08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Menemukan Keajaiban Dalam Keterbatasan

Menemukan keajaiban dalam keterbatasan hanyalah artikel kecil. Catatan kecil yang mungkin pernah penulis alami. Semoga bermanfaat dan semoga bisa menjadi sebab tumbuhnya kembali keyakinan kita akan keajaiban-keajaiban di sekitar kita, di balik kelemahan kita.

Menemukan Keajaiban Dalam Keterbatasan

Manusia Yang Lemah

Sungguh pada dasarnya kita sebagai manusia diciptakan dalam keadaan yang lemah. Bahkan ketika pun kita sebagai seseorang yang merasa memiliki apapun, semuanya hanyalah titipan dan hanyalah sebuah pinjaman. Seberapa hebat pun kita, kita hanyalah makhluk lemah yang Bahkan 1 detik setelah kita membaca tulisan ini kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi. Dan karena ini merupakan sifat dasar kita sebagai seorang yang pada dasarnya lemah (baca: secara fitrah) sampai kita mengandalkan diri kita dalam hal apapun.

Adalah keharusan bagi masing-masing dari kita untuk belajar mengembalikan bahwa segala sesuatu itu dan berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan dasar ini, pola pikir yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah belajar untuk mengutamakan logika ketuhanan. Mana bahwa segala sesuatu itu mungkin dan serba memungkinkan.

Antara Mungkin dan Tidak Mungkin

Bisa jadi satu hal kita berpikir sesuatu itu tidak mungkin, karena mungkin sangat besar, karena sesuatu itu mungkin sangat jauh, namun bagi Allah Subhana sesuatu itu kecil dan sangat mudah, bahkan apa yang kita anggap tidak mungkin itu sebenarnya tidak bisa dibandingkan dengan kekuasaan-Nya. Seringkali kita mengukur dengan ukuran pikiran kita sebagai manusia. Suatunya harus masuk logika dan harus terukur. Padahal banyak juga yang sebenarnya kalau kita mengukur dengan ukuran pikiran kita itu tidak mungkin.

Mungkin di antara kita sedang tidak semangat karena sesuatu, mungkin akan masalah yang sedang dihadapi, dengan ukuran pikiran kita sebagai manusia sesuatu itu membuat kita benar-benar gelisah. Keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki sebagai manusia, bank cenderung pikiran kita mungkin akan berpikir bahwa dalam batasan tertentu Kita tidak bisa melakukan ini dan tidak bisa melakukan itu. Keterbatasan-keterbatasan ini memang lahir asumsi fikiran dan hati kita yang memang benar-benar terbatas. Dan bahkan memang bukan sekedar hanya asumsi melainkan juga sebuah hakikat dan kenyataan yang menggambarkan bahwa manusia memang oleh Allah diciptakan untuk senantiasa ingat kepada Penciptanya juga hanya ingat akan kekuasaan-Nya.

Lain halnya jika sebuah hal ada permasalahan dilihat dari kacamata kekuasaan Allah, terlepas dari apapun yang mungkin sedang kita hadapi dan apapun yang mungkin sedang kita pikirkan atau mungkin juga apapun yang sedang menimpa diri kita. Masing-masing dari kita berhak untuk melihat memunculkan kemungkinan-kemungkinan terbesar ciptakan untuk kita, kemungkinan kemenangan terbesar munculnya keajaiban dan pertolongan dari sisi-Nya. Keajaiban-keajaiban dan kemungkinan luas mungkin Allah ciptakan diluar kesadaran dan keterbatasan Kita sebagai manusia.

Keajaiban Yang Senantiasa Menyertai

Kita lahir di dunia oleh Allah diciptakan dengan disertai keajaiban, bahkan saat ini saat kita membaca tulisan ini,  dan kami yang sedang menulis artikel ini kita sedang berkelimpahan dan disertai keajaiban-keajaiban sisi Allah. Keajaiban yang mungkin sering kita lupakan dan melupakannya. Saat bernafas saja, Allah telah menciptakan munculnya kehidupan kehidupan yang ada di dalam diri kita. Kehidupan sel yang terus berkembang, berjalannya detak jantung, distribusi Oksigen yang rumit di dalam pembuluh pembuluh darah kita, dan berbagai macam kewajiban yang lain yang Allah ciptakan. Baik yang kita sadari maupun yang tidak. Subhan yang mungkin akan sulit kita sadari sebagai manusia, udah lemah dan sering hanya fokus pada satu hal. Dan mudah larut dalam berbagai macam masalah.

Menemukan Keajaiban di Zona Kosong

Dengan mengingat kembali Fitrah kita yang ciptakan begitu lemah, mengingat kembali Fitrah Kita sebagai yang penuh keterbatasan, kita berupaya kembali melepaskan seluruh beban-beban dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah agar mengangkat beban beban itu dan menghilangkannya dari diri kita. Kita mengembalikan semua beban beban dan masalah itu kepada Allah. Sepenuhnya dan seluruhnya. Kita mengosongi diri kita dari semua asumsi-asumsi dan keterbatasan yang mungkin tidak bisa kita lakukan. Kemudian mengisi diri kita dengan sepenuhnya kemungkinan-kemungkinan terjadinya keajaiban, terjadinya pertolongan, dan terjadinya berbagai macam hal-hal yang mungkin di luar Nalar, yang mungkin Allah ciptakan untuk kita.

Perang Badar Yang Impossible

Adalah bukti keajaiban tatkala Allah  memenangkan kaum muslimin saat Perang Badar. Saat itu jumlah kaum muslimin dan kaum kafir perbandingan 1 dengan 3. Jumlah yang sebenarnya tidak mungkin peperangan bisa dimenangkan. Kaum muslimin berjumlah 333 melawan 1000 tentara kaum kafir. Sebuah misi yang hampir bisa dikatakan Impossible. Namun demikian Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Menghilangkan batas-batas kemanusiaan dan batasan-batasan pikiran. Terbukti, Kaum muslimin mampu mengalahkan secara telak peperangan Badar. Sebuah Kisah yang Allah ciptakan di dalam sejarah bisa kita jadikan sebuah inspirasi.

Perjalanan hati dan pikiran yang seringkali kita sebagai manusia lebih sering diliputi oleh nafsu dan ego, menjadikan sudut pandang ilahiyah ini benar-benar jadi samar dan tidak jelas. Kita lebih sering menilai segala sesuatunya dari sudut pandang kita. Kita lebih sering melihatnya dari kelemahan kita. Dengan keterbatasan pikiran dan hati kita, kesimpulan yang sering kita dapatkan adalah keterbatasan juga.

Janji Terkabulnya Doa

Beda halnya jika mungkin kita berangkat melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang jauh lebih luas, jauh lebih mengena, sudut pandang ilahiyah, kita akan menemukan segala sesuatunya menjadi mungkin. Bukankah Allah seringkali mengajarkan di dalam Alquran, juga menjanjikan kita sebagai kaum muslimin senantiasa berdoa untuk segala kebutuhan kita, doa kita akan diijabah oleh Allah? Sebuah ajaran yang kemudian barangkali sebagai manusia yang lemah, bisa kita terjemahkan bahwa Islam dan ajarannya menekankan kepada kita golongan Allah upaya dan cita-cita kita mungkin terwujud dengan pertolongan dan kekuasaan dari sisi Allah.

Ajaran Islam yang juga senantiasa mengajarkan kepada kita untuk berdoa setiap saat keperluan-keperluan kita. Ajaran yang juga mengingatkan kepada kita untuk ingat kepada Allah dan menyadari bahwa segala sesuatunya bergantung-Nya. Allah tempat bergantung, itulah kiranya terjemah bebas dari surat al-ikhlas ayat kedua. Setelah ayat pertama Allah menjelaskan bahwa Allah itu Allah itu Esa, sebagai sebuah sifat yang utuh dan melekat pasti kepadanya. Tidak ada Tuhan kedua, tidak ada tuhan ketiga, tidak ada Tuhan keempat, dan seterusnya, Allah kemudian menekankan kepada kita bahwa kepadanyalah segala sesuatu bergantung.

Dalam ungkapan hauqolah, kita sedang menafikan segala egoisme Dan Perasaan bahwa kita bisa, menuju fitrah keterbatasan kita sebagai hamba menuju satu, yaitu Allah. Mengembalikan pada hakikatnya nya segala sesuatu berasal dari-Nya. Dan dari ini kita berharap, allah menciptakan kekuatan, menciptakan Semangat, dan menciptakan keajaiban untuk kita.

Yakin akan Keajaiban

Sebuah ungkapan yang cukup terkenal, bahwa keajaiban datang bagi siapa yang percaya. Tentu saja tidak hanya percaya bahwa semua keajaiban itu benar-benar ada dengan kekuasaan dan kebesaran Allah. Akan tetapi mempercayai keajaiban itu berarti kita sedang menafikan kelemahan dan keterbatasan kita, dan percaya bahwa Allah mengubah segala sesuatunya menjadi mungkin. Karena bagi Allah, semuanya serba mungkin.

Mengharap Hujan Di Tengah Kemarau

Menemukan Keajaiban Dalam Keterbatasan

Salat Istisqo, sebuah ajaranyang juga mengajarkan kepada kita untuk percaya adanya keajaiban dan pertolongan. Bagaimana tidak, saat terjadi kemarau panjang dan banyak terjadi kekeringan, kita dianjurkan untuk menggelar sajadah bersama-sama di tengah tanah lapang, di bawah teriknya matahari, untuk bersama-sama bermunajat, memohon kepada Allah, mengharap dengan sepenuh hati akan satu keajaiban akan turunnya air hujan. Menemukan keajaiban di tengah teriknya kemarau.

Saat itu kita benar-benar yakin bahwa Allah akan menciptakan keajaiban-keajaiban, kemungkinan keterbatasan bahwa air tidak akan turun di tengah kemarau menjadi hilang, kita hanya yakin satu hal bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Kita yakin akan turunnya Air Hujan sepenuhnya. Kita benar-benar melupakan bahwa ketidakmungkinan turunnya air hujan menghilang dari diri kita.

Saatnya Flashback dan Menemukan Keajaiban

Mungkin ini saatnya kita mengembalikan, pola pikir keterbatasan manusia, kembali segala sesuatunya dari sisi ilahiyah. Jadikan segala sesuatunya lebih terberkati dan terisi. Menjadikan segala sesuatunya Memang benar-benar sebagai keajaiban yang datang dari-Nya. Dan yakin bahwa keajaiban-keajaiban itu akan ada dan terus ada, sebagai wujud dari rahmat dan kasih sayang Allah kepada kita. Dan kita menemukan keajaiban dalam kelemahan dan keterbatasan kita.

Wallahu A’lam Bishawab

%d bloggers like this: