Dulu Mengetuk Pintu Mencari Murid, Kini Menangis Haru Jadi Juara: Kisah MTs. Ma’arif NU Pinrang yang Surplus Siswa di Tengah Keterbatasan
SUARATA, PINRANG – Hujan keras yang mengguyur Kelurahan Teppo, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, siang itu seolah tidak mampu menyurutkan gemuruh sorak-sorai yang pecah di lapangan. Jumat, 12 Juni 2026, menjadi hari bersejarah yang penuh dengan tetesan air mata bahagia bagi keluarga besar MTs. Ma’arif NU Pinrang.
Saat nama madrasah mereka menggema lewat pengeras suara sebagai Juara Umum Pekan Olahraga dan Seni Antar Madrasah (Porsema) VI Lingkup Kementerian Agama Kabupaten Pinrang, sang Kepala Madrasah, Hasniah, kehilangan kata-kata. Spontan, di tengah basahnya bumi Teppo, ia berlari ke tengah lapangan, menerobos kerumunan menuju barisan siswa dan gurunya, lalu tumpah ruah dalam pelukan hangat yang erat di bawah guyuran hujan.
Sambil menahan tangis bahagia yang berbaur dengan rintik air hujan, Hasniah mengungkapkan bahwa air matanya menetes karena rasa haru yang mendalam. Ia tidak menyangka, di tengah segala keterbatasan fasilitas yang dimiliki madrasah, kerja keras seluruh pihak mampu mengantarkan mereka menduduki kasta tertinggi di ajang bergengsi tersebut tahun ini.
Langkah kaki para siswa dan guru pun terasa begitu ringan saat pulang membawa piala bergengsi, menandai puncak dari perjuangan panjang, latihan malam yang melelahkan, dan dedikasi yang tak kenal waktu meski harus berhadapan dengan cuaca yang tidak menentu.
Dalam kompetisi yang berlangsung ketat selama lima hari sejak 8 Juni lalu, delegasi MTs. Ma’arif NU Pinrang memang tampil sangat mengesankan di berbagai cabang seni Islami. Mereka sukses menyapu bersih podium dengan meraih Juara 1 pada cabang Qasidah, Hifdzil Qur’an Putri, dan Tadarrus Putri. Selain itu, piala juga disumbangkan lewat raihan Juara 2 cabang Tadarrus Putra dan Hifdzil Qur’an Putra, serta Juara 3 untuk cabang Tari Kreasi. Keberhasilan memborong piala ini menjadi pembuktian nyata atas kualitas mutu pendidikan yang mereka bina selama ini.
Sebagai lembaga pendidikan formal yang bernaung di bawah bendera Nahdlatul Ulama, MTs. Ma’arif NU Pinrang memang dikenal sangat konsisten dalam menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Karakter moderat, santun, dan cinta tanah air yang melekat pada ajaran Aswaja ini diaplikasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari madrasah.
Nilai-nilai religius inilah yang kemudian membentuk mentalitas tangguh dan disiplin tinggi pada diri para siswa, sehingga mereka mampu tampil percaya diri dan bermental juara saat berhadapan dengan madrasah-madrasah lain di tingkat kabupaten.
Melihat kejayaan hari ini, sulit membayangkan bahwa beberapa tahun lalu madrasah ini sempat terseok-seok mencari siswa karena sepi peminat. Dulu, pemandangan Kepala Madrasah dan para guru yang harus berjalan kaki mengetuk pintu rumah-rumah warga demi memohon agar anak-anak mereka mau bersekolah di sini adalah rutinitas tahunan yang menguras energi dan air mata.
Namun, roda nasib akhirnya berbalik berkat kerja keras dan visi Hasniah, dedikasi tanpa pamrih para guru, serta dukungan penuh pihak yayasan yang tak pernah lelah membenahi kualitas madrasah berbasis nilai-nilai Aswaja ini.
Hasil dari konsistensi mutu tersebut kini berbuah manis dengan berbaliknya kepercayaan masyarakat Pinrang. Madrasah yang dulunya terancam sepi dan terlupakan, kini justru mengalami lonjakan peminat yang luar biasa pada setiap musim pendaftaran baru hingga resmi berada dalam kondisi surplus murid.
Namun, peningkatan jumlah siswa yang menjadi bukti nyata keberhasilan mereka dari masa-masa sulit dahulu, kini justru menghadirkan tantangan besar baru berupa krisis ruang kelas yang sangat mendesak menjelang bergulirnya Tahun Ajaran Baru 2026/2027.
Gedung madrasah yang ada saat ini sudah tidak lagi mampu menampung antusiasme murid yang mendaftar, termasuk anak-anak panti asuhan yang mempercayakan masa depannya di sini, sehingga krisis ruang kelas menjadi persoalan yang sangat mendesak. Hasniah sangat berharap agar MTs. Ma’arif NU Pinrang bisa segera mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun para dermawan untuk pembangunan gedung tambahan dua lantai.
Jika bantuan ruang kelas baru tidak kunjung datang dalam waktu dekat, ia mengaku terpaksa harus membuka kelas terbuka di teras depan madrasah agar proses belajar mengajar anak-anak tahun ajaran baru nanti tetap bisa berjalan, meskipun harus menghadapi risiko cuaca, seperti halnya hujan keras yang mengiringi kemenangan manis mereka di Teppo.
Kemenangan di bawah guyuran hujan Teppo ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan sarana bukanlah penghalang untuk melahirkan generasi juara. Selama asa masih menyala dan nilai-nilai luhur Aswaja tetap dijaga, dari teras madrasah sekalipun, akan selalu lahir para pemenang yang siap membanggakan umat dan bangsa. MTs. Ma’arif NU Pinrang telah menunjukkan bahwa perjuangan yang tulus tidak akan pernah mengkhianati hasil; mereka tidak hanya membangun gedung, tetapi sedang membangun peradaban. (***)

