Teguh Iswara Suardi Tekankan Peran Strategis Insinyur Muda dalam Percepatan Pembangunan Nasional
SUARATA, Makassar – Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai NasDem, Ir. Teguh Iswara Suardi, ST., M.Sc, menegaskan bahwa percepatan pembangunan nasional tidak akan tercapai tanpa kesiapan sumber daya manusia (SDM) konstruksi yang kompeten dan adaptif terhadap tantangan zaman. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional bertema “Kesiapan SDM Konstruksi dalam Percepatan Pembangunan: Antara Kebutuhan Kompetensi dan Realitas Lapangan” yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Sipil Universitas Islam Makassar, Sabtu (20/12/2025).
Dalam paparannya, Teguh mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini masih menghadapi kesenjangan besar antara kebutuhan dan ketersediaan insinyur. Berdasarkan standar ideal, dibutuhkan sekitar 10.000 insinyur per satu juta penduduk, sementara realisasi saat ini baru mencapai sekitar 2.600 insinyur per satu juta penduduk.

“Artinya, Indonesia masih kekurangan ribuan insinyur di setiap satu juta penduduk. Ini peluang sekaligus tantangan besar bagi mahasiswa teknik untuk mengambil peran nyata dalam pembangunan,” tegas Teguh.
Sebagai Anggota Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur dan perhubungan, Teguh juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur yang terintegrasi, khususnya sistem transportasi publik antarmoda. Menurutnya, konektivitas antara kereta api, pelabuhan, bandara, dan angkutan publik merupakan kunci pemerataan ekonomi, efisiensi logistik, serta pengurangan kemacetan dan emisi karbon.
Ia mencontohkan pengalamannya bekerja di Belanda, di mana sistem transportasi publik yang terintegrasi membentuk budaya disiplin, efisiensi waktu, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pola commuting yang terencana.
“Transportasi publik bukan hanya soal mobilitas, tetapi membentuk budaya ketepatan waktu, produktivitas, dan keadilan akses,” ujarnya.
Politisi Dapil Sulawesi Selatan II juga menekankan bahwa pembangunan harus dilakukan secara inklusif dan berkelanjutan, dengan memperhatikan dampak lingkungan, akses bagi penyandang disabilitas, serta nilai-nilai kearifan lokal. Ia membagikan pengalaman profesionalnya sebagai arsitek yang mengintegrasikan Aksara Lontara dan filosofi budaya Bugis ke dalam desain bangunan modern, termasuk pada proyek-proyek internasional.
“Identitas budaya justru menjadi kekuatan bangsa. Pembangunan modern tidak boleh tercerabut dari akar lokalnya,” katanya.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Forum Insinyur Muda (FIM) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Sulawesi Selatan, Teguh turut mengajak mahasiswa untuk melanjutkan ke pendidikan profesi insinyur dan memiliki Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI). Ia mengingatkan bahwa sesuai regulasi, praktik keinsinyuran tanpa sertifikasi resmi tidak hanya membatasi peran profesional, tetapi juga berpotensi melanggar ketentuan hukum.
Melalui seminar ini, Teguh berharap lahir generasi insinyur muda yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, wawasan kebangsaan, dan komitmen membangun Indonesia secara merata.

