Dataran Tinggi Parepare dan Prosepek Budidaya Kopi
Pola Agroforestry ini dilakukan dengan mengkombinasi tanaman pertanian, dengan tanaman kehutanan pada satu lahan dengan tujuan selain memiliki fungsi perlindungan/konservasi yang bagus juga memiliki fungsi ekonomi yang tinggi sebab produksi yang dihasilkan cukup beragam.
Jenis tanaman yang dibudidayakan oleh anggota KTH. Alam Jaya diantaranya, jambu mente, kemiri, kopi, kunyit, kayu manis, serta beberapa jenis tanaman kehutanan lainnya yang sudah tumbuh berpuluh tahun lamanya di lokasi tersebut, seperti jati lokal, cendana, mahoni, rotan.
“Untuk budidaya kopi robusta, ketinggian tempat yang dikembangkan di lokasi tersebut berada pada ketinggian 450 mdpl, lokasi yang sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman kopi robusta,” ujar Muhammad Ikhsan,Penyuluh Kehutanan UPTD KPH. Bila, Dinas LHK Provinsi Sulawesi Selatan,23 Februari 2025.
“Jumlah tanaman kopi robusta yang sudah dibudidayakan secara bertahap sebanyak 2.000 bibit tanaman yang sumber benihnya atau bibitnya didatangkan dan disemaikan langsung oleh anggota kelompok dengan lokasi persemaian berada di sekitar lokasi penanaman dimana lahan yang digunakan menanam kopi sekitar 4-5 hektar.
Meskipun tanaman ini masih baru dibudidayakan oleh anggota KTH. Alam Jaya namun produksi biji kopi robusta yang dihasilkan di tahun lalu mencapai 20 kg,”beber Ikhsan.
Ada hal menarik sebenarnya sekaitan dengan budidaya kopi di Kota Parepare yang dikembangkan oleh KTH. Alam Jaya yakni tumbuhnya inisiatif masyarakat atau anggota kelompok tani untuk ikut menanam kopi, salah satunya anggota KTH.
Massumpuloloe dimana sebagian besar anggota kelompok mereka menanam kopi robusta di luar kawasan hutan (APL atau kebun petani). Hal ini tentu akan mempengaruhi pola pengolahan lahan petani, dimana sebelumnya mereka harus menebang kayu di lahan mereka, namun dengan menanam kopi mereka cukup menjadikan kopi sebagai tanaman sela tanpa harus mengganggu vegetasi kayu atau tanaman keras yang ada disekitarnya.

