Dataran Tinggi Parepare dan Prosepek Budidaya Kopi

Dataran Tinggi Parepare dan Prosepek Budidaya Kopi

Konsep pengolahan lahan ini sangat tepat dilakukan di tengah gempuran alih fungsi lahan yang kian marak dilakukan. Tanaman kopi bisa diintegrasikan dengan tanaman pangan lainnya seperti cabai.

Bahkan oleh anggota KTH. Massumpuloloe mencoba memulai menanam kopi mengintegrasikan dengan tanaman jagung, dan saat ini dijadikan sebagai salah satu lokasi yang dipersiapkan sebagai percontohan pengembangan kopi yang terintegrasi dengan tanaman pangan di Kelurahan Watang Bacukiki.

Patut disukuri bahwa dukungan dari pemerintah setempat, mulai dari pemerintah kelurahan hingga kecamatan cukup besar, termasuk tokoh masyarakat terhadap pengembangan budidaya kopi dengan pola agroforestry seperti yang dikembangkan oleh kelompok kehutanan saat ini di Kota Parepare.

Beberapa komunitas pecinta lingkungan, dan mahasiswa telah banyak berkunjungan ke lokasi HKm baik yang melakukan penanaman pohon, magang ataupun melakukan penelitian seperti mahasiswa dari Universitas Hasanuddin Makassar.

Budidaya kopi robusta saat ini memiliki prospek yang cukup cerah untuk terus dikembangkan, apalagi di Kota Parepare industry kopi berkembang dengan pesat. Di sudut-sudut kota ramai dengan warung kopi, di hotel, kedai, café and resto hampir semua menyuguhkan menu kopi. Dan harus diakui bahwa, bahan baku kopi (biji kopi) yang ada dan tersebar di Kota Parepare sebagian besar berasal dari luar.

Potensi pasar inilah mestinya ditangkap oleh petani kita di Kota Parepare termasuk di daerah tetangga seperti Barru, dan Sidrap. Harga kopi yang terus stabil bahkan mengalami peningkatan di tahun lalu juga hendaknya menjadi penyemangat bagi petani atau anggota kelompok tani hutan untuk terus mengembangkan tanaman kopi.

Melalui pembinaan dan fasilitasi dari penyuluh kehutanan serta pihak UPTD KPH Bila, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan serta dari pihak Balai PSKL Kementrian Kehutanan terhadap kelompok tani hutan Alam Jaya dan KTH. Massumpuloloe di Kecamatan Bacukiki, telah memberi dampak terhadap pemberdayaan dan peningkatan pendapatan anggota kelompok. Selain itu, harapannya tentu dengan penanaman kopi serta tanaman kayu lainnya diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengendalian kerusakan lahan serta pengaturan tata air kita di Kota Parepare.

Harus diakui bahwa beberapa kendala masih terus dihadapi oleh anggota kelompok diantaranya akses lokasi yang cukup jauh, mereka melakukan perjalanan pendakian, kondisi topografi berbukit dengan jarak tempuh 2 – 3 jam jalan kaki, atau dengan motor trail atau motor yang sudah dimodifikasi dengan jarak tempuh skitar 30 menit dengan medan yang cukup berat.

Kondisi ini tentu menjadi kendala yang terus dirasakan oleh anggota kelompok. Di samping itu, aspek peningkatan nilai tambah hasil produksi masih terus perlu diupayakan, sebab sebagian besar anggota kelompok memproduksi kopi ataupun hasil kebun mereka seperti mente, kemiri dalam bentuk gelondongan. Ke depan tentu, pola-pola pembinaan akan terus diupayakan termasuk dengan membangun jejaring atau kolaborasi dengan pihak lain, utamanya pihak pengusaha.(*)

Bagikan: