Kemenag Pinrang Hadirkan Live Podcast di Festival Internasional, Kupas Tuntas Kurikulum Berbasis Cinta
SUARATA, PINRANG — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pinrang menghadirkan Live Podcast “Publik Bertanya, Kemenag Menjawab” pada 1st Adventure Culture – Pinrang International Folklore Festival 2025, Ahad (23/11). Program ini menjadi ruang edukasi publik yang memadukan unsur budaya dan pendidikan dalam satu panggung dialog terbuka.
Live Podcast ini menjadi bagian dari upaya Kemenag Pinrang untuk menghadirkan layanan edukasi yang lebih dekat dengan masyarakat di tengah gelaran festival budaya bertaraf internasional. Kehadiran podcast tersebut menegaskan bahwa pendidikan dan budaya dapat berjalan beriringan untuk membangun masyarakat yang moderat, damai, dan berkarakter.

Acara menghadirkan dua narasumber utama: Kasi Pendidikan Madrasah (Pendmad) Kemenag Pinrang, Drs. Ramli Alias, M.A., dan Kepala MA Biharul Ulum Ma’arif sekaligus Sekretaris KKMA Pinrang, Arifuddin, S.Pd., M.Pd. Podcast dipandu oleh Asmega Masri, S.Pd.I., M.Pd., Guru MAN Pinrang.
Dalam dialog tersebut, Kasi Pendmad Ramli Alias menjelaskan secara mendalam konsep Kurikulum Berbasis Cinta, program strategis yang sedang didorong oleh Kementerian Agama RI. Menurutnya, kurikulum ini adalah pendekatan pendidikan yang menempatkan kasih sayang, empati, dan pembentukan karakter sebagai pusat pembelajaran, bukan hanya akademik.
“Kurikulum Berbasis Cinta menanamkan cinta kepada Allah, sesama manusia, ilmu, serta lingkungan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa tujuan kurikulum ini adalah membentuk peserta didik berakhlak mulia dan menjadi penyejuk di tengah masyarakat.
Dalam implementasinya, Seksi Pendmad melakukan bimtek, workshop, pendampingan, integrasi nilai cinta dalam RPP dan modul ajar, serta membangun budaya madrasah yang lebih ramah dan hangat. Kolaborasi dengan KUA, penyuluh agama, dan komite madrasah juga terus diperkuat.
Kepala MA Biharul Ulum Ma’arif, Arifuddin, memaparkan bagaimana madrasah mengintegrasikan nilai cinta dalam kegiatan belajar dan budaya sekolah. Menurutnya, guru didorong menerapkan pendekatan dialogis, penuh empati, memberi apresiasi, serta meminimalkan hukuman keras.
“Budaya madrasah kami bangun melalui salam–senyum–sapa, literasi akhlak, sedekah Jumat, dan kegiatan sosial,” jelasnya.
Ia memperkenalkan 5 Panca Cinta, yaitu cinta kepada Allah, Rasul, orang tua dan guru, sesama manusia, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini dipadukan dalam program harian, termasuk “Teman Penyangga”, gerakan peduli lingkungan, Jurnal Syukur Harian, dan kegiatan sosial rutin yang terbukti membentuk empati dan kedisiplinan tanpa paksaan.
Arifuddin menegaskan pentingnya keterlibatan guru dan orang tua demi keberhasilan kurikulum. Madrasah secara rutin mengadakan forum komunikasi dan pertemuan kolaboratif.
Sejauh ini, Kemenag Pinrang telah membina puluhan madrasah dalam penerapan Kurikulum Berbasis Cinta, dengan ratusan guru telah mengikuti bimtek dan workshop.
Live Podcast ini mendapat perhatian besar dari pengunjung festival yang antusias menyimak dialog hingga akhir. Materi lengkap dan rekaman siaran dapat diakses melalui kanal resmi Kemenag Pinrang untuk masyarakat yang tidak sempat hadir langsung.
Kehadiran Kemenag Pinrang dalam festival internasional ini menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan madrasah terus bergerak maju. Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan menjadi model pendidikan humanis yang mendorong lahirnya generasi yang berkarakter, moderat, dan siap menghadapi tantangan zaman. (***)

