Empat Tahun Mangkrak, IMM Desak Pemda Majene Segera Rehabilitasi SDN 16 Tanisi

Empat Tahun Mangkrak, IMM Desak Pemda Majene Segera Rehabilitasi SDN 16 Tanisi

SUARATA, MAJENE — Puluhan mahasiswa IMM STAIN Majene menggelar aksi protes di depan Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Majene, menuntut perbaikan segera terhadap SDN No.16 Tanisi yang rusak sejak bencana 2021. Pemerintah daerah dinilai lamban dan tidak transparan dalam menangani keterlambatan rehabilitasi sekolah tersebut.

Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) STAIN Majene turun ke jalan menuntut perhatian serius pemerintah terhadap SDN No.16 Tanisi, sekolah yang telah empat tahun terbengkalai pasca-bencana. Hingga kini, ratusan siswa masih belajar dalam kondisi yang jauh dari layak.

Dalam aksi tersebut, massa IMM membawa empat tuntutan utama yang ditujukan langsung kepada Pemerintah Daerah Majene. Tuntutan itu meliputi transparansi anggaran, penjelasan keterlambatan perbaikan, kejelasan langkah rehabilitasi, dan kepastian waktu pelaksanaan.

Koordinator lapangan aksi, Fahrim, menilai Pemda Majene telah menunjukkan kelambanan yang tidak wajar dalam perencanaan rehabilitasi. Ia menegaskan bahwa lambannya proses ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi mengancam masa depan generasi muda di wilayah terdampak bencana.

“Ini bukan sekadar soal bangunan yang roboh. Ini soal masa depan anak-anak di wilayah bencana. Mengapa sampai empat tahun Pemda tidak mampu memberikan jawaban konkret? Ini kelalaian yang tidak bisa ditoleransi,” tegasnya.

IMM juga menyoroti minimnya inisiatif pemerintah dalam mempercepat proses rehabilitasi, bahkan menganggap Pemda telah kehilangan sense of crisis terhadap kondisi pendidikan darurat tersebut.

Perwakilan IMM sempat berdialog dengan pejabat pemerintah daerah, namun pertemuan itu dianggap tidak menghasilkan kejelasan. Menurut IMM, Pemda tidak mampu menjelaskan alasan detail mengenai keterlambatan perbaikan sekolah selama empat tahun.

Saat massa meminta kepastian waktu dimulainya rehabilitasi, pemerintah disebut hanya memberi jawaban normatif tanpa komitmen konkret.

Pemerintah daerah memang menyampaikan bahwa perbaikan SDN No.16 Tanisi masuk agenda tahun 2026. Namun rencana tersebut ditolak IMM karena dianggap terlalu lama dan menegaskan lemahnya keseriusan pemerintah.

“Janji rehabilitasi tahun 2026 bukan jawaban. Itu justru menunjukkan pemerintah tidak serius menyelesaikan masalah yang sudah terlalu lama diabaikan,” kritik Fahrim.

IMM menegaskan bahwa kondisi sekolah yang rusak parah harus diperlakukan sebagai situasi darurat pendidikan, bukan sekadar angka dalam dokumen perencanaan.

Aksi demonstrasi ditutup dengan seruan keras agar Pemda Majene segera membuka seluruh informasi terkait proses rehabilitasi kepada publik. IMM mendesak pemerintah mempercepat langkah teknis agar siswa SDN No.16 Tanisi bisa kembali mengenyam pendidikan di ruang kelas yang layak.

Kasus mangkraknya perbaikan SDN No.16 Tanisi diperkirakan akan terus menjadi sorotan publik jika Pemda Majene tidak segera mengambil langkah nyata. IMM menyatakan akan mengawal isu ini hingga pemerintah memberikan kepastian waktu rehabilitasi yang jelas dan transparan. (***)

Bagikan: