Teguh Iswara Suardi Tegaskan Peran Strategis Insinyur Muda dalam Akselerasi Infrastruktur Nasional
SUARATA, Barru- Anggota Komisi V DPR RI, Fraksi NasDem, Ir. Teguh Iswara Suardi, ST., M.Sc., menegaskan pentingnya penguatan peran insinyur muda dalam menunjang percepatan pembangunan nasional. Penegasan ini disampaikan saat menjadi pembicara pada Seminar Engineering yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, bertema “Penguatan peran, kompetensi, dan teknologi profesi untuk menjamin mutu proyek strategis nasional dan layanan perumahan publik.”
Teguh menyoroti peran Forum Insinyur Muda (FIM) sebagai garda depan regenerasi insinyur profesional. “FIM hadir membangun jaringan, meningkatkan kompetensi, dan memastikan insinyur muda siap memasuki dunia profesi yang semakin kompleks dan berstandar tinggi,” ujarnya. FIM membatasi anggota hingga usia 35 tahun untuk menjaga regenerasi yang kompeten dan beretika, sekaligus menjadi jembatan menuju PII dan membina mahasiswa melalui FAM.


Ia mengingatkan bahwa kebutuhan insinyur nasional masih jauh dari ideal. “Saat ini kita baru memiliki 2.600 insinyur per satu juta penduduk. Kebutuhan idealnya 10.000. Kekurangan ini harus kita jawab dengan percepatan kaderisasi dan peningkatan kualitas SDM,” tegasnya. FIM telah menyiapkan roadmap 2024–2027 yang berfokus pada penguatan SDM, pusat riset inovasi, penerbitan buku riset, hingga rencana inkubasi bisnis insinyur muda dengan pendekatan socio-engineering yang berkelanjutan.
Dalam hal regulasi, Teguh menekankan pentingnya sertifikasi profesi sesuai UU No. 11/2014 dan PP No. 25/2019. “Sertifikasi bukan sekadar administrasi, tapi perlindungan bagi masyarakat dan standar profesionalisme. Insinyur harus legal, kompeten, dan beretika,” ujarnya.

Sebagai Ketua FIM Sulawesi Selatan, Teguh menilai Sulsel memiliki potensi besar pada sektor smelter, pertambangan, pertanian, pariwisata hingga transportasi yang membutuhkan banyak insinyur muda. “FIM Sulsel kini menjadi wilayah paling aktif, dengan jaringan di 19 kabupaten/kota dan kemitraan 58 kampus teknik. Tugas kami memastikan calon insinyur siap terjun dan berkontribusi langsung,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pulihnya anggaran infrastruktur 2025 menjadi Rp100 sekian triliun membuka peluang besar bagi insinyur muda dalam proyek berskala besar maupun program infrastruktur berbasis masyarakat (IBM). “Program seperti air bersih, irigasi, jalan desa, hingga bedah rumah adalah laboratorium nyata bagi insinyur muda untuk mengasah pengalaman lapangan,” ujar Teguh.
Di sektor transportasi, Teguh menegaskan bahwa percepatan jaringan kereta api Makassar–Parepare dan integrasi antarmoda merupakan konsen yang terus ia suarakan dalam berbagai rapat dan forum resmi di DPR. “Transportasi terintegrasi akan membuka pusat-pusat ekonomi baru, mengurangi kemacetan, dan menurunkan emisi. Sulsel harus bergerak menuju mobilitas modern yang mampu menyatukan wilayah dan mempercepat pemerataan pembangunan,” tegasnya.
Teguh menutup paparannya dengan menekankan urgensi regenerasi insinyur muda di tengah tantangan lingkungan. “Masalah seperti banjir membutuhkan inovasi teknis dan pendekatan sosial budaya. Insinyur muda adalah kunci masa depan infrastruktur dan keberlanjutan daerah,” tutupnya.

