08230 23 111 88 infoiwans@gmail.com

Perbedaan Wirid dan dzikir. Salah satu alasan kenapa kami membahas ini adalah teringat pembahasan kami dengan salah satu anggota ruqyah Madiun yang mengeluhkan dirinya sering pusing, atau merasakan sensasi lain saat berwirid. Kemudian dia menanyakan kepada terjadi demikian?

Wirid dan Dzikir, Sensasi Keduanya

Pada saat itu saya langsung menyampaikan menyampaikan satu pertanyaan mendasar terkait dzikir dan wirid sesuai yang saya mengerti. Karena kebiasaan membedakan antara keduanya akan mempengaruhi bagaimana seseorang merespon apa yang dibaca dan diamalkannya.

Wirid dan Dzikir, Perbedaan dan Persamaan

Respon Yang Difahami

Ketika seseorang memiliki wiridan dan beranggapan bahwa jika ia membaca wirid itu, dan mungkin saja sebab wirid itu akhirnya memiliki fadhilah tertentu, atau energi tertentu. Otomatis diri kita akan jauh lebih peka dengan hal-hal yang bersifat dan mengarah ke fadhilah dan energi. Tiba-tiba kita kemudian begitu peka dengan senasi-sensasi fisik dan non fisik, datangnya aliran energi dan lainnya.

Dengan merefram pola pikiran dan sudut pandang akan Wirid dan dzikir, kita akan bisa melihat keduanya dari sudut pandang yang jauh lebih baik. Walhasil, kita memaknai dan mengamalkannya juga dengan cara lebih tepat.

Beda Keduanya

Pertanyaan yang saya ajukan, “Apa bedanya antara wirid dan dzikir?”.

Jika kita merujuk pada beberapa referensi kita akan menemukan secara umum pengertian, jika dzikir kurang lebih artinya berarti menyebut, mengucapkan, mengagungkan, menyucikan, dan mengingat.

Jika kemudian kata dzikir ini disandingkan dengan nama Allah, menjadi dzikrullah, akan memiliki arti menyebut (nama) Allah SWT seraya mengingat-Nya. Konteks dzikir bisa kapan saja dan dimana saja. Tidak ada aturan khusus. Dan biasanya tujuannya hanya satu, ingat dan sadar Allah. Benar-benar dikhususkan untuk mengingat Allah saja tanpa ada tujuan lainnya.

Adapun wirid berarti datang, sampai, mendatangi, menyebutkan. Biasanya, wirid didesain khusus dengan bacaan, waktu dan jumlah tertentu. Penerapannya pun jauh lebih ketat dan punya aturan tertentu.

Oke, sampai disini saya memaknai secara umum saja. Jadi keduanya punya kesamaan. Yang membedakan hanya masalah jumlah, tempat, waktu dan lainnya. Kalau dzikir bisa bebas sesuai penjelasan sebelumnya.

Meski term seperti di atas, kami lebih setuju jika wirid itu tidak ditujukan untuk tujuan tertentu. Jadi benar-benar diusahakan sesuai tujuan dzikir. Mengingat Allah dan sadar Allah. Benar-benar saat membaca bacaan, tujuannya hanya untuk sadar dan ingat Allah.

Wirid dan Warid

Penetapan wirid atas diri seseorang oleh Allah dan kedawamannya menunjukkan betapa Allah menyayanginya. Dalam melihat fenomena warid ini, Syaik Ibnu Atha’illah menyebutkan;

 اِذاَ رَأيْتَ عَبْداً أقاَمهُ اللهُ تعالى بِوُجُودِ الاَورَدِ وَاَدَمَهُ عليهاَ مَعَ طُولَ الامساَدَ فَلاَ تـَسْتحْقِرَنَّ ماَمنَحَهُ مَولاهُ لاَنَّكَ لم تَرَعليهِ سِيماَ العاَرِفِينَ ولاَ بَهْجَةَ المُحِبِّينَ فَلولاَ واَرِدٌ ماكاَنَ وِرْدٌ

“Jika engkau melihat seseorang yang ditetapkan oleh Alloh dalam menjaga wiridnya, dan sampai lama tidak juga menerima karunia [keistimewaan] dari Alloh(warid), maka jangan engkau rendahkan [remehkan] pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Alloh, sebab sekiranya tidak ada warid [karunia Alloh], maka tidak mungkin ada wirid.”

Dari penjelesannya beliau, setidaknya kita bisa memahami jika wirid itu sebenarnya lekat dengan warid (anugrah, keutamaan Allah). Namun demikian, esensi tetapnya wirid atas diri seseorang itu adalah keutamaan itu sendiri.

Warid akan datang pada saatnya atau bisa dibilang bonus. Sementara Pemberian dan karunia Allah berupa wirid dan ketetapan-Nya adalah pemberian yang sebenarnya. Keutamaan yang jarang diberikan kepada hamba-Nya. Dan tatkala wirid datang, maka warid akan mengiringi. Wirid menjadi gerbang pertama menuju warid.

Titik Temu

Pada dasarnya keduanya sama-sama berdzikir. Akan lebih pas jika dzikir lebih jadi kebiasaan seperti halnya wirid. Dan wirid akan lebih pas jika dilakukan tanpa motivasi apapun seperti yang difahami masyarakat umumnya.

Keduanya sama-sama memiliki keutamaan menambah kesadaran akan Allah dan sifat-sifat-Nya. Menjadikan hati kita lebih peka akan Allah dan campur tangan-Nya dalam kehidupan. Membuat kita semakin sadar akan keberadaan-Nya dalam setiap detail langkah kita.

Keduanya, sama-sama membuat kita semakin diingat Allah. Dan kita pun akan semakin sering bersama-Nya. Keduanya, sama-sama memancarkan nur dari sisi-Nya. Menjadikan hati semakin terang dan lebih bercahaya.

“Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (QS. Al-Baqarah [2]: 152).

Suatu ketika Tsabit Al-Banani pernah berkata, “Saya tahu kapan Allah mengingatku.” Mendengar apa yang disampaikannya, orang pun mulai berpikir dan merasa khawatir akan kebenaran ucapan yang disampaikannya. Mereka bertanya, “Bagaimana kamu mengetahui jika Allah mengingatmu?” Tsabit pun menimpali, “Aku tahu, ketika aku mengingat Allah, maka Allah pun akan mengingatku.”

Hadits Qudsi menyebutkan, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku akan bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena Aku.” (HR. Baihaqi & Hakim).

Wallahu a’lamu bisshowab. Laa haula walaa quwwata illaa bilaah….

%d bloggers like this: