Safari Ramadan 1447 H Jadi Ajang Muhasabah, Awalia Paparkan 5 Perkara Penggugur Pahala Puasa

Safari Ramadan 1447 H Jadi Ajang Muhasabah, Awalia Paparkan 5 Perkara Penggugur Pahala Puasa

SUARATA, PINRANG — Komitmen membangun generasi muda berkarakter kembali ditunjukkan oleh MA Biharul Ulum Ma’arif Suppa melalui program Safari Ramadan 1447 H. Senin, 23 Februari 2026, Siswi kelas XII MIPA 2, Awalia, tampil menyampaikan ceramah di hadapan jamaah Masjid Al-Qaniah, Dusun Butung, Desa Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang.

Bukan sekadar mengisi mimbar Ramadan, Awalia mengangkat tema yang relevan dengan tantangan moral umat, yakni “5 Perkara yang Merusak Pahala Puasa.” Dalam pembukaannya, ia memperkenalkan diri sebagai utusan madrasah dalam program Safari Ramadan, sekaligus menyampaikan rasa syukur atas kesempatan berdakwah di tengah masyarakat.

Awalia tercatat sebagai salah satu siswa yang mengemban amanah dalam Tim Safari Ramadan madrasah. Ia juga pernah menjabat sebagai pengurus OSIM serta Pradani Pramuka Ambalan Syekh Hasan–Aminah Pangkalan MA Biharul Ulum Ma’arif periode 2024–2025. Rekam jejak organisasinya itu menempa jiwa kepemimpinan dan kepercayaan diri, sehingga ia tampil mantap dan terstruktur saat menyampaikan tausiah di hadapan jamaah.

Ia menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menjaga integritas moral dan akhlak. Menurutnya, menjaga kualitas puasa berarti menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.

Lima perkara yang diuraikannya merujuk langsung pada dalil dalam Al-Qur’an sebagai penguat pesan dakwahnya.

Pertama, berdusta, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 70 tentang perintah berkata benar.

Kedua, ghibah (menggunjing), merujuk pada Surah Al-Hujurat ayat 12 yang melarang umat Islam saling menggunjing.

Ketiga, namimah (adu domba), sebagaimana diperingatkan dalam Surah Al-Qalam ayat 10–11 tentang larangan mengikuti orang yang gemar menyebarkan fitnah.

Keempat, pandangan yang tidak terjaga, sesuai Surah An-Nur ayat 30 yang memerintahkan menjaga pandangan.

Kelima, perkataan kotor dan menyakiti orang lain, sebagaimana Surah Al-Isra ayat 53 tentang anjuran berkata baik.

Sebagai penegasan, Awalia turut mengutip hadis riwayat Ibnu Majah yang menyebutkan bahwa banyak orang berpuasa namun tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan dahaga. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas puasa sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga lisan dan perilaku.

Sejumlah jamaah tampak menyimak dengan khusyuk dan mengapresiasi keberanian serta ketenangan Awalia dalam menyampaikan materi yang berbasis dalil dan tersusun sistematis.

Kepala Madrasah, Arifuddin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kesiapan siswa dalam mengisi mimbar Ramadan di tengah masyarakat.

“Safari Ramadan ini bukan sekadar program rutin OSIM, tetapi bagian dari proses pendidikan karakter. Kami ingin siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menjadi duta dakwah yang membawa nilai-nilai Islam yang menyejukkan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan Safari Ramadan merupakan program kerja rutin OSIM setiap bulan suci sebagai bentuk sinergi antara madrasah dan masyarakat dalam pembinaan generasi muda berakhlak mulia.

Pihak madrasah juga menyampaikan terima kasih kepada panitia dan pengurus Masjid Al-Qaniah atas kesempatan yang diberikan kepada Awalia. Mereka berharap kegiatan ini terus menjadi sarana pembentukan karakter dan penguatan spiritual peserta didik.

Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan moral generasi muda, mimbar Ramadan menjadi ruang strategis untuk menanamkan kembali nilai kejujuran, adab, dan tanggung jawab spiritual. Ceramah yang disampaikan Awalia bukan sekadar penyampaian materi, tetapi cerminan bahwa pendidikan madrasah mampu melahirkan generasi yang berani tampil, kuat dalam dalil, serta lembut dalam akhlak.

Safari Ramadan malam ke-6 ini menjadi bukti bahwa pembinaan karakter di madrasah berjalan nyata dan berkelanjutan. Dari mimbar-mimbar masjid, lahir harapan akan generasi yang tidak hanya berpuasa secara fisik, tetapi juga menjaga hati dan lisannya—sebuah langkah kecil yang bermakna besar dalam membangun masa depan umat yang lebih beradab dan bermartabat. (***)

Bagikan: