang sukses adalah orang-orang yang mampu mengelola emosinya secara cerdas. Dari sini kita harus bisa mengambil beberapa kesimpulan, bahwa ajaran ajaran Rasulullah juga ajaran orang-orang Jawa dahulu begitu luar biasa adanya.

Rata-rata orang dulu mampu mengelola emosinya dengan cara yang begitu luar biasa. Mereka lebih mengedepankan Toto Roso, ketimbang mereka mengedepankan ego. Mereka cenderung ikhlas menerima keberadaan, lebih banyak bersyukur daripada mengeluh nya.

Belajar Olah Rasa Dengan Lebih Sengaja

Kembali ke soal olah rasa. Beberapa penemuan sekarang ini ternyata banyak sekali referensi yang menyebutkan teknik-teknik simpel yang bisa kita gunakan untuk bisa meningkatkan kemampuan dan mengasah ilmu Roso kita.

Bagaimana caranya?

Salah satunya adalah dengan menggunakan ilmu syukur. Yaitu dengan kita menggunakan kemampuan hati kita dan imajinasi kita untuk sebenarnya saat ini merasakan benar-benar sangat bersyukur. Benar-benar sangat menikmati kehidupan yang Allah berikan kepada kita dengan sepenuh hati senang pikiran dan sepenuh rasa.

Belajar Olah Rasa Untuk Lebih Berdaya

Meyakini sepenuhnya bahwa Allah sudah memberikan yang terbaik yang kita minta. Terlepas dari apapun yang sudah kita terima sekarang. Semuanya disyukuri dan diyakini dengan sepenuh hati bahwa semuanya sudah terjadi, dan wujudkan Allah dalam kehidupan kita.

Ibarat sebuah doa, sebelum doa itu dikabulkan kita sudah mensyukurinya. Kita sedang memesan sesuatu kepada para penjual, kita sudah membayarnya lebih dulu dan menunggu makanan itu jadi. Bersyukur di awal sebagai sebuah cara melatih diri kita untuk tetap optimis, dan yakin akan  terkabulnya doa oleh Allah.

Syukur Lebih Dulu

Disini kita dilatih untuk fokus mensyukuri apa yang sudah kita terima sepenuhnya. Dan tidak bermaksud untuk kemudian memaksa Allah mengabulkan apa yang kita minta. Akan tetapi di satu sisi, kita sedang merasakan hujannya kemurahan Allah kepada kita. Dimana Allah memberikan janji kemurahan-Nya kepada kita. Apabila seorang hamba kepada Allah berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan memberikan dan menjadikan apa yang dipersangkakan kepada-Nya.

Dalam kondisi seperti ini, mulai dari ucapan dan tingkah laku kita pun harus menunjukkan kita sedang bersyukur atas karunia yang sudah didapatkan. Benar-benar bersyukur dan merasa bahagia sekarang.

Berlebihankah?

Pertanyaannya, Apakah ini berlebihan?

Tentu kondisi ini harus kita posisikan dalam keterampilan hati kita dalam mengelola emosi. Dalam ranah zhahiriyah, kita pun tetap harus berusaha sebagaimana mestinya. Namun pikiran dan hati kita harus kita kondisikan, bahwa kita sedang menuju pada proses doa-doa kita dikabulkan. Kita sedang diproses oleh Allah menuju kita.

Dengan tetap menjalani kehidupan kita sebagaimana mestinya dan bagaimana seharusnya, kita terus bersyukur dan bersyukur. Sembari menunggu, bagaimana Allah akan memberikan tanda-tanda terkabulnya doa kita. Disinilah kita belajar olah rasa. Belajar mengelola kecerdasan emosi kita.

Sensifitas Hati dan Pikiran

Sebagai bahan pertimbangan, ketika hati dan pikiran kita sudah meyakini sesuatu, fokus pada sesuatu itu, maka dengan sendirinya sel-sel pikiran kita akan cenderung reaktif, dan cenderung sensitif untuk melihat setiap kemungkinan-kemungkinan dari apa yang kita minta. Sehingga tanpa kita sadari, banyak peluang peluang yang kemudian muncul dan dalam pikiran kita. Dan mungkin itu salah satu jalan dari permohonan-permohonan kita.

Belajar olah rasa akan mungkin jadi solusi masalah kita. Semoga bermanfaat!

Wallahu A’lam Bishawab. Wala haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim.

Bersyukur Untuk Memancing Kebahagiaan

Bersyukur Untuk Memancing Kebahagiaan

Bersyukur. Banyak ayat yang menjelaskan bahwa seseorang harus banyak bersyukur. Dengan bersyukur yang nikmat yang diterima akan bertambah. Itulah yang kemudian dijanjikan oleh Allah dalam salah satu ayat. Barang siapa diantara kita yang bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat nikmat tersebut.

Banyak juga orang yang mengatakan bahwa ketika orang yang bersyukur dia akan merasakan kebahagiaannya semakin bertambah. Benarkah demikian?

Bersyukur itu mengikat nikmat

Untuk menjawabnya marilah kita sejenak mengingat apa sebenarnya bersyukur itu. Bersyukur berarti berterima kasih dan menerima dengan sepenuh hati apa yang sudah diberikan rasa suka cita. Bersyukur bisa juga berarti kita menggunakan apa yang sudah diberikan dengan sebaik-baiknya. Bersyukur juga bisa berarti mengingat apa yang sudah diberikan dan menerimanya dengan rasa qanaah tanpa mempermasalahkan apa yang belum didapatkan.

Bersyukur sebenarnya membuat energi positif yang ada dalam dirinya dengan lebih kuat. Memunculkan keyakinan dalam pikiran dan hatinya bahwa semuanya itu benar-benar sempurna adanya, benar-benar baik adanya. Menghindarkan dirinya dari semua bentuk pola pikir kekurangan, yang belum kita dapatkan. Bersyukur sebenarnya akan menuntun dan mengikat pikiran kita untuk lebih mengingat apa yang sudah didapatkan. Menepis porsi pikiran yang terus mencari apa yang belum ada dan belum kita dapatkan.

Bersyukur dan Tabiat Pikiran

Sudah menjadi tabiat pikiran, tidak diingatkan maka dia akan mencari apa yang dekat dengan frekuensi yang dipancarkan pada saat itu. Jika fokus pikirannya adalah untuk mencari kekurangan-kekurangan yang belum kita miliki, maka pikiran pun akan dengan sangat cepat dan sangat cerdas untuk mendapatkan benda-benda atau hal-hal yang memang belum kita miliki dan belum kita dapatkan.

Sebaliknya saat kita memerintahkan pikiran kita dan mengingatkan untuk senantiasa merasakan apa-apa yang sudah didapatkan, maka dengan sangat cepat dan cerdas juga pikiran akan mendapatkan hal-hal yang layak untuk disyukuri dan layak untuk dinikmati.

Pikiran akan menandai banyak nikmat, jika kita fokus bersyukur

Kehidupan orang yang bersyukur

Menjadi sangat beralasan ketika kita mendapatkan orang-orang yang disekitar kita begitu qana’ah, cenderung bahagia dan menikmati kehidupannya. Sebaliknya orang-orang yang merasa selalu berkekurangan kita melihat mereka selalu mengeluh dan mengeluh setiap saatnya.

Lalu mengapa ketika kita bersyukur, itu sama halnya dengan mengikat nikmat nikmat yang sudah diberikan?

Karena sebenarnya saat kita bersyukur, seluruh energi sedang kita fokuskan untuk menerima dengan sepenuh hati dan memperhatikan apa-apa yang sudah berikan. Saat energi-energi itu ada di sekitaran kita, kemudian kita memperhatikan dan kita menerimanya dengan sepenuh hati, maka sel-sel energi yang ada di sekitar kita pun akan semakin bercahaya dan semakin positif adanya.

Sel-sel energi itu merespon kita sebagaimana kita merespon keberadaannya. Jika mereka merasa kita menerimanya dengan baik, mereka pun akan bersikap baik kepada kita. Sel selnya semakin kuat satu sama lain. Namun saat mereka tidak kita respon dan tidak kita akui keberadaannya, mereka pun akan enggan bersama kita.

Contoh Mengikatnya Energi Syukur

Pernyataan diatas dapat kita buktikan dengan beberapa contoh. Contoh yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

Seandainya pada saat ini Allah sudah mengaruniakan kepada kita sebuah sepeda, dengan sepenuh hati kita menerimanya dan berterima kasih atasnya. Maka otomatis kita menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Membersihkannya, merawatnya, dan juga memperbaikinya jika mengalami kerusakan.

Seandainya pada saat itu kita tidak bersyukur, kemudian kita marah karena sampai saat ini hanya memiliki sebuah sepeda, kemudian mengeluh di sana dan sini. Lupa bahwa banyak sekali orang-orang disekitar kita yang sampai saat ini masih belum memiliki sepeda, atau bahkan di antara mereka masih berjalan kaki. lupa jika di antara kita masih ada orang-orang yang Bahkan tidak memiliki apa-apa dan meminta-minta. Maka kita pun akan membiarkan nikmat sudah diberikan kepada kita. Kurang mensyukurinya dan akhirnya nikmat nikmat itu menjadi tidak terperhatikan. Kita sering mengeluhkannya, kita sering membencinya, dan pada akhirnya tidak merawatnya sama sekali.

Saat kita diberikan oleh orang tua sebuah buku tulis. Orang tua berharap buku tulis itu kita gunakan untuk keperluan sekolah, menulis dan untuk mencatat semua pelajaran. Namun karena kita merasa buku tulis itu kualitasnya yang tidak sebagus yang dimiliki teman-teman, kita pun marah-marah karenanya, mengeluhkannya, dan pada akhirnya buku itu tidak kita gunakan untuk menulis. Bahkan mungkin buku itu akan kita coret-coret atau bahkan kita robek. Padahal sebenarnya saat kita mau mensyukurinya. Buku itu bisa saja kita manfaatkan untuk menulis berbagai macam ilmu yang sudah kita terima. Yang mungkin saja membuat prestasi kita naik, dan menjadikan guru-guru kita menyukainya. Mungkin saja kita akan menerima hadiah lebih dari yang kita bayangkan dari pada hanya sekedar sebuah buku.

Akan tetapi ketika bersyukur, dilihat dari sudut pandang kita sebagai seorang hamba. Tentu saja Allah akan sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang betul-betul memperhatikan apa yang sudah diberikan. Memenuhi hatinya dengan rasa syukur. Memenuhi hatinya ucapan terima kasih. Fokus pada apa yang sudah diterima. Bisa jadi Allah kemudian memberikan dan mengaruniakan kepada kita nikmat yang semakin banyak dan lebih banyak lagi.

Mengapa Syukur Membuat Kita Lebih Bahagia?

Kembali ke soal bahagia. Tatkala seseorang merasa bahagia dan memenuhi hatinya dengan perasaan senang, maka kedua belahan pikirannya otak kanan dan kiri kan terjadi sinkronisasi. Ketika kedua belahannya cenderung lebih sinkron, menurut beberapa penelitian, kondisi ini akan lebih banyak memproduksi hormon endorfin. Hormon yang memicu kondisi yang nyaman dan tenang dalam diri seseorang. Hormon yang memicu orang menjadi semakin meningkat.

Dengan sinkronisasi kedua belahan otak, seseorang akan cenderung merasakan ketenangan dan kekhusyukan setiap saatnya. Kondisi yang membuat seseorang begitu tenang dalam menghadapi masalah. Begitu bijaksana saat memutuskan. Kondisi yang membuat seseorang tidak gampang larut dalam situasi. Kondisi yang maksimal dimana seseorang sangat intuitif dan kreatif. Sebuah bonus dari rasa syukur yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi diri seseorang. Bonus yang tidak main-main saat kita benar-benar bisa bersyukur.

Ketika seseorang bersyukur, dia akan fokus untuk memenuhi pikiran-pikirannya dengan daratan nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan. Menghapus beberapa bagian-bagian yang membuatnya mengeluh. Memenuhi hati dan pikirannya dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah. Merasa qana’ah dengannya. Dan ketika seseorang sudah demikian, dan menjadi karakter dalam dirinya kebiasaan ini, maka tidak lain dan tidak bukan hanya kebahagiaan yang akan mengitarinya. Karena yang ada dalam dirinya hanya rasa syukur. Rasa syukur yang mendalam. Jauh dari pola pikir kekurangan dan sikap mengeluh. Karena sebenarnya sikap kurang bahagia dipicu karena kita merasa kekurangan.

Semakin bersyukur, semakin bahagia

Syukur adalah dzikir af’al. Dzikir tindakan dan sikap. Dzikir kesadaran akan nikmat yang sudah diberikan. Dzikir kesadaran untuk memanfaatkan apa yang diberikan dengan lebih baik. Dzikir kesadaran untuk memahami betapa besar nikmat Allah. Dzikir kesadaran untuk lebih mengerti akan kemurahan Allah. Dzikir kesadaran akan betapa Allah sangat perhatian dengan kita.

Semoga Allah selalu mengilhami kita menjadikan kita golongan orang-orang yang selalu bersyukur dan batin. Allahumma Amin.