“ODHA” Saudara yang Terbunuh oleh Stigma
SUARATA.Com,PAREPARE–Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Ah kedengarannya begitu menyeramkan, harus dihindari, tidak boleh ada sosialisasi, menakutkan, dia virus dan tak layak hadir di tengah masyarakat.
Kita-kira seperti itu pandangan sebagian besar masyarakat yang ketika mengetahui adanya penderita virus HIV/AIDS di sekitarnya.

Nampak kejam, tapi nyatanya ini yang terjadi. Bukan salah siapa atau ingin menyalahkan siapa, perspektif itu hadir akibat paham kelam yang telah lama usang, tapi terus saja dibelenggu oleh ketidakberdayaan masyarakat menerima kenyataan, bahwa ODHA tidak semenyeramkan itu.
Kasus HIV/AIDS pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1987. Perkembangannya begitu pesat, termasuk momok mengerikan yang tercipta di benak masyarakat terhadap penderitanya.
Sebenarnya penyebab utamanya karena jauh sebelum hari ini, masyarakat diberi informasi yang saya juga kaget waktu itu.
Katanya, virus HIV/AIDS tidak ada obatnya, virus ini sangat berbahaya karena mudah menular. Penularannya bisa lewat jabat tangan, kontak mata, pelukan bahkan sampai oleh udara, mematikan sekali bukan ?
Hingga akhir tahun 2024, jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHA) di Indonesia diperkirakan lebih dari 600.000 orang, dan tidak sedikit dari mereka sangat terisolir, didiskriminasi bahkan dianggap mati.
Ini imbas stigma atau pandangan buruk masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS. Sebegitu menakutkannya ODHA, sehingga dianggap tidak perlu mendapatkan perlindungan atau hak dasar sebagai manusia.
Faktanya, kemajuan besar telah dicapai dalam hal pengobatan HIV. Seperti kehadiran terapi ARV atau antiretroviral dan penanganan perkembangan bahkan pencegahan penyebaran virus ini.
Melalui tulisan ini diinformasikan fakta bahwa virus HIV tidak semudah itu tertularkan. Virus ini dapat tertular apabila seseorang melakukan hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan narkoba suntik, dari ibu ke anak dan transfusi darah yang terinfeksi.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) tidak semengerikan yang terbayang dan tidak semudah itu ditularkan.
ODHA adalah saudara, bukan ilusi kejam yang terbunuh oleh stigma dan sikap diskriminasi masyarakat. Seolah menutup mata dan telinga, kita menguatkan diri tak ingin menerima, malang sekali pikiran kita menyambut kenyataan “ODHA adalah saudara, mereka layak sembuh dan kuat bangkit”.
Berbagai upaya dan kolaborasi dari pemerintah maupun organisasi peduli HIV/AIDS terus digaungkan, semakin dihidupkan dan banyak semoga agar kita sama-sama kembali menerima.
Menyambut semangat juang saudara, ODHA pantas sehat, hidup dan penuh semangat.
Stigma dan diskriminasi jangan lagi memenjakan ODHA dari kehidupan dunia. Jangan biarkan berpangku diri, mari saling mengasihi.
Jangan Jauhi ODHA, karena HIV/AIDS tidak mudah menular!

